Jumat, 23 Juni 2017

Dinas Perpustakaan Arsip Kepri Bedah Buku Kemaritiman

id Dinas,Perpustakaan,Arsip,Kepri,Bedah,Buku,Kemaritiman
Setelah memperoleh data, apakah tugas jurnalis itu selesai? Belum. Mereka mesti mencari pulau lainnya untuk mengejar sinyal ponsel agar dapat mengirim atau melaporkan hasil liputannya
Batam (Antara Kepri) - Dinas Perpustakaan dan Arsip Kepulauan Riau menggelar bedah buku "Pena di Batas Negeri: Catatan Jurnalisme Kemaritiman" karya tiga penulis termasuk pewarta LKBN Antara Nikolas Panama, sempena peringatan Hari Buku Nasional.

"Buku tersebut tidak hanya sekadar cerita tentang pengalaman jurnalis saat bertugas di perbatasan, melainkan juga memiliki nilai akademis. Buku ini memuat panduan menulis berita kemaritiman, juga kaya dengan informasi terkini tentang wilayah Kepri, yang memiliki 22 pulau terdepan dan 1.796 pulau," kata Niko saat dihubungi dari Batam, Rabu.

Selain Niko, buku tersebut juga ditulis oleh Trisno Aji Putra, dosen jurnalistik di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) yang juga mantan jurnalis dan Ahada Wahyusari, dosen linguistik di FKIP UMRAH.

"Buku ini juga berisi panduan penulisan mengenai kemaritiman. Kami ingin mendorong agar ada rubrik khusus mengenai kemaritiman pada media massa di Kepri maupun daerah lain mengingat pemerintah berkeinginan menjadikan kemaritiman masa depan bangsa," kata dia.

Menulis berita dari liputan tentang kemaritiman tidak selalu mudah, berbeda dengan jurnalis yang bertugas di kantor pemerintahan, pasar maupun kampus. Jurnalis maritim lebih sering berinteraksi dengan nelayan, aparat keamanan yang bertugas di pulau terdepan maupun mewawancarai pelaku kejahatan di perairan.

Saat berada di pulau yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, mereka tidak melihat ada pejabat yang mengenakan pakaian rapi, berdasi dan wangi.

"Satu berita tentang kemaritiman terkadang dihasilkan dari liputan yang penuh tantangan, dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Bisa sehari, dua hari bahkan seminggu untuk menghasilkan liputan dengan berita yang lengkap, dan disukai pembaca," kata Niko.

Liputan tentang kehidupan sejumlah orang yang tinggal di pulau-pulau terdepan yang jauh dari pusat keramaian, misalnya, harus dilalui jurnalis, meski dalam kondisi cemas.

"Mau atau tidak mau mereka berhadapan dengan gelombang yang tinggi selama perjalanan menggunakan kapal perahu yang berukuran relatif kecil," kata dia.

Jurnalis itu juga harus beradaptasi, membuat nyaman orang tempatan yang mungkin menganggap dirinya sebagai orang asing yang perlu diwaspadai.

"Setelah memperoleh data, apakah tugas jurnalis itu selesai? Belum. Mereka mesti mencari pulau lainnya untuk mengejar sinyal ponsel agar dapat mengirim atau melaporkan hasil liputannya," kata Niko.

Menurutnya, begitu rumit meliput di kawasan perbatasan maupun pulau-pulau yang berada jauh dari hiruk-pikuk keramaian, tetapi kisah itu nyaris tidak tersentuh dalam ingatan pembaca.

"Kisah menarik, pengalaman selama liputan masih langka diabadikan di dalam buku. Termasuk di Kepri, wilayah yang diakui berbagai pihak, unik, belum pernah memuat kisah jurnalis maritim," lata dia.

Ia mengatakan Kepri merupakan satu dari delapan provinsi kepulauan di Indonesia. Mengurus Kepri harus dilihat dari berbagai sektor.

"Bukan hanya dari sektor pertahanan keamanan saja. Pembangunan dari perekonomian dengan pengelolaan potensi yang ada juga harus sejalan, tidak boleh ditinggalkan," kata Niko.

Dalam buku tersebut penulis berpendapat bahwa pengelolaan Kepri yang memiliki 1.796 pulau tersebut harus mengedepankan pemberdayaan perekonoian dengan pembangunan berbagai fasilitas agar potensi yang ada bisa digarap secara maksimal.

"Kepri 96 persen adalah perairan. Seharusnya pemerintah lebih banyak membangun pelabuhan, memperbanyak kapal untuk menghubungkan ribuan pulau tersebut untuk menggerakan perekonomian. Dengan buku ini kami berharap semakin banyak berita mengenai kemaritiman diangkat sehingga pemerintah memberikan perhatian lebih pada wulayah kepulauan," kata dia. (Antara)

Editor: Rusdianto

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga