
Warga Kepri Habiskan Miliaran Rupiah Berobat di LN

Batam (ANTARA News) - Warga Provinsi Kepulauan Riau menghabiskan biaya sekitar Rp50 miliar untuk berobat di negeri jiran Malaysia dan Singapura setiap tahunnya.
"Secara jumlah, pasiennya tidak banyak, namun secara biaya, besar," kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia Provinsi Kepri Afrizal Dachlan di Batam, Sabtu.
Menurut dia, besarnya biaya yang dikeluarkan untuk berobat di Malaysia dan Singapura relatif lebih mahal, sehingga meski angka pasien yang berangkat ke luar negeri sedikit, namun nominal rupiah yang dikeluarkan tinggi.
Ia mengatakan masyarakat Kepri yang mampu lebih menyukai berobat di luar negeri karena gengsi dan kepercayaan kepada lembaga asing.
Selain itu posisi Kepri yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia juga membuat masyarakatnya menyukai berobat ke negeri jiran.
Agar masyarakat Kepri lebih tertarik berobat di dalam negeri, kata dia, perlu pengembangan rumah sakit dengan menambah fasilitas dan pelayanan.
Direktur Rumah Sakit Budi Kemuliaan Donny Irawan mengatakan saat ini rumah sakit-rumah sakit di Kepri baru optimal memberikan pelayanan kepada masyarakat kurang mampu.
"Kami masih menangkap pasien-pasien Kepri, kecuali yang 'the have'," kata dia.
Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Awal Bross Batam Widya Putri mengatakan karakteristik Kepri yang berada di perbatasan membuat warganya kerap berobat ke luar negeri.
"Berobat ke luar negeri itu bisa jadi untuk mencari 'second opinion'," kata Widya.
Ia mengatakan mencari pendapat kedua dari dokter dan rumah sakit yang berbeda merupakan hak pasien yang tidak bisa dibatasi.
"Tapi, pada akhirnya ketika sudah kehabisan uang berobat di luar, ke kita juga," kata dia. (ANT-YJN/Y006/DD)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
