
Kendaraan Industri Satu Penyebab Solar Bersubsidi Langka

Batam (ANTARA News) - Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral Kota Batam, Ahmad Hijazi menilai salah satu penyebab kelangkaan bahan bakar minyak adalah banyak kendaraan pengangkut barang industri menggunakan solar bersubsidi.
"Banyaknya kendaraan pengangkut barang industri yang menggunakan solar bersubsidi juga menjadi salah satu penyebab kelangkaan di Batam," katanya di Batam, Kamis.
Menurut Hijazi, hingga kini belum ada kepastian tentang kendaraan jenis tersebut apakah boleh menggunakan BBM bersubsidi atau tidak.
"Ini memang bukan masalah Batam saja, namun juga jadi masalah nasional. Hal tersebut tidak menjadi kewenangan daerah untuk mengaturnya. Mengenai jenis kendaraan konsumen BBM subsidi diatur dalam peraturan berupa Keputusan Presiden," tambah Hijazi.
Menurut Hijazi, pengertian tentang sektor transportasinya harus dipertegas.
"Kami juga sedang mempelajari aturan-aturan apakah daerah bisa membuat regulasi terkait masalah ini," kata Hijazi.
Ia mengatakan persoalan ini harus segera ditemukan jalan keluarnya karena kalau dibiarkan akan terus menjadi masalah bagi masyarakat.
"Masih banyak hal yang perlu dievaluasi untuk mengatur penyaluran subsidi BBM," ujar Hijazi.
Saat ini, kata Hijazi, Pemerintah Kota Batam tengah mengevaluasi rasio stasiun pengisian bahan bakar minyak umum (SPBU) dan kuota dai Pertamina, serta sistem distribusi yang digunakan agar tepat sasaran.
"Kami juga membahas tentang pemanfaatan kartu fasilitas BBM bersubsidi, sebagai solusi mengatasi kelangkaan," kata Hijazi.
Anggota Komisi I DPRD Batam, Sukaryo mengatakan Pertamina tidak bisa lepas tangan atas kelangkaan BBM subsidi di Kota Batam belakangan ini.
"Pertamina juga bertanggungjawab atas penyaluran bahan bakar tersebut, apakah sampai ke masyarakat sasaran atau tidak. Jadi mereka tidak bisa lepas tangan begitu saja," kata Sukaryo.
Menurut dia, Pertamina harus menjelaskan pada masyarakat mengenai sistem distribusi BBM yang dilakukannya.
"Selama ini Pertamina terkesan tertutup dan tidak menjelaskan pola distribusi mereka," ujarnys.
(pso-292/A013)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
