Jumat, 23 Juni 2017

Kentang Impor "Banjiri" Batam

id Kentang, Impor, Banjiri, Batam, china, india, bangladesh
Batam (ANTARA Kepri) - Komoditas kentang impor dari China, India, dan Bangladesh "membanjiri" Kota Batam, kata Kepala Seksi Karantina Tumbuhan, Kantor Karantina Otorita Batam, Aris Zulhan.
       
"Setiap bulan jumlah kentang impor yang masuk ke Batam sekitar 80 ton. Sementara kentang lokal yang masuk dan tercatat di karantina hanya sekitar 30 ton," katanya di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis.
       
Aris mengatakan, ada perbedaan yang cukup mencolok antara kentang impor dan kentang lokal dari Sumatra atau Jawa.
       
"Warna kulitnya sangat berbeda. Kentang lokal cenderung lebih gelap, sedangkan kentang impor terutama asal China warnanya kuning mengkilap," kata dia.
       
Selain kentang impor, kata Aris, kebutuhan buah di Batam, seperti semangka, jeruk, melon, durian, pisang juga di impor dari Malaysia, China, Singapura, dan Thailand.
       
Walaupun kentang impor membanjiri Batam, namun pedagang mengaku warga cenderung lebih memilih kentang lokal.
       
"Pembeli lebih memilih kentang lokal, karena mereka tahu kualitasnya lebih bagus," kata pedagang sayur-mayur di Pasar Mitra Raya Batam Centre, Sulaiman.
       
Menurut Sulaiman, kentang lokal asal Medan yang beredar di Batam jauh lebih tahan lama dibanding kentang impor.
       
"Kentang impor tiga hari sudah layu, sementara kentang lokal tahan hingga dua minggu," kata dia.
       
Sebagai pedagang, kata Sulaiman, ia tidak mau ambil risiko menjual kentang impor walaupun harganya lebih murah.
       
"Harganya selisih hingga Rp4.000/kg. Namun resikonya juga besar karena tidak tahan lama dan tidak diminati," tambah dia.
       
Menurut Sulaiman, harga kentang lokal Rp10.000-Rp12.000/kg sedangkan kentang impor Rp6.000-Rp8.000/kg.
       
Sulaiman mengatakan, setiap minggu ia rata-rata bisa menjual sebanyak 300 kg kentang lokal.
       
Santo, pedagang Nasa Centre yang menjual kentang impor asal China mengatakan peminat kentang tersebut tidak terlalu besar.
       
"Pembeli tahu, kentang China hanya menang di warna saja. Tapi kualitasnya kalah dengan kentang lokal," tambah dia.
       
Pedagang menduga, kentang impor yang masuk ke Batam sebagian besar digunakan olah rumah makan atau restoran besar.
(pso-292/F002)

   

Editor: Jo Seng Bie

COPYRIGHT © ANTARA 2011

Baca Juga