
Impor Buah dan Sayuran Turun 12 Persen

Batam (ANTARA News) - Impor buah dan sayuran Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau turun sebesar 12,02 persen pada semester pertama 2011, karena semakin banyak buah dan sayur dalam negeri yang masuk.
Menurut Kepala Seksi Karantina Tumbuhan Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Batam, Aris Zulhan, Senin, pada 2010 kebutuhan sayur dan buah di Batam 70,19 persen dipenuhi dari buah impor dari beberapa negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, China, dan Singapura.
"Saat ini kebutuhan yang dipenuhi dari buah dan sayur impor hanya 58,17 persen, atau turun 12,02 persen dari keseluruhan kebutuhan buah dan sayur per hari yang mencapai sekitar 400 ton," kata dia.
Menurut Aris, hal tersebut dikarenakan produksi buah dan sayur dari daerah penghasil seperti Sumatra Utara, Riau, Jawa Timur dan Jawa Tengah mulai bangkit.
"Beberapa daerah tersebut kini juga giat membudidayakan buah dan sayur untuk ekspor dan memenuhi kebutuhan daerah nonprodusen," kata dia.
Walaupun penurunan angka impor dapat dikategorikan positif, namun BKP mencatat kebutuhan impor beberapa jenis buah seperti melon, pepaya, pisang, semangka, mangga, durian, jambu, apel, jeruk, jeruk mandarin, pir dan kentang masih tinggi.
BKP mencatat hingga April 2011, komoditas impor terbesar yang diimpor adalah sayuran segar dari China sebanyak 292 ton, semangka dari Malaysia sebesar 193 ton, melon sebanyak 42 ton, pepaya 91 ton, sawi 16 ton, pisang 8 ton, mangga 41 ton, durian 22 ton, buah naga 48 ton.
"Sebenarnya Batam dan daerah sekitarnya bisa mengembangkan buah-buah tersebut, agar ketergantungan terhadap impor bisa terus dikurangi," tambah dia.
Sementara itu, jenis buah dan sayur yang dipasok dari beberapa daerah seperti Medan, Pekanbaru, Padang, Semarang, dan Pontianak yaitu kubis, daun bawang, kacang arcis, sayuran segar, seledri, cabe, dan petai.
"Petani lokal hanya bisa memasok sayur bayam, kangkung, kacang panjang, dan pucuk ubi," ucap Aris.
Menurut aris, sektor pertanian Batam belum mampu memproduksi secara massal beberapa jenis sayuran dan buah karena keterbatasan lahan. Apalagi Badan Pengusahaan Kawasan Batam tidak pernah mengalokasikan lahan khusus untuk pertanian.
"Sejak 1990-an, areal khusus yang disediakan untuk sektor agribisnis berada di daerah Sei Temiang yang dikelola oleh Balai Agribisnis Otorita Batam seluas kurang lebih 150 hektar saja," kata Aris.
(ANT-L/A013/Btm3)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
