Batam (Antara Kepri) - Universitas Gadjah Mada membangun pola pikir kelautan di setiap program ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi itu, kata Rektor UGM Pratikno di Batam, Sabtu.

"Arus utama maritim tidak cukup pada interdisipliner, tapi juga cara berfikir," kata Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. usai Seminar Nasional Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada di Batam.

Kemaritiman, kata dia, dijadikan arus utama paradigma pendidikan di UGM, mulai dari mata kuliah dasar umum sampai riset multidisipliner.

Menurut dia, paradigma kemaritiman itu penting dilakukan dan menjadi dasar dari semua bidang ilmu karena Indonesia adalah negara maritim yang lebih dari 90 persen wilyahnya laut.

Ilmu politik dan ekonomi, misalnya, paradigma yang dibangun berlandaskan maritim, katanya. "'Brain work'-nya maritim," kata dia.

Untuk bidang ilmu, UGM belum akan membuka fakultas khusus bidang kemaritiman yang mengajarkan pengetahuan dan ilmu kelautan.

Di tempat yang sama, pakar kelautan Prof. Rokhmin Danuri mengatakan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih kurang di bidang kelautan. Oleh karena itu, dibutuhkan fakultas dan program studi kemaritiman.

Padahal, lanjut dia, potensi kemaritiman Indonesia sangat besar dan dibutuhkan para ahli dan praktisi kelautan yang baik untuk menggalinya.

Ia meminta UGM untuk membuka program studi khusus bidang kemaritiman untuk mencetak generasi muda yang paham kelautan.

Meski begitu, dia setuju dengan Rektor UGM dan memandang perlu landasan berpikir kemaritiman di seluruh bidang.

"Harus ada transformasi 'mainstream'," kata dia.

Sementara itu, Ketua DPP Kagama Hamengku Buwono X mengatakan bahwa pola pemikiran kemaritiman memang harus dibentuk.

"Visi saya jadi gubernur, Indonesia punya cukup besar," kata dia.

Meski Jawa dikenal sebagai daerah agraris, menurut dia, budaya maritim harus ditanamkan kepada anak-anak penerus bangsa agar cinta bahari.(Antara)

Editor: Dedi