Batam (ANTARA Kepri) - Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi  Ulubelu Unit I dan II di Lampung yang dibangun PT Rekayasa Industri mulai beroperasi pada Desember 2012.
       
"PLTP Ulubelu I dan II di Lampung akan beroperasi Desember tahun ini," kata GM Business Marketing Geothermal and Power PT Rekayasa Industri Mohammad Manthovani di Batam, Jumat.
       
PLTP Ulubelu memiliki kapasitas 2 x 55 megawatt diharapkan dapat menjadi solusi kelistrikan di Lampung.
       
Ia mengatakan PLTP Ulubelu membuktikan PT Rekayasa Industri sebagai perusahaan engineering, procurement, construction nasional yang andal dalam pengembangan energi panas bumi.
       
Ia mengatakan Rekind menjadi satu-satunya EPC nasional yang bisa membangun PLTP dengan kapasitas besar.
       
Selain PLTP Ulubelu, Rekayasa Industri tengah mengikuti tender pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi, di antaranya Unit 1 30 MW, Kamojang 35 MW, dan Ulubelu Unit 3 dan 4 2x55 MW.
       
"Rekind satu-satunya EPC nasional yang ikut, sedang yang lainnya 'foreign'. Kalau ada yang nasional, itu bermitra," kata dia.
       
Semua Commercial Operational Date ditarget pada 2014.  Rekayasa Industri, kata dia, optimistis memenangkan tender-tender itu.
       
Sebelumnya, PT Rekayasa Industri Persero (Rekind) memenangi tender kontraktor pelaksana "engineering, procurement, and construction" (EPC) proyek revitalisasi Kilang LNG Arun menjadi Receiving and Regasification LNG Terminal.
       
Proyek revitalisasi kilang LNG Arun menjadi Receiving and Regasification LNG Terminal direncanakan memiliki kapasitas total 400 MMscfd. Pasokan gas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh industri pupuk, bahan bakar listrik, dan industri di Aceh dan Sumatera Utara.
       
Pasokan sebanyak 140 MMscfd untuk PLN dari LNG Tangguh yang rencananya akan disuplai melalui Receiving and Regasification LNG Terminal Arun masih dalam pembahasan mengenai harga di pemerintah. Pertamina telah menyatakan minat untuk membeli LNG domestik bagi keperluan proyek tersebut kepada produsen LNG Tangguh dan pemerintah.(*)

Editor: Dedi