Logo Header Antaranews Kepri

APMM Serahkan Tugboat dan Tongkang Hasil Bajakan

Selasa, 22 November 2011 15:48 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Pihak Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia secara resmi menyerahkan tugboat Marina 26 dan tongkang Marine Power 3301 berbendera Indonesia kepada pihak PT Bahtera Bestari Shipping setelah berhasil direbut dari perompak di Bintulu, Negara Bagian Serawak, Malaysia, pada Minggu 24 Juli 2011.

Penyerahan dan penandatanganan berita acara langsung dilakukan oleh Direktur Cawangan Penguatkuasaan dan Eksesais Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) Laksamana Pertama Maritim Dato' Che Hassan Bin Jusoh dan Direktur Utama PT Bahtera Bestari Shipping, Hengky Suryawan di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Selasa.

Serah terima tugboat dan tongkang yang dirampas oleh perompak pada 22 Maret 2011 di perairan Pulau Tioman, Malaysia itu juga disaksikan oleh Gubernur Kepulauan Riau, Muhammad Sani, Danlantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI Darwanto serta Kepala Pusat Operasi Bakorkamla Laksamana Pertama Susanto.

"Ditemukannya tugboat dan tongkang yang dibajak ini berkat kerja sama semua pihak," kata Dato' Che Hassan Bin Jusoh.

Penyerahan tugboat dan tongkang itu juga berdasarkan keputusan pengadilan di Negara Bagian Serawak, Malaysia.

Kapal tunda dan tongkang yang dibajak perompak itu sudah berganti warna dan nama pada saat ditemukan lego jangkar di sebuah sungai yang tidak jauh dari galangan kapal di Negara Bagian Serawak, Malaysia.

Direktur Utama PT Bahtera bestari Shipping, Hengky Suryawan mengatakan warna tugboat dan tongkang sudah berganti menjadi biru dari warna awal merah, serta nama tugboat dari Marina 26 berganti nama menjadi Prime No 1 dan tongkang Marine Power 3301 berganti nama jadi Prime No 2.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak sehingga kapal tongkang dan tugboat bisa ditemukan dan berada lagi di Tanjungpinang," katanya.

Selain itu, pada saat ditemukan bendera kapal juga sudah berganti dari bendera Indonesia menjadi berbendera La Paz, Bolivia, namun surat-surat kapal tidak ditemukan.

Kepala Pusat Operasi Bakorkamla Laksamana Pertama Susanto mengatakan pelaku perompakan itu merupakan sindikat internasional dan sudah direncanakan dengan matang.

"Namun kami bersyukur dalam waktu cepat bisa ditemukan," katanya.

Para pembajak menurut dia juga sangat profesional karena dalam waktu dua hari bisa merubah warna dan nama kapal, serta surat-suratnya pada saat anak buah kapal disekap sebelum dilepaskan di perairan Natuna.

Tugboat Marina 26 dan tongkang Marine Power 3301 dibajak dan dirampas di perairan Tioman, Malaysia, di Laut China Selatan yang berbatasan dengan Laut Natuna, saat berlayar dari Singapura menuju Kohkong, Kamboja pada 22 Maret 2011 untuk menjemput pasir darat.

Perampasan terjadi pada Selasa (22/3) pukul 22.00 WIB dan baru diketahui pada Sabtu (26/3), setelah sepuluh orang awak kapal diselamatkan oleh nelayan Natuna pada pukul 11.00 WIB saat mereka terombang-ambing di tengah laut di titik koordinat 05.17.690 N 108.19.668 E.

"Awak kapal terombang-ambing di laut lepas selama 39 jam di dalam sekoci penyelamat (liferaft) setelah dibebaskan perompak pada Kamis (24/3)," kata Hengky.

Awak kapal sempat disekap selama dua hari dengan tangan terikat sebelum dilepas oleh perompak yang diperkirakan lebih dari sepuluh orang.

Kru kapal tugboat 2x1200 HP Nomor 2486/Ppm dan tongkang 330x90x20 Fit tersebut diberi makan dengan cara disuapi perompak sebelum dilepas dengan dibekali mie instan dan air minum serta uang Rp750 ribu.

(pso-029/M019)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026