TNI "Unjuk Kekuatan" di Gerbang Utara Indonesia

id TNI,Unjuk, Kekuatan, Gerbang, Utara, Indonesia,natuna,latihan,gabungan,pprc,pasukan,reaksi,cepat

Satu pleton Batalyon Lintas Udara (Linud) 330 Kostrad melintas di jalan Desa Tanjung usai acara penutupan latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, Jumat (7/9). (kepri.antaranews.com/Rusdianto)

LETUSAN senjata laras panjang memecah keheningan pagi pukul 05.00 WIB di Desa Ceruk, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Jumat (7/9).

Letusan itu bersumber dari "baku tembak" antara sejumlah prajurit TNI dengan satu "gerombolan bersenjata" yang telah menguasai desa yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Ranai, ibukota Natuna.

Pertempuran diawali drama penyergapan oleh pihak TNI pada enam target dengan melibatkan dua kompi Batalyon Infanteri Lintas Udara (Linud) 330 Kostrad.

Kompi A menyergap pada 4 target, sedangkan kompi C dengan dua sasaran. Keduanya menyerang dari arah berlawanan. Baku tembak tak bisa dihindari ketika pihak 'musuh' mengetahui penyergapan yang menerapkan taktik serangan permukiman tersebut.

Kontak senjata berlangsung sekitar 20 menit dengan kemenangan berada di pihak TNI. Pihak musuh satu per satu berjatuhan sehingga memudahkan TNI kembali menguasai desa di kaki Gunung Ranai tersebut.

Serangan tersebut merupakan kelanjutan dari serangan sehari sebelumnya oleh Pasukan Marinir di desa yang sama. Marinir juga terlibat pertempuran jarak dekat dengan musuh pada dua sasaran.

Serangan fajar Linud dan Marinir itu adalah puncak dari latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI Kilat XXIX/2012 yang digelar di Natuna sejak 31 Agustus 2012.

Rangkaian latihan diawali dengan penerjunan KDOL (Komando Depan Lintas Udara) di Bandara Lanud Ranai pada Minggu (2/9) pukul 02.00 WIB. Pada saat yang sama, pasukan IFAM (intai amphibi) juga mendarat di Pantai Sengiap yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Desa Ceruk, atau 25 KM dari Ranai.

KDOL bertugas melakukan pengintaian udara serta melumpuhkan kekuatan serangan udara musuh sebagai pembuka jalan bagi Linud 330 melakukan penerjunan udara dari enam pesawat hercules pada Selasa (4/9) pagi.

Dalam skenarionya, Linud ditugaskan merebut Bandara Lanud dan sejumlah objek vital yang diduduki musuh. Sedangkan IFAM melakukan pengintaian, pembersihan dan pengamanan pendaratan amfibi Pasukan Marinir menggunakan 30 tank dari lima kapal perang dalam jarak sekitar 3.500 yard dari bibir Pantai Sengiap.

Tahapan latihan lainnya adalah merebut kembali Kantor Bupati Natuna, depo pertamina, stasiun meteorologi, RSUD dan stasiun radar. 

Penerjunan Linud dan pendaratan amphibi Marinir ditinjau langsung oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono didampingi sejumlah petinggi tiga matra TNI, baik AD, AU, maupun AL.

Latihan tersebut berakhir dan ditutup secara resmi oleh Kepala Staf Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) Mayor Jenderal TNI Harry Purdianto di lapangan sepak bola Desa Tanjung, Bunguran Timur Laut, Jumat (7/9) pagi.

Penanggulangan Awal

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan, PPRC merupakan sebuah satuan di bawah kendali Panglima Kostrad yang memiliki tugas melakukan penangggulangan awal terhadap ancaman dan gangguan di seluruh wilayah Indonesia.

"Kalau PPRC tidak mampu, maka atas perintah Panglima akan dibentuk komando operasi gabungan dalam jumlah yang lebih besar. Namun dalam latihan kali ini, kami menganggap PPRC mampu untuk melaksanakan tugas itu," ucapnya.

Dalam amanatnya yang dibacakan Kas Kostrad Mayjen TNI Harry Purdianto, Panglima mengatakan, PPRC merupakan sebuah kekuatan respons cepat dalam penangkalan dan penindakan sehingga memiliki peran yang strategis dalam sistem dan struktur keamanan nasional.

"Latihan PPRC adalah salah satu upaya untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan TNI bila dihadapkan dengan perkembangan lingkungan strategis, serta tren ancaman akibat makin ketatnya persaingan antarnegara dalam menjaga dan memenuhi kepentingan nasional masing-masing," ucapnya.

Latihan tersebut, kata dia, setiap tahun digelar dan digilir antara Divisi I Wilayah Barat dan Divisi II di timur.

"Tahun ini kita laksanakan di Natuna, tahun depan mungkin di Sangatta atau bisa juga di Dumai," ucapnya.

Asisten Operasi Kostrad selaku Kawasdal Latihan PPRC Kolonel (inf) Ainurrahman mengatakan, tema latihan adalah PPRC TNI melaksanakan operasi penindakan untuk memulihkan situasi Natuna dalam rangka mengembalikan integritas wilayah NKRI.

Sementara jumlah prajurit yang terlibat sekitar 2.500 orang dari berbagai kesatuan, sedangkan yang terlibat dalam latihan penyerangan sekitar 600 personel dari Linud 330 dan Pasukan Marinir.

Sejumlah kesatuan yang dilibatkan di antaranya unsur Satgasrat, Satgasla yang terdiri dari satuan angkut berupa 1 LPD, 2 ATF, 1 BTP Marinir (2 Tim Taifib) dan 2 Tim Paska.

Kemudian Satuan Lindung berupa 2 kapal PK, pesawat udara berupa 1 Cassa dan 1 helly bell, unsur intai udara berupa satu pesawat Boeing 737 Patmar, unsur tempur udara berupa 4 pesawat Hawk, unsur angkutan udara terdiri atas 6 pesawat C 130 dan 1 C-130 Kodal.

Selanjutnya, unsur heli SAR (1 SA 330 PM), unsur Paskhas yang terdiri dari 1 Tim Dallan, 6 Tim Jump Master dan 1 Tim Sarpur. Sedangkan unsur pangkalan yaitu Lanud Halim Perdanakusumah, Lanud Supadio dan Lanud Ranai.

"Metode operasi terdiri dari operasi Linud, operasi amfibi, operasi dukungan udara, operasi penggabungan dan operasi serangan darat gabungan yang menerapkan taktik serangan permukiman," tuturnya.

Mengenai jalannya latihan, Kas Kostrad Mayjen TNI Harry Purdinato mengatakan, berjalan lancar, aman dan sesuai dengan yang diharapkan.

"Kendalanya masalah cuaca di pulau-pulau serta angin kencang saat penerjunan Linud. Selain itu, ada beberapa prajurit yang terluka dan sudah mendapat perawatan di rumah sakit," katanya.

Latihan tersebut, tambah dia, menjadi bahan evaluasi oleh pimpinan untuk tugas dan latihan-latihan berikutnya.

Pembuktian Militer

Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Wan Zawali menilai latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) merupakan pembuktian kekuatan militer Indonesia.

"Kami menyambut baik latihan PPRC ini apalagi dilaksanakan di Natuna yang berada di perbatasan. Dengan latihan ini diharapkan membuat negara tetangga takut melihat kekuatan TNI. Apalagi, tentara kita sangat berani dan tangkas dalam bertempur seperti kami amati dalam latihan," katanya.

Wan Zawali mengatakan, ketangkasan prajurit Linud saat terjun payung serta pendaratan amfibi oleh Marinir merupakan satu penunjukan kekuatan mental prajurit dalam menghadapi kemungkinan paling buruk terhadap keutuhan teritorial NKRI.

Menurut dia, pelaksanaan latihan di Natuna merupakan satu momentum yang tepat ketika sejumlah negara sedang terlibat sengketa kepemilikan beberapa pulau di Laut China Selatan.

"Pas momennya sehingga negara-negara yang terlibat sengketa dapat melihat bahwa Indonesia sangat serius menjaga kedaulatannya di perbatasan," ucapnya.

Bupati Natuna Ilyas Sabli mengatakan, latihan PPRC adalah momen untuk memperkuat pengamanan Natuna yang berbatasan dengan sejumlah negara tetangga.

Kabupaten Natuna yang berjuluk "Gerbang Utaraku" memiliki luas sekitar 141.901,2 kilometer per segi, dengan luas daratan sekitar 3.235 kilometer per segi, atau hanya 2,28 persen dari luas wilayah keseluruhannya dengan jumlah pulau sebanyak 272 baik kecil maupun besar.

Penambahan kekuatan TNI di laut, menurut dia, sangat penting karena Natuna berbatasan dengan sejumlah negara tetangga, yaitu Vietnam dan Kamboja, Malaysia Timur dan Semenanjung Malaysia dan Laut China Selatan.

"Latihan ini cukup positif dalam memperkuat pertahanan. Menurut persepsi saya, TNI harus memperkuat pertahanan di laut karena lebih luas daripada daratan," kata Bupati.

Sementara itu, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan, latihan PPRC tidak berkaitan langsung dengan sengketa klaim kepemilikan sejumlah pulau oleh beberapa negara di Laut China Selatan.

"Dalam skenarionya memang seperti itu, tapi sekali lagi di Laut China Selatan itu kita bukan salah satu negara yang terlibat di dalam klaim kepemilikan pulau seperti Pulau Paracel atau Spratly

Namun demikian, konflik di Laut China Selatan pasti akan berimbas hingga Natuna jika terjadi negara-negara yang terlibat dalam sengketa mengerahkan kekuatan militernya.

"Memang tidak ada kaitan langsung dengan itu karena ini latihan rutin, tetapi latihan ini untuk antisipasi kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi di sini.

Ia menambahkan, TNI akan terus mengevaluasi perkembangan di Laut China Selatan terkait kemungkinan penambahan kekuatan pasukan di Natuna.

"Sampai saat ini kami menilai belum perlu, penambahan pasukan baru akan dilakukan di Batam dengan membentuk satu batalyon marinir," ucapnya. (RDT/H-KWR)

Editor: Kaswir
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar