
Kumulasi Demam Berdarah di Karimun 146 Orang

Karimun (ANTARA News) - Kumulasi jumlah penderita demam berdarah dengue di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau dalam kurun Januari-Oktober 2010 sebanyak 146 orang.
"Jumlah penderita meningkat dari 142 kasus pada 2009 menjadi 146 kasus pada periode Januari-Oktober 2010,'' kata Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Karimun Rachmadi di kantornya, Kamis.
Menurut Rachmadi, dari jumlah tersebut, satu di antaranya yaitu anak bawah lima tahun (balita) warga Bukit Senang, Kecamatan Tanjung Balai Karimun meninggal dunia.
''Sebenarnya ada dua balita yang meninggal dunia, namun yang satunya lagi meninggal karena tersedak setelah sembuh dan selesai menjalani perawatan medis. Penyebabnya mungkin karena kondisi fisik yang masih lemah,'' katanya.
Dia menjelaskan, selama Desember 2010, kasus DBD nihil setelah pihaknya melakukan abatisasi (penaburan bubuk abate) massal di Kecamatan Tebing yang merupakan daerah paling rawan penularan DBD.
''Selain abatisasi massal, pengasapan atau ''fogging'' yang kami lakukan di kecamatan tersebut berhasil mencegah penambahan pasien DBD baru,'' ucapnya sambil berharap tidak ada kasus baru hingga akhir tahun.
Dia menuturkan, kasus DBD tertinggi berada di Kecamatan Tebing dengan 42 pasien, kemudian Tanjung Balai Karimun 37 kasus, Meral 36 kasus, Pulau Kundur 14 kasus dan sisanya di Kecamatan Durai dan Moro.
Jika dilihat dari penularan berdasarkan kelompok usia, dia mengatakan penderita DBD berusia di bawah lima tahun sebesar 24 persen, 5-12 tahun 34 persen dan 12 tahun ke atas 42 persen.
''Kasus DBD tertinggi terjadi pada periode Agustus hingga September, pada saat curah hujan cukup tinggi yang mengakibatkan nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak,'' katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Karimun Sensissiana mengatakan, kasus DBD sejak dua tahun terakhir sebenarnya menurun tajam dibandingkan pada tahun 2008 yang mencapai 219 kasus.
''Sebagai daerah endemis, Karimun setiap tahun terdapat kasus DBD dan kami bersyukur terjadi penurunan siginifikan dibandingkan dengan tahun 2008,'' ucapnya.
Dia mengimbau warga masyarakat meningkatkan pola hidup bersih dan sehat dengan mencegah perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.
''Progam abatisasi dan 'fogging' tidak akan berarti jika warga masyarakat tidak proaktif mencegah berkembangbiaknya nyamuk itu,'' katanya.
Dia berharap, langkah mengubur, menguras dan membersihkan wadah-wadah yang dapat tergenang air hujan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. (ANT-028/A013/Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
