Logo Header Antaranews Kepri

Warga Pertanyakan Amdal Pengolahan Timah Eunindo

Sabtu, 6 Agustus 2011 23:07 WIB
Image Print

Karimun (ANTARA News) - Warga Desa Pangke, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau mempertanyakan analisis mengenai dampak lingkungan dari pengolahan biji timah atau "smelter" milik PT Eunindo Usaha Mandiri yang berlokasi di desa tersebut.

"Izin analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dari 'smelter' PT Eunindo Usaha Mandiri (EUM) harus dikaji ulang. Masalahnya, asap yang dihasilkan dari pengolahan biji timah di smelter tersebut sangat menyengat dan meresahkan warga," kata warga Pangke, Sudirman di Karimun, Sabtu.

Sudirman mengatakan warga yang ditinggalkan dalam radius sekitar 500 meter mengeluhkan aroma asap yang keluar melalui cerobong smelter tersebut.

"Aromanya menyengat dan membuat sesak nafas. Kalau asap hasil pembakaran sampah mungkin tidak masalah, tapi asap ini kemungkinan bercampur zat kimia dan dikhawatirkan mengganggu kesehatan warga," ucapnya.

Menurut dia, instansi terkait harus meninjau ulang izin Amdal yang dikantongi perusaaan tersebu agar keberadaannya tidak meresahkan warga.

"Kalau izin Amdalnya sudah benar, mungkin masalah ini tidak muncul. Paling tidak, ketinggian cerobong asap harus ditambah agar asap yang keluar tidak menyapu pemukiman warga," tuturnya.

Izin Amdal, kata dia, mencakup semua aspek sehingga kegiatan sebuah perusahaan tidak mengganggu warga di sekitarnya, termasuk pencemaran udara.

"Perusahaan pasti tidak ingin jika kegiatannya diganggu warga, begitu juga dengan warga yang ingin hidup nyaman dan sehat. Kalau setiap hari mencium asap hasil pengolahan timah, bisa-bisa warga terserang penyakit," ujarnya.

Gasimo, warga yang tinggal di dekat smelter mengatakan, kepulan asap memasuki rumahnya setiap hari ketika perusahaan tersebut melakukan pengolahan biji timah menjadi batangan.

"Asap mengepul sepanjang hari bahkan sampai malam. Kecuali jika tidak ada kegiatan di sana. Asap menyapu rumah ketika angin mengarah ke sini, tadi pagi bau asap terasa menyengat dan menyesakkan dada," ucapnya.

Seorang pedagang makanan yang enggan disebutkan namanya mengatakan hal yang sama.

"Biasanya baunya tidak sekuat hari ini, bukan saya saja yang harus menutup hidung, pekerja bangunan di depan kedai saya juga melakukan hal yang sama," katanya.

Menurut dia, asap menyapu kedainya saat angin berhembus dari arah smelter. "Kalau mengarah ke laut tidak masalah, asap tidak sampai ke sini," ucapnya.

(ANT-RD/B013/Btm3)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026