Kenaikan tarif listrik Batam picu inflasi
Senin, 21 Mei 2018 12:44 WIB
Meteran listrik (Antaranews)
Batam (Antaranews Kepri) - Kenaikan tarif listrik PT Pelayanan Listrik Nasional (Bright PLN) Batam memicu inflasi di Provinsi Kepulauan Riau, pada triwulan I-2018 hingga mencapai 5,5 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau, Gusti Raizal Eka Putra di Batam, Senin menyatakan, inflasi triwulan I-2018 lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 4,02 persen (yoy).
"Tekanan inflasi Kepri cukup tinggi pada triwulan I-2018. Kelompok `administered price`, mencatatkan inflasi 8,63 persen (yoy), dengan andil terbesar inflasi dari tarif listrik," kata dia.
Kenaikan tarif listrik Bright PLN Batam awal tahun ini merupakan yang ketiga kalinya, sesuai Peraturan Gubernur Kepulauan Riau No. 21 Tahun 2017.
Sedangkan komoditas inti mencatatkan inflasi 2,27 persen (yoy), terutama disumbang oleh upah tukang bukan mandor.
BI juga mencatat inflasi volatile food sebesar 9,15 persen (yoy), terutama disumbang komoditas cabai merah dan beras.
"Memasuki April 2018, Kepri mencatatkan deflasi 0,29 persen (mtm) atau secara tahunan terjadi inflasi 4,35 persen (yoy). Secara total tahunan, Januari hingga April, inflasi Kepri sebesar 0,76 persen (ytd)," jelas dia kemudian.
Andil terbesar deflasi April bersumber dari komoditas cabai merah.
Sementara itu, BI memperkirakan laju inflasi pada triwulan II-2018 sedikit melemah, karena sudah tidak ada lagi rencana kenaikan tarif listrik yang memicu inflasi di triwulan I-2018.
Namun, masih terdapat beberapa risiko pendorong inflasi, yaitu peningkatan permintaan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri yang dapat memicu inflasi volatile food.
"Selain itu, berdasarkan pola historisnya, tarif angkutan udara diproyeksikan akan mendorong inflasi `administered price`," kata dia.
Secara total tahunan, inflasi Kepri 2018 diperkirakan masih dalam kisaran target inflasi Nasional 3,5 persen ? 1 persen (yoy). (Antara)
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau, Gusti Raizal Eka Putra di Batam, Senin menyatakan, inflasi triwulan I-2018 lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 4,02 persen (yoy).
"Tekanan inflasi Kepri cukup tinggi pada triwulan I-2018. Kelompok `administered price`, mencatatkan inflasi 8,63 persen (yoy), dengan andil terbesar inflasi dari tarif listrik," kata dia.
Kenaikan tarif listrik Bright PLN Batam awal tahun ini merupakan yang ketiga kalinya, sesuai Peraturan Gubernur Kepulauan Riau No. 21 Tahun 2017.
Sedangkan komoditas inti mencatatkan inflasi 2,27 persen (yoy), terutama disumbang oleh upah tukang bukan mandor.
BI juga mencatat inflasi volatile food sebesar 9,15 persen (yoy), terutama disumbang komoditas cabai merah dan beras.
"Memasuki April 2018, Kepri mencatatkan deflasi 0,29 persen (mtm) atau secara tahunan terjadi inflasi 4,35 persen (yoy). Secara total tahunan, Januari hingga April, inflasi Kepri sebesar 0,76 persen (ytd)," jelas dia kemudian.
Andil terbesar deflasi April bersumber dari komoditas cabai merah.
Sementara itu, BI memperkirakan laju inflasi pada triwulan II-2018 sedikit melemah, karena sudah tidak ada lagi rencana kenaikan tarif listrik yang memicu inflasi di triwulan I-2018.
Namun, masih terdapat beberapa risiko pendorong inflasi, yaitu peningkatan permintaan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri yang dapat memicu inflasi volatile food.
"Selain itu, berdasarkan pola historisnya, tarif angkutan udara diproyeksikan akan mendorong inflasi `administered price`," kata dia.
Secara total tahunan, inflasi Kepri 2018 diperkirakan masih dalam kisaran target inflasi Nasional 3,5 persen ? 1 persen (yoy). (Antara)
Pewarta : YJ Naim
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BI Kepri: Inflasi stabil, kenaikan tarif listrik tetap menjadi tantangan
24 February 2025 13:29 WIB, 2025
Gubernur Ansar minta sosialisasi masif soal kenaikan tarif listrik di Batam
09 July 2024 8:15 WIB, 2024
Terpopuler - Ekonomi & FTZ
Lihat Juga
Pelni Tanjungpinang ajak warga manfaatkan diskon tiket kapal periode libur sekolah
06 June 2026 15:57 WIB
Harga minyak mentah Indonesia pada Mei 2026 turun ke 106,56 dolar AS per barel
06 June 2026 14:04 WIB