Jakarta (Antara Kepri) - Pimpinan Qatar Charity (Jamiatul Qatarul Khairiya) Yusuf bin Ahmad Al-Kuwari turun langsung meresmikan tiga proyek infrastruktur di Serang, Tangerang dan Bandung dalam tiga hari dari kunjungan lima harinya di Indonesia awal Februari 2013.
       
Di bawah terik matahari, Yusuf  berbusana khas yang biasa dikenakan orang-orang Arab di negara-negara di Teluk dan disertai antara lain oleh Direktur Qatar Charity Indonesia (QCI) Lahcen Azekour meninjau kompleks pendidikan terpadu Al-Izzah di Serang, yang mendapat bantuan dana lebih Rp1 miliar.
       
Proyek ini yang masih dalam proses pembangunan merupakan salah satu dari 360 proyek yang telah dijalankan QCI di Provinsi Banten. Proyek lainnya antara lain 21 masjid, satu klinik, satu sekolah, tiga kompleks pendidikan terpadu, 326 sumur, 16 rumah dan satu sumur dalam.
       
Selain itu lembaga kemanusiaan internasional ini juga menjalankan proyek Madrasah Sehat bagi 50 madrasah di Banten dalam bentuk pembangunan 150 toilet, 50 tempat cuci tangan, promosi kesehatan dan penyediaan alat promosi kesehatan.
     
"Qatar Charity melalui perwakilannya Qatar Charity Indonesia akan memberikan perhatian besar pada Indonesia," kata Yusuf kepada ANTARA seusai meninjau kompleks pendidikan terpadu Al-Izzah.
       
Hingga akhir tahun 2012, QCI telah melaksanakan lebih 2.000 proyek di Indonesia dan 459 di antaranya dalam bentuk pembangunan masjid.
        
Program inti QCI lainnya adalah pemberdayaan ekonomi dengan mengembangkan 1.559 proyek di lima provinsi, pengembangan dan dukungan untuk keluarga dan anak dengan lebih 1.700 penerima manfaat, air bersih dan sanitasi dengan lebih 1.500 proyek serta tanggap bencana.
        
Direktur QCI Lahcen Azekour mengatakan pembangunan kompleks pendidikan ini terkait dengan tujuan QCI untuk berpartisipasi dalam upaya mencapai tujuan kedua dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yaitu menjamin pada tahun 2015 semua anak, laki-laki maupun perempuan di mana pun berada dapat menyelesaikan pendidikan dasar.
        
Di Indonesia, Qatar Charity memulai partisipasinya dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh setelah tsunami melanda tahun 2005. Atas izin dari pemerintah, QCI resmi memiliki kantor di Jakarta sebagai pusat pengendali kegiatan-kegiatan setahun kemudian.
        
Hingga kini QCI bekerja di sembilan dari 33 provinsi di Indonesia, melalui cabang-cabangnya dan mitra-mitranya di Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Yogyakarta dan Nusa Tenggara Barat.  Kehadiran QCI di kawasan-kawasan ini lebih banyak didorong oleh bencana alam dan kebutuhan kemanausiaan. 
  
Selain di Indonesia, Qatar Charity (QC) sebagai lembaga swadaya masyarakat yang didirikan pada 1992 untuk pengembangan komunitas Qatar dan banyak komunitas yang membutuhkan, juga memiliki kantor perwakilan di 18 negara. QC telah memiliki status konsultatif dengan badan PBB ECOSOC sejak 1997.
   
Qatar Negara Kaya
   
Qatar yang GDP-nya senilai 173 miliar dolar AS sesuai dengan laporan yang dikeluarkan Bank Dunia tahun 2011 adalah salah satu negara kaya di kawasan Teluk. Penghasilan utamanya berasal dari minyak dan LNG.
        
Dengan penduduk asli sebanyak 300.000 orang dan warga negara asing yang berjumlah lebih satu juta jiwa, QC berhasil menghimpun dana jutaan dolar yang kemudian disumbangkan untuk masyarakat yang membutuhkan di negara-negara lain.
        
Abdurrahman Syebubakar, yang memiliki hubungan kerja dengan QCI, berpendapat kehadiran QC di Indonesia sejak beberapa tahun lalu telah memberikan cukup banyak kontribusi dalam upaya meringankan beban kehidupan kelompok-kelompok masyarakat di beberapa daerah di Indonesia.
        
Menurut dia, bantuan dari QC akan membawa dampak besar dan jangka panjang ketika dikombinasikan dengan pendekatan pemberdayaan yang menekankan aspek ketahanan atau kemandirian individu dan kelembagaan kelompok-kelompok masyarakat.
        
"Pelibatan Pemerintah Daerah secara aktif juga akan memperkuat efektifitas dan menjamin kesinambungan program-program QC," kata Abdurrahman, pimpinan Indonesian Institute for Democracy Education (IDE).
        
Diharapkan ke depan, QC akan memperluas jangkauan program bantuannya di Indonesia sehingga akan lebih banyak lagi kelompok masyarakat kurang mampu yang akan memperolah manfaat untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian sosial-ekonomi mereka.
        
Di antara mereka yang memperoleh manfaat dari QCI adalah Azmir, 31 tahun, dan Ainul Mardiah, 32 tahun. Pasangan suami-istri asal NAD ini penyandang cacat.  Azmir adalah tuna rungu sekaligus tuna wicara sementara istrinya memiliki dua lengan yang tak sempurna. Sejak menikah pada 2007 dan kini dikarunia dua anak, Azmir bekerja sebagai penjaga sekolah.
        
Sesuai bakat, kemampuan dan pengajuan dari Azmir, bantuan dari QCI digunakan untuk membangun usaha mebel. Kini Azmir telah mempekerjakan satu pemuda desa dan terus menerima pesanan mebel dalam bentuk pintu, kusen, lemari, dan meja.
        
Pada tahun lalu QCI menyerahkan secara langsung bantuan modal usaha kepada delapan keluarga tak mampu yang tersebar di Kabupaten Aceh Besar, NAD,. Bantuan modal usaha ini terdiri atas empat mesin jahit, tiga mesin border dan perlengkapan pendukungnya, satu induk sapi beserta anak sapi berumur setahun, satu unit motor roda tiga untuk angkutan barang.
        
"Bantuan ini bertujuan agar keluarga penerima manfaat dapat meningkatkan pendapatan dan kesejehteraan mereka," kata Azekour.(*)