Logo Header Antaranews Kepri

Kasus Kebakaran di Tanjungpinang Capai 76 Titik

Kamis, 8 November 2012 19:58 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Kasus kebakaran yang terjadi di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau sejak Januari-Oktober 2012 mencapai 76 titik.

"Salah satu penyebab terjadinya kebakaran tersebut adalah kelalaian warga, yang membuka lahan baru milik mereka dengan cara pembakaran, dan faktor lainnya, akibat konsleting arus pendek aliran listrik PLN," Komandan Pleton Pemadam Kekaran (Danton PMK) Pemkot Tanjungpinang, Nardiansyah, Kamis.

Berdasarkan data dari petugas lapangan pemadam kebakaran, sebanyak 70 persen kebakaran terjadi di kawasan hutan akibat pembukaan lahan oleh warga. Sedangkan 30 persen kasus kebakaran terjadi di rumah warga.

Kebakaran tidak hanya korban kehilangan harta, melainkan juga merenggut korban jiwa. Dalam kebakaran itu terdapat korban meninggal dunia sebanyak tiga orang di dua lokasi berbeda yakni kawasan hutan lindung sebanyak dua orang dan seorang lagi dialami anak Yayasan Panti Asuhan Ummi Alfitrah.

"Salah satu penyebab keterlambatan pemadaman api, karena lambatnya informasi yang diberikan masyarakat kepada petugas pemadam kebakaran. Hal lain termasuk masih minimnya sarana dan prasarana yang kita miliki selama ini," ungkap Nardiansyah.

Menurut dia, jumlah mobil pemadam kebakaran yang dimiliki Pemkot Tanjungpinang hanya lima unit. Jumlah itu dinilai masih di bawah standar.

Sementara jumlah tenaga petugas kebakaran berjumlah 27 orang. Minimnya fasilitas sarana hidran air yang bisa digunakan selama 24 jam juga menjadi kendala bagi petugas untuk memadamkan api. Jika fasilitas itu memadai, maka pada saat terjadinya kebakaran petugas tidak terlalu sulit mendapatkan sumber air yang dekat dengan lokasi terjadinya kebakaran saat itu.

Permasalahan lainnya yang dihadapi adalah belum tersedianya bak penampungan air untuk digunakan pada saat terjadinya peristiwa kebakaran itu.

"Selayaknya Pemkot Tanjungpinang memiliki enam unit mobil pemadam kebakaran. Sementara kondisi saat ini hanya empat unit yang dapat dipergunakan," katanya. (ANTARA)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026