Logo Header Antaranews Kepri

BPOM Tingkatkan Pengawasan Khusus bagi Batam

Sabtu, 11 Februari 2012 04:28 WIB
Image Print

Batam (ANTARA Kepri) - Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia akan meningkatkan pengawasan khusus masuknya bahan baku ilegal termasuk untuk kosmetik dan obat yang rentan ke kawasan perbatasan di Pulau Batam.

"Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) beberapa kali menangkap upaya penyelundupan sejumlah bahan baku ilegal termasuk bagan obat diet dan pelangsing berjenis Sibutramin yang berbahaya. Atas temuan tersebut kami terus berupaya meningkatkan pengawasan khusus di Batam," kata Kepala Badan POM RI, Lucky S Slamet saat meresmikan kantor BPOM di Batam, Jumat.

Lucky mengatakan, Selain bahan baku ilegal tersebut, BPOM bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Interpol juga pernah menemukan selundupan obat berjenis Cobein yang dimasukan ke Batam dari Singapura melalui perairan Kepri.

"Cobein sebenarnya termasuk obat yang bebas diperjualbelikan di Singapura, namun di Indonesia obat tersebut dilarang karena termasuk dalam kategori narkoba," kata dia.

Disamping peran BPOM, ia juga meminta peran Kepolisian dan BNN untuk mengawasi masuknya produk-produk yang masuk ke Batam karena banyaknya jenis produk butuh pengawasan khusus.

"Saat ini kantor BPOM di Batam telah memiliki alat laboratorium yang bisa dimanfaatkan untuk meneliti sempel barang-barang yang dianggap mebahayakan. Laboratorium ini juga bisa digunakan bagi keperluan pihak ketiga seperti BNN dan Kepolisian," kata Lucky.

Menurut Lucky, keberadaan BPOM di Batam sangat sangat tepat mengingat Batam dan Kepri masih rawan menjadi pintu masuk produk-produk yang dilarang dan berbahaya karena berdekatan dengan Singapura dan Malaysia sehingga perlu pengawasan khusus dengan fasilitas yang memadai.

Kepala BPOM Batam, Fanani Mahmud, mengatakan jumlah alat laboratorium BPOM di Batam mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Pada 2009 alat laboratorium berjumlah 16 buah, pada 2010 37 buah, dan pada 2011 melonjak signifikan menjadi 392 buah. Alat-alat tersebut antara lain Gas Chromatology, HPLC dengan detektor flouresence dan PDA, AAS, Biosafety Cabinet, ThermohYgrometer, Conductivitymeter, Laminar Air Flow, Protein Analyzer, Antibiotic Reader, Soxgler Extractor, dan Aqua Demineralisator.

"Untuk 2011 kami mendapat anggaran Rp20 miliar untuk melengkapi alat laboratorium. Pada 2012, BPOM akan melakukan pengawasan 1.073 sample produk obat dan makanan dari sarana distribusi yang ada di Kepri," ujarnya.

(KR-LNO/M009)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026