Batam (ANTARA Kepri) - Harga ayam segar di pasar tradisional Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau turun dari Rp28 ribu menjadi Rp21 ribu per kilogram sejak beberapa hari terakhir.
       
Pedagang di Pasar Botania Batam, Rohimah, Minggu mengatakan, penurunan harga
ayam bertahap sejak menjelang Hari Raya Idul Adha 1432 Hijriyah 2011 yang jatuh awal November lalu.
       
"Sejak minggu pertama bula ini harganya terus turun Rp2 ribu setiap tiga
sampai lima hari sekali. Walaupun terkadang juga mengalami sedikit kenaikan, namun hingga beberapa hari terakhir bertahan pada angka Rp21-22 ribu per kilogram," kata dia.
       
Rohimah mengatakan, karena penurunan harga sudah terjadi cukup lama, kemungkinan mulai awal bulan Desember harganya akan kembali naik seperti tahun-tahun sebelumnya.
       
"Kenaikan tertinggi biasanya terjadi jelang Natal dan tahun baru," kata dia.
       
Hal serupa juga dikatakan Susanto, pedagang di Pasar Mega Legenda Batam Centre. Menurutnya penurunan harga ayam hanya bersifat sementara saja.
       
"Pada akhir tahun biasanya permintaan naik, bila para peternak di Rempang dan
Galang tidak mampu mencukupi kebutuhan di Batam maka bisa dipastikan harganya akan melambung," kata dia.
       
Ia mengatakan, harga ayam di Batam sangat tergantung hasil panen dari peternak di Rempang dan Galang.
       
Selain ayam, kata dia, pada akhir tahun biasanya seluruh kebutuhan pokok akan mengalami kenaikan.
       
Kepala Bidang Peternakan, Dinas Kelautan Perikanan Peternakan dan Kehutanan
Kota Batam, Sri Yunelli sebelumnya mengatakan kebutuhan ayam di Kota Batam 70 persen dipenuhi oleh peternak di kawasan Rempang dan Galang, sedangkan sisanya dipenuhi ayam beku dari Jawa.
       
"Kami belum sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan dengan ayam segar yang dihasilkan peternak lokal Batam, karena cuaca di Batam sering berubah-ubah. Solusinya kami mendatangkan ayam bedu dari Jawa untuk mengantisipasi kelangkaan," ucapnya.
       
Upaya untuk meningkatkan peternak di Batam, kata dia, masih terkendala izin penggunaan lahan yang hingga kini belum jelas karena pada dasarnya Batam
tidak diperuntukkan untuk peternakan.
       
"Alokasi lahan yang ada sangat minim," kata Yunelli.***