Logo Header Antaranews Kepri

Disperindag: Tidak Ada Spekulan Sembako di Tanjungpinang

Kamis, 14 Juli 2011 13:04 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA News) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau menyatakan, selama ini tidak ada spekulan sembako di daerah tersebut, karena permintaan terhadap komoditas itu relatif kecil.

Kebutuhan sembako di Tanjungpinang relatif kecil dibanding daerah lainnya di Kepri (Kepulauan Riau), karena itu aksi penimbunan sembako kurang menguntungkan, meski pada saat menjelang puasa dan Idul Fitri, kata Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Tanjungpinang, Efiar M Amin, Kamis.

Efiyar mengungkapkan, Tanjungpinang dapat bebas dari aksi penimbunan sembako, karena persediaan memadai dan harganya terkontrol. Pengawasan terhadap persediaan dan perdagangan sembako yang ketat juga dapat mengurungkan niat oknum tertentu menimbun sembako.

Meski demikian, ia mengimbau kepada semua pihak untuk tetap mewaspadai aktivitas penimbunan sembako yang berpeluang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Masyarakat diminta melaporkan kepada pihak yang berwajib jika menemukan sembako yang ditimbun seseorang atau perusahaan tertentu untuk meraup keuntungan yang besar dari konsumen.

Aktivitas spekulan akan terungkap jika Tanjungpinang terjadi kelangkaan sembako pada saat distribusi sembako berjalan lancar. Spekulan akan berhadapan dengan aparat penegak hukum jika kedapatan menimbun sembako.

"Kami telah membentuk tim pengawas sembako yang setiap saat melaporkan perkembangan harga dan persediaan sembako menjelang puasa hingga Idul Fitri," ungkapnya.

Ia menjamin persediaan sembako mencukupi menjelang puasa hingga Idul Fitri, namun harga kemungkinan naik menjelang puasa dan Idul Fitri.

Kenaikan harga sembako pada saat permintaan meningkat merupakan hal yang biasa, namun Disperindag Tanjungpinang akan menggelar operasi pasar pada Agustus 2011 agar harga sembako dapat dikontrol.

"Kami menilai kenaikan harga sembako masih wajar," ujarnya. (ANT-NP/S004/Btm2)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026