
Permainan On Line Picu Kekerasan pada Remaja

Batam (ANTARA Kepri) - Permainan "on line" memicu timbulnya rasa egois dan ingin menguasai orang lain sehingga berujung pada tindak kekerasan pada remaja.
"'Game on line' menimbulkan rasa emosional yang tinggi pada anak-anak dan remaja," kata Ketua Komite III DPD RI Hardy Selamat Hood di Batam, Sabtu.
Ia mengatakan permainan video yang dimainkan secara langsung bersama-sama orang lain memacu keinginan untuk menang dan mengalahkan dan menguasai orang lain. Apalagi permainan yang memiliki unsur perkelahian.
Menurut Hardy, permainan "on line" merusak mental remaja Indonesia sehingga banyak terjadi tawuran.
"'Game on line' memicu tawuran," kata mantan Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam itu.
Tawuran dijadikan saluran pelampiasan sifat-sifat kekerasan, dan ingin menguasai orang lain yang ditimbulkan oleh permainan "on line".
Makanya, kata Hardy melanjutkan, seharusnya pemerintah melarang "game on line" untuk anak-anak dan remaja.
"Di Malaysia, itu sudah dilarang. Tapi di kita belum, seharusnya itu dilarang," kata dia.
Menurut Hardy, orang tua harus jeli dalam memilih aktivitas anak dan remaja di waktu luang. Ketimbang menghabiskan waktu bermain di depan layar komputer atau tablet, lebih baik anak dan remaja diarahkan melakukan hal bermanfaat.
Untuk meminimalkan dampak buruk permainan "on line", Hardy meminta pemerintah daerah mengintensifkan razia warung internet dan tempat-tempat permainan on line serta video saat jam sekolah.
"Saya berharap Satpol PP merazia agar anak-anak tidak main game saat jam sekolah," kata dia.
Hardy mengatakan akan meminta Menteri Komunikasi dan Informasi untuk menyaring dan melarang "game on line" yang bisa dimainkan anak-anak dan remaja.
"Ini penting agar 'game on line' tidak merusak mental anak-anak kita menjadi emosional," kata dia. (Y011/E001)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
