Tanjungpinang (Antara Kepri) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau mencatat Batam mengalami inflasi sebesar 0,94 persen pada Januari 2013.

"Semua kota di Sumatra mengalami inflasi, termasuk Batam. Inflasi terendah terjadi di Kota Palembang 0,64 persen, sedangkan tertinggi di Kota Sibolga 3,78 persen," kata Kepala BPS Kepulauan Riau Badar, di Tanjungpinang, Senin.

Badar mengatakan, kecenderungan inflasi pada awal tahun di Batam masih berlanjut pada 2013. Hal itu ditandai oleh naiknya indeks harga konsumen dari 127,82 pada Desember 2012 menjadi 129,02 pada Januari 2013.

Perubahan harga pada 79 komoditas kebutuhan masyarakat menjadi pemicu terjadinya inflasi di Batam. Sebanyak 66 barang kebutuhan masyarakat yang mengalami kenaikan harga antara lain, timun, cabai merah, kol, nangka muda, tomat, cabai rawit, terung, cumi-cumi, rokok putih, upah pembantu rumah tangga kepiting, telur ayam ras, mobil, ikan tongkol dan kentang.

Sebaliknya, 13 komoditas lainnya yang mengalami penurunan harga seperti wortel, sotong, kacang panjang, kangkung, bayam, angkutan udara, kacang panjang, bawang putih, minyak goreng, susu, apel dan daging sapi 

Sementara jika dilihat dari naiknya indeks harga, inflasi di Batam disebabkan kenaikan harga pada enam kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan sebesar 2,01 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 1,19 persen, perumahan, air, listrik, gas dan bakar 1,14 persen, sandang 0,08 persen, kesehatan 0,18 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,09 persen.

"Sebaliknya, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan justru turun sebesar 0,29 persen," ujarnya.

Laju inflasi "year on year" (Januari 2013 dibanding dengan Januari 2012 di Batam) tercatat sebesar 2,47 persen, lebih kecil dibanding laju inflasi periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 3,43 persen. (Antara)

Editor: Rusdianto