
Harga Anjlok Pebudidaya Tunda Pasarkan Rumput Laut

Karimun (ANTARA Kepri) - Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Karimun, Provinsi Kepulauan Riau Hazmi Yuliansyah mengatakan, para pebudidaya rumput laut di daerah itu menunda untuk memasarkan hasil panen karena harga rumput laut dunia sedang anjlok.
"Untuk sementara, rumput laut hasil panen para pebudidaya, terutama di Kecamatan Moro disimpan di depo yang kami siapkan di Pulau Jaga dan Pulau Sugie sambil menunggu harganya pulih kembali," katanya di Tanjung Balai Karimun, Senin.
Hazmi Yuliansyah mengatakan, harga rumput laut saat ini anjlok pada kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram jika dibandingkan beberapa bulan lalu yang berkisar Rp8.000 hingga Rp9.000/kg.
"Anjloknya harga rumput laut bukan karena faktor cuaca yang sedang musim hujan, tetapi karena harga pasar di dunia memang sedang turun," katanya.
Menurut dia, di Kecamatan Moro yang merupakan sentra budidaya rumput laut memiliki sekitar 1.400 pebudidaya yang menggarap lahan seluas sekitar 50 hektare.
"Turunnya harga rumput laut dunia memang berimbas bagi para pebudidaya di daerah itu. Namun mereka punya pekerjaan utama sebagai nelayan sehingga tetap memiliki penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari," ucapnya.
Selain beralih menjadi nelayan, kata dia, para pebudidaya juga diarahkan untuk mengembangkan bibit rumput laut asal Bali untuk menggantikan bibit lama dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas panen.
"Pebudidaya kami harapkan agar fokus untuk mengembangkan bibit asal Pulau Bali yang sudah kita uji coba. Kualitasnya sangat bagus dan cocok untuk dikembangkan di perairan Moro. Masa penyemaian bibit ini membutuhkan waktu sekitar 25 hari, kami berharap setelah penyemaian selesai, harga rumput laut dunia kembali setidaknya sama seperti harga semula," tuturnya.
Disinggung mengenai produksi rumput laut akibat terhentinya aktivitas budidaya rumput laut, Hazmi mengatakan mengalami penurunan dari 20 ton menjadi sekitar 5 hingga 10 per bulan.
"PT Bahana Cipta Arta (BCA) selaku penyalur juga menghentikan sementara untuk menampung hasil panen terkait anjloknya harga rumput laut dunia. Namun demikian, satu penyalur lokal masih bersedia menampung hasil panen jika masih ada pebudidaya yang berkeinginan untuk menjual rumput laut yang mereka panen," jelasnya.
Dikatakannya, PT BCA yang memiliki pabrik pengolahan rumput laut di Surabaya, biasanya menampung rumput laut pebudidaya Moro untuk diekspor ke Filipina, sedangkan penyalur lokal ke Singapura.
"Meski harga rumput laut anjlok, namun kami tetap memiliki target untuk pengembangan rumput laut dari total 50 hektare tahun ini menjadi 60-70 hektare pada 2013. Potensi lahan untuk budidaya rumput laut masih sangat luas, sekitar 1.500 hektare," tambahnya. (ANTARA)
Editor: Setiyono
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
