Pendapatan Pelindo Tanjungpinang merosot karena pandemi

id pelindo, tanjungpinang

Pendapatan Pelindo Tanjungpinang merosot karena pandemi

Suasana area pelabuhan Sri Bintan Pura. Foto ANTARA/Nikolas Panama

Tanjungpinang (ANTARA) - Pendapatan PT Pelindo di Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) Tanjungpinang, Kepulauan Riau babak belur dihantam pandemi COVID-19.

General Manajer Pelindo Tanjungpinang Yusrizal, di Tanjungpinang, Kamis, pendapatan yang berasal dari Pelabuhan SBP turun drastis hingga 75 persen.

"Kami alami kerugian sekitar Rp2 miliar dalam setahun sejak pandemi COVID-19," katanya.

Yusrizal mengatakan pendapatan terbesar Pelindo berasal dari Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura Tanjungpinang. Pelindo kehilangan sekitar 60 persen dari Rp1,6 miliar lantaran tidak ada penumpang ke Malaysia maupun Singapura.

Hal itu disebabkan pembatasan perjalanan laut yang yang dilakukan Pemerintah Indonesia terhadap warga asing ke Indonesia maupun sebaliknya.
Selain itu, Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Singapura juga masih "lock down" wilayahnya sehingga tidak ada warga atau wisatawan asal kedua negara tersebut berkunjung ke Tanjungpinang selama pandemi.

"Sebelum pandemi COVID-19, pendapatan Pelindo yang bersumber dari pas masuk pelabuhan mencapai Rp1,6 miliar per bulan. 60 persen pendapatan bersumber dari pas masuk pelabuhan internasional," ucapnya.

Yusrizal menjelaskan jumlah penumpang di Pelabuhan Domestik SBP juga drastis menurun. Hal itu disebabkan berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadi penularan COVID-19. 

Kapal-kapal antarpulau sempat tidak berlayar ketika kasus aktif COVID-19 semakin banyak. Kemudian pemberlakuan pembatasan pelayaran ketika diberlakukan PPKM Level IV hingga Level III di Tanjungpinang dan Batam.

Penurunan jumlah penumpang juga terjadi karena pembatasan jumlah penumpang di dalam kapal untuk mencegah penularan COVID-19. Akibatnya, jumlah penumpang semakin berkurang. 

"Pendapatan Pelindo pernah berkurang hingga Rp300 juta, Rp400 juta, dan pernah hanya mendapat Rp150 juta per bulan," katanya.

Menurut dia, pemberlakuan tes antigen juga mempengaruhi jumlah penumpang, meski saat ini biaya tes antigen berkurang menjadi Rp85.000. Biaya tes antigen itu lebih tinggi dibandingkan dengan biaya tiket kapal cepat Tanjungpinang menuju Batam Rp55.000, dan pas masuk pelabuhan domestik Rp10.000.

"Kami sudah minta kepada Pemkot Tanjungpinang untuk meninjau kembali pembelakuan kebijakan tes antigen tersebut agar tidak memberatkan penumpang," ucapnya.
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar