Catatan Akhir Tahun - Runtuhnya Kekuasaan Pemimpin Perempuan Tanjungpinang

id Catatan, Akhir, Tahun,Runtuh,Kekuasaan, Pemimpin, Perempuan, Tanjungpinang,wali,kota,suryatati,maya,suryanti,pilkada,lis,darmansyah

PERJALANAN demokrasi Pemilihan Kepala Daerah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau akhirnya berubah, setelah 17 tahun dipimpin oleh seorang perempuan yang bernama Suryatati A Manan.

Keberuntungan perempuan yang beberapa kali masuk 10 besar sebagai tokoh politik wanita di Indonesia itu mulai nampak setelah diangkat sebagai Wali Kota Administratif Tanjungpinang keempat oleh Menteri Dalam Negeri pada 22 April 1996. Jabatan itu berakhir pada 23 Oktober 2001 atau tiga tahun setelah reformasi bergulir di Tanah Air.

Kekuatan politik Suryatati yang memulai karir sebagai pegawai negeri sipil (PNS) itu cukup mengakar, terutama dukungan dari kalangan ibu-ibu yang menjadi pengurus majelis taklim. Perjalanan politik pemimpin Tanjungpinang menunjukan Suryatati tidak terkalahkan.

Suryatati merupakan Karateker Wali Kota Tanjungpinang ketika status kota administratif berubah menjadi kota otonom berdasarkan UU Nomor 5/2001 tanggal 21 Juni 2001. Ia diangkat sebagai Pejabat Wali Kota Tanjungpinang pada 23 Oktober 2001 sampai dengan 31 Desember 2002.

Perubahan sistem demokrasi tidak menggoyangkannya. Wakil Wali Kota Tanjungpinang yang mendampinginya bisa berganti-ganti, namun Suryatati tetap kokoh sebagai orang nomor satu di Kota Gurindam.

Dalam catatan sejarah perjalanan sistem demokrasi pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah tidak langsung, Suryatati yang berpasangan dengan Wan Izhar Abdullah dipilih oleh oleh DPRD Kota Tanjungpinang pada tanggal 21 Desember 2002. Pasangan pemimpin Tanjungpinang itu dilantik pada tanggal 16 Januari 2003, dan masa jabatannya berakhir sampai 16 Januari 2008.

Perubahan sistem demokrasi tidak langsung menjadi langsung juga tidak membuatnya gentar. Ia kembali mencalonkan diri dengan memilih pasangan dari kalangan birokrat yaitu Edward Murshalli pada Pilkada Tanjungpinang yang pertama kali dilaksanakan di kota itu pada 5 Desember 2007.   

Ia berhasil menarik simpati masyarakat dengan perolehan suara 84,25 persen. Tanggal 16 Januari 2008 Suryatati dan Edward dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang. Perolehan suara yang dominan itu membuat dirinya tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) atas kepala daerah wanita yang memperoleh suara tertinggi pilkada langsung.     

Jika sistem tidak menghalanginya untuk mencalonkan diri kembali pada 31 Oktober 2012, maka kemungkinan Suryatati kembali menjadi calon kepala daerah dan tidak akan sulit mempertahankan tahtanya. Namun masa kejayaannya kandas pada 16 Januari 2013, karena UU Nomor 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah hanya memberi kesempatan selama dua periode sebagai kepala daerah.

"Suryatati memiliki kekuatan politik yang cukup besar. Warna perjalanan demokrasi tidak akan seru jika dia masih dapat mencalonkan diri," kata pengamat politik Zamzami A Karim baru-baru ini.         
 
Pertarungan Politik

Suryatati tidak berhenti bergerak, meski tidak dapat lagi mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Pertengahan tahun 2011, Maya Suryanti, putri sulungnya, yang sehari-hari berprofesi sebagai pengusaha, tiba-tiba muncul sebagai bakal calon Wali Kota Tanjungpinang, yang kemudian diusung Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Persatuan Pembangunan.

Maya bukan tokoh politik dan kurang populer pada saat itu. Berbagai pihak mengenal Maya, lantaran ia putri dari Wali Kota Tanjungpinang.

"Saya mencalonkan diri karena ingin meneruskan perjuangan ibu dalam melayani masyarakat," kata Maya.

Namun perjalanan waktu menjelang dimulainya tahapan Pilkada Tanjungpinang tahun 2012, beberapa partai pun mengusung Maya yang berpasangan dengan Tengku Dahlan, yang saat itu menjabat sebagai Sekda Tanjungpinang. Salah satu partai besar yang mengusung Maya-Dahlan adalah Golkar, karena menganggap ketokohan Suryatati akan menguatkan Maya.

Berbagai pihak menilai Maya semakin cerdas, dan mewarisi kekuatan ibunya.   

"Maya relatif lebih bersih, bersemangat dan disukai masyarakat," kata Ketua PKS Tanjungpinang Alfin M Nur.

Lawan berat Maya adalah Lis Darmansyah, yang saat ini masih menjabat Wakil Ketua DPRD Tanjungpinang. Lis pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Tanjungpinang, dan dua periode terpilih menjadi anggota DPRD Kepri daerah pemilihan Tanjungpinang.

Lis yang diusung PDIP dan Partai Amanat Nasional juga melakukan manuver politik yang mengejutkan, salah satunya memilih pasangan yang kurang populer yaitu Syahrul.

Rival politik lainnya pasangan Hendry Frankim-Yusrizal dan Husnizar Hood-Rudy Chua.

Berbagai pihak sulit menduga siapa yang bakal memenangkan pilkada yang digelar 31 Oktober 2012 itu. Lis Darmansyah unggul dalam berbagai survei pilkada, namun persentase dukungan masyarakat Maya Suryanti menjelang pilkada juga meningkat tajam.

"Dua pasangan itu terlihat paling gesit mencari simpati dan dukungan dari masyarakat," kata Zamzami A Karim, yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Raja Haji Tanjungpinang.

KPU Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau secara resmi menetapkan pasangan calon wali kota-wakil wali kota Lis Darmansyah dan Syahrul sebagai pemenang Pilkada Tanjungpinang yang dilaksanakan Rabu (31/10).

Berdasarkan hasil pleno penghitungan suara di KPU Tanjungpinang, Rabu, pasangan nomor urut 2 Lis Darmansyah-Syahrul menang dengan perolehan suara sebanyak 39.129 suara atau 46,01 persen. Sedangkan pasangan nomor urut 1 Maya Suryanti-Tengku Dahlan berada di urutan kedua dengan perolehan 26.616 suara atau 31,30 persen.

Kemudian pasangan nomor urut 4 Husnizar Hood-Rudy Chua memperoleh 13.838 suara atau 16,27 persen dan pasangan nomor urut 3 Hendry Frankim-Yusrizal memperoleh 5.459 suara atau sebesar 6,42 persen.

"Pasangan Lis-Syahrul menang di tiga kecamatan dari empat kecamatan yang ada di Tanjungpinang," katanya.

Perubahan

Ini adalah kemenangan rakyat, kata Lis setelah mengetahui hasil pemungutan suara.

Lis Darmansyah-Syahrul berjanji akan melakukan perubahan di Tanjungpinang. "Tidak ada dendam politik, melainkan kami akan merangkul pejabat yang cerdas dan bekerja secara profesional," ujarnya.

Selain meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Lis mengaku telah merancang empat program kemasyarakatan yang akan direalisasikan dalam waktu dekat setelah dilantik menjadi wali kota.

Program yang akan dilakukan adalah penyediaan air bersih, listrik memadai, peningkatan ekonomi kerakyatan dan penyelesaian konflik lahan.

"Empat program itu yang dibutuhkan masyarakat saat ini," katanya.

Lis juga berupaya melakukan perubahan gaya kepemimpinan. Ia akan memimpin Tanjungpinang dengan cara yang sederhana, tidak menggunakan APBD untuk hal-hal yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat.

Bahkan dia meminta pengadaan konsumsi pada saat pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang, tidak dianggarkan secara mewah, melainkan sederhana dan melibatkan pedagang kecil.

"Tidak perlu konsumsi pelantikan sayau menggunakan jasa katering yang terkesan mewah, cukuplah dengan menikmati masakan pedagang kecil," katanya.

Lis juga meminta agar pemerintah mengizinkan pedagang makanan yang menggunakan gerobak berjualan pada saat dirinya dilantik sebagai Wali Kota Tanjungpinang. Ia menginginkan pelantikan itu memberi manfaat bagi pedagang kecil.

"Jangan dilarang mereka berjualan pada saat saya dilantik," ujar Lis yang akan dilantik bersama Syahrul, wakilnya, pada 16 Januari 2013.

Lis yang juga Sekretaris DPW PDIP Kepri tidak mempersoalkan alokasi anggaran untuk pelantikan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang terpilih sebesar Rp300 juta.

"Jika perlu, anggaran untuk pelantikan saya dan Pak Syahrul dikurangi lagi," ujarnya. (ANTARA)

Editor: Rusdianto
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar