Logo Header Antaranews Kepri

Kala metaverse siap "menjajah" bumi pertiwi (bagian 2)

Senin, 18 April 2022 19:00 WIB
Image Print
Politeknik Batam Kepulauan Riau (ANTARA/Nurjali/Tomi)
"Jangan sampai era metaverse ini, lebih banyak memberikan kerugian dan dampak negatif, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi-sisi lainnya," ujarnya.

Tanjungpinang (ANTARA) - Indonesia saat ini terus berlari maju menyiapkan ekonomi baru di dunia metaverse, hal itu semakin gencar setelah Indonesia menjadi tuan rumah Presidensi G20 dengan menjadi satu-satunya negara maju di ASEAN yang menjadi anggota tersebut, salah satu kesiapan tersebut akan di tunjukkan dalam perhelatan Presidensi G20, pada Oktober mendatang.

Dosen IT Strategic Planning, Learning and Communication Skill Politeknik Pekanbaru, Dr.Dadang Syarif Sihabudin Sahid mengutarakan kesiapan SDM Indonesia dalam masuknya teknologi metaverse harus bisa ditangkap menjadi peluang yang besar dan terbuka. Hal itu karena metaverse ini seperti membuka pasar baru, lingkungan baru, yang secara langsung maupun tak langsung membuka lapangan kerja baru.

"Secara bekal keilmuan sudah diakomodir di kurikulum, tinggal diperkuat dari sisi soft skillnya menghadapi metaverse ini," ujarnya.

Kesiapan dari sisi infrastruktur dan teknologi untuk keamanan menghadapi era metaverse memang belum mumpuni, tapi bisa dipersiapkan dan ditingkatkan lebih baik. "Bahkan kita sudah punya modal sebenarnya, salah satunya dengan masuknya materi 'cyber security' menjadi fokus penting dalam kurikulum. Untuk infrastruktur, karena investasi nya cukup mahal, tentu harus banyak pihak yang memberikan dukungan," terangnya.

Ada beberapa hal yang harus digesa dan menjadi pekerjaan rumah besar yaitu peraturan atau regulasi yang mengatur berbagai hal terkait aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan di metaverse sangat penting bagi Indonesia.

"Jangan sampai era metaverse ini, lebih banyak memberikan kerugian dan dampak negatif, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi-sisi lainnya," ujarnya.

Secara keilmuan dasar pendukung web 3.0 internet 3D (metaverse) sudah ditanamkan dalam kurikulum pada banyak lembaga pendidikan di Indonesia, khususnya jurusan yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Selain teknologi dasar web dan semantik web, beberapa diantaranya adalah artificial intelligence, machine learning, deep learning, dan big data.

"Oleh karena itu, secara hard skill teknologi, SDM Indonesia sudah cukup bekal untuk menyambut web 3.0, namun demikian yang perlu menjadi perhatian adalah kesiapan SDM dari sisi soft skill-nya, terutama berkaitan dengan critical thinking, kreativitas, ide, dan inovasi," jelasnya.

Kehadiran web 3.0 tentunya diharapkan tidak menjadikan SDM di Indonesia hanya sebatas jadi pengguna, tetapi harus menjadi pelakunya. Politeknik Caltex Riau dalam beberapa tahun terakhir ini sudah memulai beberapa penelitian yang mengarah pada web 3.0, dan sudah melahirkan banyak penelitian yang menerapkan keilmuan dasar web 3.0 seperti kecerdasan buatan, virtual/augmented reality, cyber security, machine dan deep learning, termasuk big data yang dilakukan dalam bentuk proyek akhir mahasiswa maupun penelitian-penelitian dosen.

"Walau demikian, penelitian-penelitian tersebut, masih diimplementasikan dalam skala terbatas atau lab," ujarnya.

Dosen Jurusan Teknik Informatika Polibatam Ahmad Hamim Thohari memberikan pandangan tentang web 3.0 yang pertama kali disebutkan oleh tim Berners Lee pada tahun 2006, penemu sekaligus ketua World Wide Web Consortium. Pernyataan itu kemudian dipopulerkan oleh John Markoff, wartawan New York Times.

"Sejak saat itu, istilah ini terus berkembang dan masing-masing orang punya definisinya. Terbaru, web 3.0 dikaitkan dengan metaverse, NFT, cryptocurrency," ujarnya.

Tahapan dari Web 1.0 ditandai dengan dibukanya akses informasi yang lebih mudah dan cepat. Masyarakat mayoritas menjadi konsumen informasi. Pada Web 2.0, teknologi web menjadi platform, dimana di atasnya dibangun berbagai aplikasi dan layanan yang bergantung pada konten dari pengguna yang dibagikan pada aplikasi yang kemudian di-monetize dengan targeted advertising dan bermunculan perusahaan teknologi raksasa.

"Beberapa ahli berpendapat, Web 3.0 adalah web semantik dengan teknologi AI dimana pada web semantik, komputer dapat memahami dan memproses informasi seperti manusia, namun hal ini merupakan pekerjaan besar yang sulit terwujud, setidaknya untuk saat ini," ujarnya.

Saat ini menurutnya web 3.0 lebih diidentikkan dengan kata kunci desentralisasi, membagi kontrol dan dominasi terhadap informasi ataupun aset yang ada di dunia digital dari raksasa teknologi kepada pengguna. Salah satu teknologi pendukungnya adalah blockchain. Dimana teknologi tersebut merupakan backbone dari cryptocurrency dan NFT yang juga sangat terkait dengan metaverse.

"Segala kemungkinan masih bisa terjadi, teknologi ini masih berkembang dan mencari bentuknya, ada juga ahli yang skeptis apakah metaverse benar-benar dapat menjadi suatu bentuk baru dari internet."

Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna internet yang besar, punya potensi untuk memanfaatkan perubahan menuju web 3.0 utamanya dalam hal desentralisasi, yaitu konten kreator tidak selalu bergantung kepada platform besar untuk mendistribusikan konten, tetapi dapat sebagai alternatif misalnya, membangun dan menjual karyanya melalui metaverse dalam bentuk NFT.

"Diskursus terkait Web 3.0 sudah masuk dalam topik diskusi dan penelitian, teknologi seperti virtual reality dan augmented reality sudah beberapa tahun terakhir diteliti dan dikembangkan, untuk tujuan aplikasi permainan, pembelajaran, simulasi dan lainnya," ujarnya.

Saat ini kampus Poltek Batam juga memiliki Prodi multimedia dan animasi yang lulusannya dapat mengembangkan aset aset digital yang diarahkan ke NFT.

"Metaverse adalah teknologi yang masih berkembang, utamanya jika berbicara di peluang kerja, peluang bisnis atau memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada. Yang sebenarnya diperlukan dalam memasuki dunia digital adalah kemampuan critical thinking dan analytical thinking," ujarnya.

Kemampuan yang menjadi bagian dari abad 21 ini menjadi suatu tantangan bagi generasi ke depan untuk selalu siap dengan perkembangan teknologi. Kemampuan tersebut perlu dilatih sejak dini dan Polibatam sendiri sangat memperhatikan dan secara aktif mendorong tumbuhnya hal ini melalui berbagai cara.

"Salah satunya dengan berpindah ke metode pembelajaran project based learning, mahasiswa belajar tidak lagi dengan diceramahi dosen, melainkan dengan memberikan solusi, memecahkan permasalahan nyata yang ada di dunia usaha dan dunia industri yang berkaitan dengan bidang atau jurusan yang diambil mahasiswa," jelasnya.

Keamanan digital masih menjadi persoalan dan terdapat kekurangan dalam hal pemanfaatan Web 3.0.

"Karena kalau layanan atau platform metaverse yang dimiliki oleh Perusahaan Indonesia sepertinya belum ada, terakhir WIR Group meluncurkan prototipe metaverse yang masih terus dikembangkan," ujarnya.

Metaverse dibangun di atas berbagai teknologi seperti AR, VR, blockchain yang memiliki tingkat risiko keamanan yang berbeda. Meskipun pada umumnya teknologi yang dibangun di atas blockchain aman karena struktur blockchain itu sendiri, namun tetap ada celah pada AR, VR, celah pada pengguna melalui social engineering dan lainnya.

"Keamanan dimulai dari pengguna itu sendiri dimana dia memastikan bahwa teknologi apapun yang digunakan perlu menjaga data pribadi, agar tidak mengalami kerugian yang tidak diinginkan," jelasnya.

Pengamat ekonomi digital dari Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai saat ini Indonesia belum siap dari beberapa aspek untuk menyambut teknologi internet 3 D dan Web 3.0.

"Secara umum kita belum siap dengan makhluk yang namanya Metaverse. Dari sisi infrastruktur, SDM, hingga penggunaan masih jauh dari kata siap," ujar Nailul Huda pengamat ekonomi Digital dari Indef ketika dihubungi.

Kelemahan itu ada pada sisi infrastruktur, masih terdapat blankspot di beberapa daerah di Indonesia serta alat virtual reality (VR) yang digunakan untuk mendukung kegiatan di wilayah metaverse juga masih relatif mahal dan belum bisa diproduksi secara masal di dalam negeri.

"Jadi masih jauh sekali, perbankan yang masuk pun sebenarnya hanya membuat cabang virtual saja bukan cabang metaverse," jelasnya.

Salah satu ciri khas perbankan metaverse adalah menggunakan alat transaksi cryptocurrency.

"Bandingkan dengan negara maju yang sudah kuat dan luas coverage sinyal internet cepat, kemudian mampu memproduksi alat VR sendiri, dan SDM nya cukup kuat," ujarnya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang sedang mengembangkan metaverse Indonesia masih sangat jauh tertinggal, peringkat digitalisasi di Indonesia masih jauh jika dibandingkan dengan negara-negara di dunia yang lebih dulu terjun ke dunia metaverse.

"Ketika ada perbankan yang masuk ke metaverse saya rasa tetap banyak yang menggunakan cabang fisik, bukan cabang virtual. Masih jauh sekali kalau kita bicara SDM-nya akan tergantikan. Masyarakat kita relatif belum siap," ujarnya.

Keamanan siber di Indonesia juga dinilai masih sangat lemah, terlebih banyaknya terjadi kebocoran data pelanggan di Fintech dan beberapa aplikasi digital lainnya yang dinilainya sangat parah.

"Belum ada aturan perlindungan data pribadi juga. Makanya saya bisa bilang keamanan data di Indonesia sangat rawan. Data bisa bocor dari mana saja," jelasnya.

Ketua Prodi Magister Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Unisba Dr.Neneng Nurhasanah, Dra.,M.Hum. dalam siaran persnya menyebutkan teknologi digital metaverse memungkinkan fleksibilitas pada karyawan suatu perusahaan untuk bekerja dari jarak jauh yang berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan bisnis manusia.

"Penggunaan Cryptocurrency sebagai mata uang sendiri sudah marak digunakan mengikuti perkembangan teknologi digital, di tengah regulasi yang berjalan lambat, tidak secepat perubahan teknologi yang terjadi," paparnya.

Dari kacamata ekonomi syariah perkembangan ekonomi di era digital bukan semata-mata memperoleh harta dan meningkatnya pendapatan tetapi ada nilai-nilai maslahat, keadilan dan keberkahan, menjauhi keburukan, kecurangan, kezaliman baik secara individu maupun kelembagaan yang harus diperhatikan.

"Di Indonesia respon pemerintah terhadap perkembangan teknologi digital sudah cukup mempertimbangkan kepentingan umat Islam yang sangat memperhatikan aspek kehalalan (madiyah) dan aspek ke-thayyibah-an (adabiyah) aktivitas ekonomi mereka," ujar perempuan yang juga menjabat sebagai Expert CX Op Executive Professional di Jawa Barat.

Kesiapan ekonomi syariah khusus untuk perkembangan teknologi digital yang memungkinkan lahir berbagai aktivitas ekonomi seperti dalam metaverse masih perlu peningkatan kajian, riset disamping peningkatan literasi dan regulasi yang responsif terhadap perkembangan yang ada.

Ekonomi baru Bank metaverse Indonesia

Ekonomi baru di dunia perbankan tergambar dengan hadirnya Bank Metaverse. Sebuah konsep game tiga dimensi dan virtual yang mulai masuk ke dunia nyata itu kini menjadi teknologi baru yang menjarah dunia perbankan khususnya di Indonesia.

Berawal dari sebuah tulisan penulis Amerika Neo Stevenson pada tahun 1992 yang menulis fiksi tentang kehidupan dunia nyata yang disamakan dengan kehidupan dunia maya, kemudian di film kan pada tahun 2018 tersebut akhirnya benar-benar hadir di dunia nyata yang awalnya diprediksi pada 2045 namun hadir lebih cepat di tahun 2020 yang lalu.

Januari 2022 salah satu Bank dengan aset terbesar di Amerika Serikat mengumumkan ke publik sebagai Bank pertama yang mendirikan kantor cabang di metaverse, prosesnya dimulai pada November 2021. Sebelumnya JP Morgan sebagai Bank terbesar di dunia lebih dulu mengumumkan bisnis perbankan di metaverse dengan memprediksi peluang pasar sebesar US$1 triliun dan mengincar real estate virtual.

Di tengah kehebohan penanganan pandemi COVID-19 yang terus bermutasi diawal tahun pada bulan Februari 2022 dua Bank milik negara juga menyatakan kesiapan untuk membuka cabang di dunia virtual internet tiga dimensi tersebut, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Negara Indonesia (BNI), dan terakhir adalah Bank Mandiri yang juga berencana masuk ke dunia metaverse.

Bank-bank plat merah ini akan memamerkan pelayanan Bank Metaverse pada bulan Oktober 2022, pada agenda Presidensi G20. Pertumbuhan penggunaan internet yang sudah mencapai 73,3 persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 202 juta orang berdasarkan data BPS tahun 2021 tersebut, diyakini mampu menunjukkan bahwa peluang bisnis perbankan di dunia virtual khususnya Web 3.0 sangat potensial di kembangkan di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan pertumbuhan transaksi digital di Indonesia pada tahun 2021 meningkat 20 persen dari tahun sebelumnya. Meski masih dalam tahap pengenalan atau tahap awal dari dunia metaverse di perbankan tersebut, namun hal ini bukan tidak mungkin akan menjadi potensi bisnis masa depan yang benar-benar akan terjadi dalam waktu yang tidak lama.

Dengan menggunakan teknologi berbasis Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR) dan Artifical Inteligence (AI) yang melekat pada teknologi metaverse ini menurut buku yang diterbitkan JP Morgan dengan judul "Oppotunities in the metaverse" atau peluang berbisnis di metaverse tersebut memaparkan potensi bisnis di metaverse dapat dilihat dari penjualan barang virtual setiap tahunnya mencapai $54 miliar dollar.

Direktur IT & Operasi BNI Y.B. Hariantono dan CEO dan Co-Founder WIR Group Michael Budi saat menandatangani kerjasama Bank Metaverse dengan WIR Group mengaku bahwa langkah awal untuk menuju ekonomi digital Indonesia yang komplit, maka mendirikan kantor cabang di metaverse adalah sebagai langkah dari Bank BNI untuk menjarah dunia metaverse.

"Bulan lalu BNI menunjukkan keseriusannya untuk mengembangkan metaverse untuk memberi nilai tambah pada inovasi produk layanan BNI ke depan, dengan menggandeng salah satu perusahaan teknologi ternama," ujar Hariantono, saat dihubungi.

Teknologi baru tersebut tentu akan diikuti dengan perekrutan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan. Apalagi metaverse merupakan dunia virtual yang akan memberikan layanan yang berbeda dari konsep digital banking yang saat ini sudah dijalankan oleh WIR Group.

"Ada teknologi baru tentunya kita akan upgrade SDM, apakah merekrut baru atau melatih yang sudah ada hal itu akan dilihat dari perkembangan ke depan," jelasnya.

BNI kedepan akan menjadi Bank milik negara yang tampil terdepan dalam pelayanan digital saat ini, apalagi WIR Group merupakan perusahaan berbasis teknologi Augmented Reality (AR) yang terbukti berpengalaman dan telah mendapat pengakuan di berbagai negara.

"Kemarin saya sampaikan, kita tidak hanya ikut trend tapi kita ingin di depan dalam pengembangan layanan digital. Dan kita akan ikut membangun Dunia Metaverse ini di Indonesia. Kami akan membentuk ekosistem bisnis yang baru di dalamnya, seperti digital branch, digital product, new services, dan engagement kepada customer yang attached dengan Metaverse," jelasnya.

Dengan nilai investasi yang masih bersifat konfiidensial Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga sangat intens mengenalkan teknologi metaverse ke masyarakat melalui berbagai program, salah satunya melalui talkshow rutin yang di beri nama Generasi Metaverse dan sudah memasuki bagian tiga dengan narasumber yang beragam.

"Kita mulai merintis metaverse tahun ini dan menjadikan salah satu elemen kegiatan ekonomi menuju metaverse Indonesia yang akan diluncurkan presiden pada Oktober 2020 nanti, di G20 yang digelar di Indonesia sebagai wujud keberadaan ekonomi digital di Indonesia," ujar Danang Wedhasmara Assistant Vice President, e-Banking Product Development at Bank Rakyat Indonesia.

Mengenai isu pengurangan kantor Cabang dengan kehadiran metaverse mungkin saja terjadi, namun hal tersebut belum akan terjadi dalam waktu dekat, mengingat Bank BRI merupakan salah satu Bank di Indonesia yang sangat banyak memiliki kantor cabang hingga ke pelosok Indonesia.

"Tentunya akan ada banyak aspek yang kita siapkan, Aspek Security, metode pembayaran dan Onboarding produk-produk secara Virtual serta kegiatan-kegiatan secara virtual," ujarnya.

Kehadiran teknologi tersebut membuat Bank BRI akan membutuhkan SDM yang handal di bidang IT, tidak hanya akan merekrut tenaga kerja baru, namun karyawan-karyawan yang ada saat ini tentunya akan dituntut untuk mampu berinovasi salah satunya dengan kemampuan menyediakan konten-konten untuk sosialisasi maupun bagian dari penggerak Bank Metaverse itu nantinya.

"Metaverse memang dikenal dengan avatar tapi hal itu justru akan membuka peluang tenaga kerja generasi metaverse ke depan untuk bekerja di dunia perbankan, tidak hanya lulusan ekonomi dan IT tapi banyak lulusan lain yang akan tertampung untuk memaksimalkan pelayanan di Bank Metaverse nantinya," ujarnya.

Ramai-ramai Bank milik negara terjun di bisnis metaverse tentunya merupakan kabar baik bagi perkembangan bisnis digital di Indonesia, namun hal itu sekaligus menjadi tantangan bagi bank-bank yang sudah maupun yang akan mendirikan cabang di dunia virtual tersebut. Salah satu tantangan bank dalam menjalankan bisnis digital ini adalah masih lemahnya regulasi yang akan menjadi pedoman bagi bank dan bagi nasabah yang nantinya akan bertransaksi di dunia virtual metaverse.

Sederet Tokoh Pemegang Saham WIR Group

WIR Group PT WIR ASIA Tbk akhir-akhir ini menjadi perbincangan di banyak kalangan perbankan, pasalnya perusahaan yang bergerak di bidang teknologi metaverse seperti Augment Reality (AR), Artifical Inteligence dan Virtual Reality ini, digandeng bank-bank besar milik negara untuk mengembangkan Bank Metaverse yang infrastruktur awalnya sudah di launching pada bulan Februari 2022 kemarin oleh bank milik negara yaitu BNI, BRI dan terakhir Bank Mandiri juga ikut menandatangani MoU dengan WIR Group.

Masuk ke 153 negara di dunia untuk melakukan ekspansi ke dunia metaverse perusahaan yang didirikan oleh lima orang Co Founder yaitu Daniel Surya, Jeffrey Budiman, Senja Lauardy, Daniel Surya dan Philip Cahyono ini sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (IPO) dengan nama-nama sejumlah tokoh politik, tokoh nasional hingga pengusaha ternama di jajaran komisaris nya.

Diantaranya Yenny Wahid putri Presiden ke empat Gusdur sebagai Komisaris, kemudian ada pemilik Bali United Pieter Tanuri, ada juga nama Ketua Umum Kadin Arsjad Rasyid, Konglomerat Lippo Mochtar Riady, dan seorang banker Rizal Gozali.

Menjajal nama-nama tokoh ternama di belakang layar perusahaannya, WIR Group dipercaya pemerintah untuk beberapa kali mewakili Indonesia di beberapa event Internasional seperti event World Economic Forum (WEF), Davos pada 2019 dan 2020, dan WEF 2022.

Fokus pada pengembangan dunia Web 3.0 Metaverse mengantarkan WIR Group dinobatkan sebagai Metaverse Technology Companies to Watch in 2022’ versi Forbes GE, bersama-sama dengan perusahaan kelas dunia Apple, Microsoft, Facebook, Magic Leap, Niantic, dan Snap Inc.

Dengan menawarkan tiga solusi utama bagi konsumen nya yaitu, Solution for brands yaitu teknologi digital reality yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan bagi konsumen nya, kemudian Solution for Iot Kiosk yaitu sebuah layanan kreatif untuk mendukung pemasangan iklan dengan teknologi AR, dan Solution for commerce yaitu sebuah jaringan toko ritel yang akan memfasilitasi gerai-gerai offline untuk menjual produknya secara online dengan merk Mind Stories.

Baru-baru ini WIR Group juga dipercaya oleh PT Sanghiang Perkasa atau yang dikenal sebagai KALBE Nutritionals untuk menjadi perusahaan nutrisi pertama yang melebarkan produk serta layanannya ke dunia metaverse dalam project yang dinamakan “Nutrition for Life in Metaverse”.

Kemudian sebelumnya PT Lumina Kaya Indonesia (Kaya.id) perusahaan inkubator bisnis ini juga berkolaborasi dengan WIR Group, untuk mengembangkan Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Indonesia di dunia metaverse.

Sejak tahun 2009 WIR Group telah menyelesaikan ribuan proyek dan melayani lebih dari 20 negara termasuk di antaranya Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Nigeria, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Myanmar, dan banyak lainnya. Selain itu, WIR Group juga telah mendapatkan banyak pengakuan internasional di antaranyaExcellent Communications Design Apps dalam German Design Award 2020, AR Best Campaign at the Augmented World Expo’s 7th Annual Auggie Awards 2015 dan 2016 di Silicon Valley, Innovation 40 dari The New Economy London di London Stock Exchange.

Bank BNI di Kota Batam saat melayani para pelanggan. (ANTARA/Nurjali/Tomi)

Tantangan Metaverse di Indonesia

Dalam menjalankan bisnis di metaverse saat ini bank-bank di Indonesia yang sudah membeli lahan di dunia vitual metaverse, yang pelaksanaannya masih dalam tahap pengembangan dan pengenalan teknologi tersebut kepada nasabah atau calon nasabah, akan dihadapkan dengan beberapa tantangan kedepannya.

Indonesia sebagai daerah yang terdiri dari pulau-pulau kecil dan besar, tentunya memiliki tantangan tersendiri salah satunya adalah sistem keamanan data yang ada di Indonesia. Data BSSN menyebutkan pada tahun 2021 yang lalu terdapat tujuh kasus kebocoran data yang terjadi di Indonesia yang melibatkan perusahaan dan Lembaga pemerintah.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) merilis kejahatan siber di Indonesia pada 2020 sampai 2021, mengalami kenaikan yang cukup signfikan, melalui National Security Operation Centre (NSOC) BSSN merilis telah terjadi 1,6 milyar anomali trafik atau serangan siber dengan berbagai kategori sepanjang tahun 2021.

Dalam pers rilis nya Kepala BSSN Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian menyebutkan serangan siber banyak dilakukan melalui Malware, Trojan Activity hingga Information Gathering atau pengumpulan informasi untuk mencari celah keamanan menjadi trend kejahatan siber di beberapa negara, dan di Indonesia sendiri Web Defacements atau kasus peretasan menjadi salah satu hal yang paling marak.

"Peretasan ini digunakan untuk scamming, illegal gambling, phishing, dan kejahatan lainnya, menjadi sumber masalah kejahatan cyber," ujarnya.

Anomali trafik tertinggi terjadi di bidang akademik yaitu sebanyak 38,03 %, swasta 25,37 %, pemerintah daerah 16,86 %, pemerintah pusat 8,26 %, hukum 4,18 %, dan personal 2,66 %.

Tantangan kedua adalah Sumber daya manusia (SDM) dimana teknologi baru ini akan membutuhkan keahlian baru pula dalam bidang yang tersedia. Salah satu keahlian di bidang teknologi yang akan diincar banyak perusahaan dalam penggunaan teknologi metaverse adalah keahlian di bidang virtual rituality, storytelling dan pengembangan platform.

Sementara data Bank Dunia menyebutkan, bahwa Indonesia membutuhkan 9 juta tenaga kerja di bidang IT (Information Teknologi) atau Teknologi Informasi Komputer selama periode 2015 - 2030. Kondisi tersebut tidak sebanding dengan kemampuan kampus di Indonesia, yang baru mampu memenuhi 100.000 - 200.000 tenaga di bidang TIK selama periode tersebut.

Dikutip dari salah satu media asing Assistant Professor di University of Florida menyebutkan bahwa lowongan kerja di bidang VR/AR meningkat sekitar 1.400 persen pada tahun 2021. Keahlian di bidang the next internet ini memiliki potensi $1 triliun dalam beberapa tahun kedepannya. Jika berkaca dengan kondisi Indonesia saat ini, meski sudah banyak kampus-kampus yang melakukan riset di bidang teknologi virtual ini, namun hal tersebut belum didukung dengan kurikulum khusus di bidang Teknologi Virtual Reality.

Padahal SDM di bidang ini akan sangat dibutuhkan untuk menjadi virtual reality developer, XR gameplay and tools, technical 3D artist, keamanan virtual dan lain sebagainya yang sangat dibutuhkan dalam menyongsong era Web 3.0 internet 3D.

Pembahasan tentang undang-undang perlindungan data pribadi yang saat ini terus bergulir di DPR RI, juga belum menampakkan titik terang untuk segera disahkan. Padahal untuk menjamin keamanan dan kenyamanan lembaga perbankan dan bidang usaha lainnya, yang akan terjun ke dunia virtual metaverse undang-undang ini sangat dibutuhkan untuk memberi kenyamanan nasabah.

“Saat ini Indonesia bukan lagi memasuki era digital, tapi sudah dalam kondisi perang siber skala lokal,” Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF).

Terakhir adalah infrastruktur internet di Indonesia, sebagai salah satu pendukung utama teknologi metaverse jaringan internet tentunya akan menjadi salah satu penghambat kemajuan Bank Metaverse yang harus dapat di selesaikan oleh pemerintah.

Berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJI1), jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini sebanyak 143,26 juta atau setara 55% dari populasi penduduk di Indonesia. Dari data tersebut artinya masih terdapat 45% sisanya yakni sekira 117 juta masyarakat yang masih belum tersentuh internet.

Untuk mewujudkan hal ini pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kominfo mengaku masih kesulitan dalam menjangkau wilayah-wilayah yang belum tersentuh internet, meski regulasi pemerintah melalui peraturan presiden nomor 131/2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015 hingga 2019 sudah dijalankan secara maksimal tahun lalu.

Hal tersebut belum mampu menjangkau seluruh wilayah di Indonesia. Berdasarkan rilis BPS penggunaan internet tertinggi di DKI Jakarta yakni 82%. Kemudian Kalimantan Utara dengan persentase sebesar 38,9%, Selanjutnya Kepulauan Riau dengan 27,62 %, Bali 25,67 %, Sumatera utara 17,45 %, Yogyakarta 16,77 %, Banten 15,98 %.

Disusul Kalimantan Timur 15,35 persen, Jawa Barat 13,86 persen, Jawa Timur 13,19 persen, NTT 12,51 persen, Bengkulu 12,04 persen, Babel 11,69 persen, Aceh 9,67 persen, Sumbar 9,45 persen, Sumsel 9,12 persen, Jambi 8,77 persen, Riau 8,48 persen, Jawa Tengah 8,04 persen, NTB 5,97 persen, Lampung 5,29 persen.

Sementara sebanyak 13 provinsi berada di angka di bawah 1 persen yaitu Kalimantan Barat (0,9%), Papua Barat (0,09%), Sulawesi Utara (0,08%), Papua (0,08%), Kalimantan Tengah (0,07%), Kalimantan Selatan (0,07%), Sulawesi Tengah (0,07%). Kemudian, Maluku (0,05%), Sulawesi Barat (0,04%), Sulawesi Selatan (0,03%), Sulawesi Tenggara (0,03%), Gorontalo (0,03%), dan Maluku Utara (0,03%).

Kondisi jaringan infrastruktur ini tentunya menjadi tantangan terberat yang harus di lalui oleh perbankan dan pelaku usaha yang akan masuk ke dunia virtual 3D Metaverse. Karena melihat dari perangkat lunak dan perangkat keras yang digunakan untuk mengakses metaverse, akan sangat membutuhkan jaringan dengan jumlah bandwith yang besar.

Manis Nisham dalam bukunya yang berjudul “A Guide to the Next-Gen Internet” menyatakan bahwa penggunaan metaverse akan meningkatkan penggunaan bandwith, hal itu dicontohkan dalam pola hidup orang Amerika Serikat yang merupakan negara maju. Penggunaan internet di negara tersebut saat ini merupakan bandwith terbesar di dunia, namun hal itu didukung dengan budaya orang Amerika yang biasa menonton streaming video dan audio di waktu yang bersamaan selama berjam-jam.

Beberapa perusahaan seperti Apple saat ini sedang menyiapkan perangkat yang menggabungkan fitur VR dan AR, dengan objek virtual 3D, yang membutuhkan jaringan data yang cukup tinggi dengan kapasitas bandwith yang besar.

Pada tahun 2020 Indonesia baru mencapai kebutuhan 18,1 tbsp (Terabits per second) sangat rendah dibanding dengan negara-negara ASEAN, dan sangat jauh dari kebutuhan masyarakat di Indonesia. Untuk itu pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika menargetkan 55 tbps pada periode 2025 mendatang dengan melakukan beberapa terobosan.

Jika melihat kondisi infrastruktur internet di Indonesia di beberapa daerah yang terdiri dari pulau-pulau, tentunya hal ini dibutuhkan sinergitas seluruh stakeholder di Indonesia untuk meningkatkan jaringan internet di daerah-daerah, dimana saat ini Indonesia baru memulai pengembangan jaringan 5 G di 13 kota.

Kondisi terkini Bank Metaverse Indonesia

Melihat kondisi terkini Bank Metaverse di Indonesia salah satunya Bank Rakyat Indonesia (BRI) baru-baru ini menggelar webinar bertajuk BRILian Goes to Meta World - Get The RealMetaverse Experience pada (5/4) yang ditujukan bagi pekerja BRI untuk meningkatkan dan memperbarui skill sebagai digital talent.

Dengan mengusung visi The Most Valuable Banking Group & Champion of Financial Inclusion, Bank BRI juga menyiapkan SDM untuk teknologi Metaverse ini melalui BRI Corporate University yang tengah mengembangkan BRISMART Metaverse yang bertujuan untuk mempermudah kegiatan pendidikan seperti simulasi, job training, meet the expert, dan social learning yang dapat dilakukan di ruang virtual.

BRI juga meluncurkan Virtual Branch, sarana edukasi perbankan dan layanan digital lainnya yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Digitalisasi ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk mendapat layanan perbankan secara cepat, mudah, efektif, dan aman.

Seiring dengan hal tersebut Badan pengawas perdagangan berjangka komoditi (Bapebti) Kementerian perdagangan juga menerbitkan peraturan nomor 8 tahun 2021 tentang pedoman penyelenggaran perdagangan pasar fisik aset di bursa berjangka, yang mengatur tentang perdagangan Crypto di Indonesia.

Dalam keterangan pers yang disampaikan Kepala Bapebti Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana usai menggelar rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI mengatakan saat ini perdagangan aset kripto terus mengalami peningkatan secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

"Hingga Februari 2022 kemarin dari data Bapebti perdagangan kripto sudah mencapai angka Rp83,8 triliun," ujarnya.

Bapebti sendiri saat ini sudah merekomendasikan delapan belas izin calon pedagang fisik aset kripto di Indonesia, hal itu mengacu pada kemajuan kripto yang terus berkembang pesat sehingga membutuhkan sebuah regulasi pajak dan lainnya.

"Dari sisi pelanggan jumlahnya kini menembus angka 12,4 juta investor, dan ini terus naik dari tahun lalu, naik sekitar 11 persen diawal tahun ini, dimana akhir tahun 2021 itu masih sekitar 11,2 juta investor," terangnya.



Oleh
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026