
Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang berdayakan kader posyandu guna kesejahteraan janin

Tanjungpinang (ANTARA) - Tim Dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), memberdayakan kader posyandu guna mengoptimalkan kesehatan dan kesejahteraan janin, yang diikuti puluhan kader dari delapan posyandu di Kelurahan Kampung Bugis, Tanjungpinang.
"Kegiatan ini melibatkan Puskesmas Kampung Bugis beserta bidan penanggung jawab kegiatan sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu hamil," kata Ketua Tim Dosen Program Studi D III Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang Darwitri, Kamis.
Dia menjelaskan program tersebut lahir dari keprihatinan masih ditemukannya kasus anemia dan masalah gizi pada ibu hamil di Kampung Bugis, mengingat Taksiran Berat Janin (TBJ) sangat penting dipantau sejak dini, karena pertumbuhan janin tidak selalu konstan dan berpengaruh langsung pada risiko komplikasi persalinan.
“Selama ini kegiatan posyandu lebih fokus pada pelayanan bayi dan balita. Padahal peran kader dalam memantau kesehatan ibu hamil sama pentingnya untuk mencegah komplikasi dan menjaga kesejahteraan janin,” ujarnya.
Darwitri menjelaskan pertemuan perdana ini diawali dengan pre-test berupa pengisian kuesioner untuk mengukur pemahaman awal kader.
Selanjutnya para kader posyandu mendapat materi tentang pentingnya memantau TBJ, cara meningkatkan berat janin, anemia pada kehamilan, Kurang Energi Kronik (KEK), hingga target kenaikan berat badan pada ibu hamil.
Baca juga: Danrem sebut sinergitas aparat kunci sukses amankan agenda Wapres di Batam
Menurutnya, anemia pada ibu hamil dapat mempengaruhi berat badan bayi saat lahir, karena anemia pada ibu hamil terjadi penurunan hemoglobin yang dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada perkembangan janin.
Kondisi itu sering bersinggungan dengan KEK, yaitu keadaan ketika ibu hamil mengalami defisit energi dan protein dalam jangka waktu lama yang ditandai dengan lingkar lengan atas lebih dari 23,5 centimeter. KEK meningkatkan risiko anemia, komplikasi persalinan, dan berat badan lahir rendah.
Oleh karena itu, lanjutnya, pemantauan TBJ secara rutin memungkinkan tenaga kesehatan maupun kader posyandu untuk mengevaluasi apakah intervensi gizi, misalnya peningkatan asupan protein, zat besi, asam folat, dan energi berhasil memperbaiki status gizi ibu dan mendukung pertumbuhan janin.
Hal lain yang perlu disarankan kepada ibu hamil seperti melakukan aktivitas fisik secara teratur, memperhatikan pola istirahat, menghindari polusi lingkungan, termasuk menjaga kesehatan mental.
“Banyak pertanyaan menarik yang diajukan kader, mulai dari cara sederhana mendeteksi anemia hingga tips mengedukasi ibu hamil agar mau mengonsumsi makanan bergizi,” kata Darwitri.
Pihaknya juga sudah menyiapkan agenda lanjutan berupa pelatihan teknis kepada kader tentang cara mendeteksi anemia dan KEK pada ibu hamil, sekaligus pendampingan lapangan agar kader mampu melakukan deteksi dini dan optimalisasi kesejahteraan janin, baik saat posyandu maupun kunjungan rumah.
“Harapan kami, kader posyandu bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan ibu hamil dan janin. Dengan pemahaman yang benar, kader bisa memberi informasi yang tepat dan melakukan pendampingan yang lebih efektif,” ucap Darwitri.
Baca juga: SPPG Batam bangun komunikasi pastikan MBG sesuai kebutuhan
Pewarta : Ogen
Editor:
Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
