Masjid Penyengat Peninggalan Kerajaan Melayu Abad ke-19
Ketua Pengurus Masjid Raya Sultan Riau/ Masjid Raya Penyengat, Raja H Abdurrahman (kepri.antaranews.com/Henky Mohari)
Tanjungpinang (ANTARA News) - "Belum sah pergi ke Tanjungpinang, jika tidak singgah ke Pulau Penyengat. Belum sah bagi umat Islam yang sudah ke Tanjungpinang, jika belum menyempatkan diri untuk singgah dan sholat di Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat".
   
Itulah beberapa ungkapan sebagian warga Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), kepada tamu dari dalam maupun luar negeri.
   
Pulau Penyengat terletak di bagian barat. Pulau itu bersama bangunan kuning masjidnya sudah tampak dari pinggir laut Kota Tanjungpinang.

Penyengat dapat ditempuh lebih kurang 15 menit dengan menggunakan pompong atau sampan kapal motor kecil dari pelantar dermaga kecil di sebelah Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura.
   
Cukup merogoh kocek dan mengeluarkan uang Rp5.000, pengunjung sudah bisa sampai ke pulau yang menyimpan sejarah kebesaran Kerajaan Riau-Lingga pada abad ke-18 di ibu kota Provinsi Kepri itu.
   
Ada sekitar 17 situs sejarah Kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat.

Bangunan kuning Masjid Raya Sultan Riau dengan tembok anak tangga dan pinggiran melengkung di kiri-kanan, langsung menyambut siapapun tamu yang berjalan sekitar 100 meter dari pelabuhan beton Pulau Penyengat dari Tanjungpinang.
   
Masjid Sultan Riau, dibangun pada 1803 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah dan direnovasi oleh Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman pada 1832 Masehi.
   
Bangunan itu bertembok tebal. Masih kokoh dan terawat, seperti mengundang siapa pun yang beragama Islam untuk menunaikan ibadah shalat, selain mendapat informasi tentang sejarah masjid yang konon sebagian bahan bakunya berasal dari putih telur ayam.
   
"Masjid Raya Sultan Riau masih asli. Belum pernah dipugar sejak tahun 1832 Masehi," kata Ketua Pengurus Masjid Sultan Riau, Raja H Abdurrahman (62), dikediamannya yang tidak jauh dari masjid, Kamis (5/8-2010).
   
Laki-laki ubanan tersebut mengatakan, bangunan yang juga dikenal dengan nama Masjid Raya Penyengat  didirikan pada 1803, saat Sultan Mahmud Syah membenahi Pulau Penyengat yang merupakan benteng pertahanan pada masa Raja Ali Haji berperang melawan Belanda pada 1782 Masehi.
   
"Sultan Mahmud membenahi Penyengat untuk pusat bandar (kota) dan yang pertama sekali dibangun adalah Masjid Raya Sultan Riau," ujarnya.
   
Pulau yang mempunyai luas sekitar 240 hektare atau 3,5 kilometer persegi, terdiri atas dataran 40,8 hektare dan perbukitan seluas 192,2 hektare tersebut terus dikembangkan Sultan Mahmud Syah dengan membangun istana serta beberaoa bangunan pendukung hingga menjadi pusat kota.
   
"Pulau Penyengat dihadiahkan kepada Engku Putri sebagai mas kawin dari Sultan Mahmud Syah setelah semua fasilitas pendukung lengkap," jelas Abdurrahman.
   
Raja Hamidah atau Engku Putri menetap di Pulau Penyengat semenjak itu dan diberi kekuasaan oleh Sultan Mahmud Syah dengan menyerahkan alat-alat kebesaran Kerajaan Riau-Lingga yang salah satunya berupa Cogan.
   
Seiring perkembangan pusat perkotaan dan pertumbuhan penduduk Pulau Penyengat, maka direnovasilah Masjid Sultan Riau oleh Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman pada 1932 Masehi.
   
"Saat itu pada tanggal 1 Syawal 1249 H (1832 M), Raja Abdul Rahman menyeru rakyatnya untuk berjihad di jalan Allah (Fisabilillah) dengan membangun Masjid Sultan Riau lebih besar agar bisa menampung jamaah," kata Abdurrahman.
   
Seluruh warga Pulau Penyengat waktu itu secara bergotong-royong siang dan malam membangun Masjid dan juga dibantu oleh masyarakat sekitar, bahkan dari berbagai daerah kekuasaan Raja Abdul Rahman.
   
"Kaum perempuan bekerja di malam hari dan laki-laki bekerja pada siang hari. Fondasi masjid bisa diselesaikan selama tujuh hari tujuh malam," ujarnya seolah-olah bisa mengenang waktu pembuatan Masjid Raya Sultan Riau.


Putih telur
   
Bantuan makanan, berupa lauk-pauk, sayur-sayuran dari berbagai penjuru juga datang untuk pekerja yang membangun masjid, termasuk telur ayam kampung yang jumlahnya mencapai beberapa kapal tongkang, perahu muatan barang.
   
Saking banyaknya telur ayam, pekerja hanya mengambil bagian kuning untuk dimakan dan membuang putihnya.
   
"Saat itulah arsitek masjid asal India yang didatangkan dari Singapura, memanfaatkan putih telur sebagai bahan campuran pasir, tanah liat dan kapur," jelasnya.
   
Padahal menurut dia, tidak ada rencana dari arsitek itu untuk membangun dengan putih telur.

Saat itu, Yang Dipertuan Muda memerintahkan rakyat mencari telur burung layang-layang di tukong-tukong (goa batu) di Laut Natuna dan Lingga sebagai persiapan jika putih telur ayam kampung tidak mencukupi.
   
"Telur burung layang-layang tidak jadi digunakan karena telur ayam kampung mencukupi untuk membangun masjid seluas 20x18 meter yang masih kokoh dan berfungsi hingga saat ini," kata Abdurrahman.
   
Dinding bangunan masjid cukup tebal. Diperkirakan mencapai sekitar 40 centimeter.
   
Menurut Abdurrahman, lama pengerjaan Masjid Sultan Riau tidak tercatat dalam sejarah, kecuali bahwa lama pengerjaan pondasi setinggi lebih kurang 3 meter selama tujuh hari tujuh malam.
   
"Semula warna bangunan Masjid Sultan Riau putih. Saat ini sudah dicat dengan warna kebesaran Melayu,  kuning dipadu dengan hijau sebagai warna kebesaran umat Islam," katanya.
   
Di sisi kiri kanan masjid terdapat bangunan tambahan yang disebut dengan sotoh (tempat pertemuan), sehingga luas keseluruhan kompleks Masjid Sultan Riau mencapai 54,5 x 23,5 meter.

Simbol rakaat shalat
   
Ruangan dalam Masjid Sultan Riau bisa dibagi lima, yang menurut Abdurrahman sebagai penanda Rukun Islam ada lima, dengan ditopang empat tiang beton berdiameter sekitar 1 meter yang menggambarkan Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, "Barang siapa mengenal yang empat, maka dia itulah orang yang ma'rifat".
   
Empat tiang tersebut juga menandakan Islam mempunyai empat mazhab, yaitu Hambali, Maliki, Syafi'i dan Hanafi.
   
Di atap Masjid Sultan Riau ada 13 kubah yang diartikan sebagai penanda rukun shalat lima waktu ditambah dengan empat menara tempat bilal mengumandangkan azan yang diperkirakan setinggi 18 meter.
   
"Jika digabungkan 13 kubah dengan empat menara menandakan jumlah rakaat shalat lima waktu sebanyak 17 rakaat," kata Abdurrahman.
   
Corak pada bagian dalam 13 kubah tersebut juga berbeda satu sama lainnya. Ada yang berbentuk bulat, segi tiga, segi lima, segi empat dengan lonjong ke atas, yang diartikan sebagai shalat lima waktu memiliki jumlah rakaat yang berbeda.


Tulisan tangan
   
Masjid Sultan Riau sudah berumur lebih kurang 207 tahun, tetapi masih menyimpan beberapa peninggalan sejarah yang memiliki nilai tinggi, antara lain dua buah kitab Alqur'an tulisan tangan pada tahun 1752 Masehi dan tahun 1867 Masehi.
   
Kitab Alqur'an tulisan tangan pada tahun 1752 merupakan karya Abdullah Al Bugisi. Sedang kitab Alqur'an 1867 merupakan karya Abdurrahman Istambul, putra Riau yang disekolahkan ke Istambul oleh Raja dan menulis Alqur'an sesampai di Penyengat.
   
Alqur'an tulisan tangan Abdurrahman Istambul masih bisa dilihat di dalam masjid.

Karya itu dipajang di dalam lemari kaca persis didepan pintu masuk, sedangkan karya Abdullah Al Bugisi tidak bisa dilihat lagi dan disimpan karena sudah rusak dan rapuh.
   
"Alqur'an tulisan tangan Abdullah Al Bugisi sudah rusak, tulisan ayat-ayatnya seperti terbakar dan tidak bisa dibaca lagi, sedangkan bagian pinggir kertasnya masih utuh," kata Abdurrahman yang sehari-hari mengurus Gurindam Center.
   
Selain Alqur'an tulisan tangan, peninggalan sejarah yang ada di masjid tersebut berupa mimbar dari Demak untuk khatib.

Mimbar berbahan kayu jati ukiran Jepara itu masih difungsikan untuk khatib shalat Jumat dan hari raya.
   
Lampu kristal pada tahun 1860-an masih terpasang di salah satu bagian kubah masjid. "Itu hadiah dari Kerajaan Pruisia (Jerman)," kata Abdurrahman.
   
Kitab-kitab kuning juga masih banyak tersimpan di Masjid yang hampir setiap harinya ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun dari Malaysia dan Singapura, apalagi menjelang puasa dan pada saat lebaran untuk beribadah dan melihat situs di Pulau Penyengat.

Hari besar Islam
   
Di Masjid Raya Penyengat juga sudah menjadi tradisi memperingati hari-hari besar Islam, seperti 1 Muharram yang ditandai dengan berkeliling kampung selama tiga hari pada malam hari dengan Ratib Saman.
   
"Tujuannya untuk pembersihan kampung dari hal-hal yang tidak baik, seperti mengazankan tempat-tempat yang dianggap angker," kata Abdurrahman.
   
Pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, warga juga berkeliling kampung sebelum membacakan surat Barzanji di Masjid.
   
Selain itu juga pembacaan hikayat Isra Mi'raj saat peringatan Isra Mi'raj.
   
"Beberapa hari sebelum  bulan Puasa juga dilakukan Kenduri Jamak yang diikuti seluruh warga Penyengat dan warga lain di Masjid Sultan Riau," katanya.
   
Masjid Raya Sultan Riau atau Masjid Raya Penyengat, ditetapkan pemerintah sebagai benda cagar budaya bersama 16 situs sejarah lainnya di Pulau milik Engku Putri itu.
   
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Abdul kadir Ibrahim, mengatakan, pemerintah bersama warga Pulau Penyengat tetap berusaha melestarikan peninggalan sejarah Kerjaan Riau-Lingga du pulau itu.
   
"Kami juga telah mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Kepri untuk menata lingkungan masjid yang satu-satunya di Indonesia memakai bahan baku putih telur, agar lebih baik dan keasliannya tetap terpelihara," ujar Abdul Kadir yang biasa disapa Akib.
   
Upaya pelestarian benda-benda cagar budaya di Pulau Penyengat dalam pengawasan Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, serta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar Sumatra Barat, dan Balai Arkeologi Medan. (HM/Btm1)