Karimun (Antara Kepri) - Gabungan Pelaksana Jasa Konstruksi Seluruh Indonesia (Gapensi) Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, meminta pemerintah merevisi anggaran proyek fisik sesuai dengan kenaikan harga material akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura.

"Kalau tidak direvisi, kami khawatir banyak proyek tidak selesai akibat naiknya harga material bangunan yang mengacu pada dolar Singapura," kata Ketua Gapensi Karimun Ery Januardin di Tanjung Balai Karimun, Kamis.

Ery Januardin mengatakan, revisi anggaran proyek dibolehkan berdasarkan Peraturan Presiden No 70 tahun 2012 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa.

Pembengkakan biaya proyek akibat kejadian tidak terduga, seperti inflasi bisa dijadikan dasar untuk perubahan pagu anggaran proyek.

Ia mengatakan, ada dua cara dalam mengatasi kenaikan biaya pengerjaan proyek akibat pelemahan rupiah itu. Pertama, mengurangi volume pekerjaan. Kedua, mengajukan eskalasi harga material.

Pengurangan volume pekerjaan tanpa dasar hukum merupakan pelanggaran, karena tetap harus mengacu pada bestek, kecuali sudah direvisi pemerintah.

"Pengajuan eskalasi harga material bisa dijadikan solusi. Nilai proyek dihitung sebagai proyek tahunan karena tidak memiliki rumusan otomatis," tuturnya.

Ia khawatir jika anggaran proyek tidak direvisi, proyek-proyek pemerintah banyak yang bermasalah. Kontraktor dihadapkan ke dua pilihan, merugi atau berhadapan dengan hukum akibat kenaikan harga material.

"Kami berharap pemerintah secepatnya menyikapi masalah ini karena pengerjaan proyek dibatasi oleh waktu sesuai kontrak kerja," tambah Ery Januardin.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Kontraktor Listrik (AKLI) Karimun Indrawarman mengatakan, harga baja yang hampir 80 persen digunakan untuk pembangkit listrik juga mengalami kenaikan.

"Dampak paling berat dirasakan untuk proyek-proyek di pulau-pulau karena biaya transportasi alat angkut juga mengalami kenaikan," ucapnya.

Indrawarman juga berharap pemerintah daerah segera membahas dalam kenaikan material sehingga tidak menghambat pembangunan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura terus anjlok dan berada di kisaran Rp8.980.

Harga material yang mengalami kenaikan akibat kenaikan harga BBM bersubsidi, naik lagi sejak rupiah melemah. Beberapa distributor dan toko di Tanjung Balai Karimun menaikkan harga besi impor di kisaran Rp500.000 hingga Rp1 juta per ton.

Sedangkan harga besi asal Medan, Sumatera Utara, juga naik hingga Rp400.000, yaitu dari Rp6 juta menjadi Rp6.400.000.

Menurut seorang kontraktor yang enggan disebutkan namanya, biaya proyek membengkak hingga Rp200 juta akibat kenaikan harga material.

"Terus terang kami pusing dengan pelemahan rupiah yang berdampak ke harga material. Hitung-hitungan kami, biaya proyek membengkak cukup tinggi, sampai Rp200 juta," ucapnya.

Ia mengaku masih menunggu penguatan rupiah terhadap dolar dengan harapan harga material kembali.

Dedi, kontraktor lain berharap pemerintah melakukan langkah-langkah pemulihan kurs rupiah.

"Kami juga meminta pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap pengusaha agar tidak seenaknya menggunakan dolar dalam bertransaksi, karena harga material produksi dalam negeri juga dijual dengan dolar Singapura," ucapnya. (Antara)

Editor: Dedi