Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Gubernur Kepulauan Riau H Muhammad Sani menyatakan, sebanyak 24 dari 48 indikator pencapaian Milenium Development Golds (MDGs) sudah tercapai hingga tahun 2012, dan sisanya diharapkan dapat dilaksanakan secara maksimal pada 2014.
       
"Kami berharap 48 indikator MDGs bisa tercapai akhir 2014. Sebanyak 24 indikator yang belum tercapai terdiri dari 14 akan tercapai dan 10 indikator perlu perhatian khusus," kata Sani saat Rapat Pencapaian MDGs di Kantor Pemerintah Kepri, di Dompak Tanjungpinang, Selasa. 
  
Hadir dalam rapat itu Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, Walikota Tanjungpinang Lis Darmasyah, Wakil Bupati Bintan Khazalik, Wakil Bupati Anambas Amat Yani dan Sekda Lingga, sedangkan Bupati Karimun Nurdin Basirun atau yang mewakilinya tidak tampak dalam pertemuan itu.
        
Hadir juga Kepala Bappeda se-Kepulauan Riau, Kepala Dinas Pendidikan, Kadis Kesehatan dan Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan se-Kepulauan Riau.
       
Indikator MDGs yang perlu mendapat perhatian khusus itu adalah proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat konsumsi minimum 1.400 Kkal/kapita/hari.
       
Proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat konsumsi minimum 2.000 Kkal/kapita/hari, rasio APM  perempuan/laki-laki di SMA, angka pemakaian kontrasepsi/CPR bagi perempuan menikah usia 15-49 (semua cara) dan angka pemakaian kontrasepsi/CPR bagi perempuan menikah usia 15-49 (cara modern).
       
Selain itu, kata dia, cakupan pelayanan antenatal (empat kali kunjungan), prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total populasi, proporsi jumlah penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS, angka kejadian dan tingkat kematian akibat malaria dan proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak, perdesaan.
       
"Itu sepuluh indikator yang perlu mendapat perhatian khusus oleh pemerintah," ujarnya.
       
Terkait hal itu, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan mengatakan, ada delapan indikator yang perlu mendapat perhatian khusus, terutama masalah ketenagakerjaan. Pertumbuhan tenaga kerja cukup laju di daerah ini dan lapangan kerja memang terbuka, namun banyak yang dating adalah warga yang "unskillable". Dahlan pun pernah bercerita ketika diadakan bursa kerja, dengan lima ribu lowongan, hanya lebih 3000-an yang terisi.
       
Untuk masalah tenaga kerga, gubernur menyebutkan di Batam memang sangat tinggi. Untuk itu, Kepri harus punya BLK yang dapat membuat anak-anak Kepri bisa bertambah keahliannya, sehingga bisa mengisi kesempatan kerja yang ada.
       
Sementara, untuk indikator yang tercapai, rata-rata di Kepri sudah melebihi persentase nasional, seperti tingkat kemiskinan berdasarkan garis kemiskinan, indeks kedalaman kemiskinan, indeks keparahan kemiskinan, laju pertumbuhan PDRB untuk setia[ tenaga Kerja, rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas, proporsi tenaga kerja Yang berusaha sendiri dan pekerja bebas keluarga terhadap total kesempatan kerja, prevalensi balita dengan berat badan lahir rendah/kekurangan gizi, prevalensi balita gizi buruk dan prevalensi balita gizi kurang.
       
Indikator lainnya yang tercapai adalah proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan SD/MI, rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok Usia 15-24 Tahun, kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertanian, proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPRD,  angka kematian balita (AKBA) per 1.000 kelahiran hidup, angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, angka kematian neonatal per 1.000 kelahiran hidup, angka pemakaian Kontrasepsi/CPR bagi perempuan menikah usia 15-49 cara tradisional, cakupan pelayanan antenatal, "unmeet need", penggunaan kondom pada hubungan seks beresiko tinggi terakhir, proporsi jumlah kasus tubercolosis yang terdeteksi dan diobati dalam program DOTS.
       
Selain itu, ada juga indikator, proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak, perkotaan, proporsi rumah rangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak, perkotaan dan perdesaan, proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak, perdesaan.
       
Untuk indikator yang akan tercapai, antara lain tingkat kemiskinan berdasarkan indikator kemiskinan (kemiskinan mikro, angka partisipasi murni sekolah dasar, angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun, perempuan dan laki-laki, angka melek huruf penduduk usia 15-24 Tahun, laki-laki dan angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun, perempuan.
       
Indikator lainnya yang akan tercapai, yaitu rasio APM perempuan/laki-laki di SD, rasio APM perempuan/laki-laki di SMP, persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak, angka kematian ibu Per 100.000 kelahiran hidup, proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan terlatih, proporsi anak balita yang tidur dengan kelambu berinsektisida, proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak, perkotaan dan perdesaan, proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak, perkotaan  dan proporsi rumah tangga kumuh perkotaan.(*)

Editor: Dedi