
Wow...Siswa Telantar Tiga Jam Akibat Guru Mogok

Batam (Antara Kepri) - Sebanyak 660 siswa SD Negeri 002 di Batam Kepulauan Riau, Jumat telantar tiga jam akibat para guru mogok mengajar sebagai protes terhadap kepala sekolah yang mereka anggap arogan dan otoriter dalam memimpin.
Para pelajar di sekolah tersebut hanya duduk-duduk di depan kelas, ketika para guru melakukan pertemuan dengan kepala sekolah dan komite sekolah, hingga kemudian mulai pukul 10.00 WIB para guru dan semua murid masuk ruang kelas.
"Mogok mengajar ini sudak sejak lama direncanakan karena pihak guru sudah lama merasa tidak nyaman atas kepemimpinan kepala sekolah," kata Wakil Ketua Komite SDN 002 Kota Batam, Ahmad Fakih Rambe.
Sedangkan Kepala SD 002 Batam Kota Yuraeni membantah berperilaku arogan (angkuh) dan otoriter (menuntut kepatuhan mutlak), melainkan menyatakan sudah menjalankan fungsinya sesuai dengan ketentuan.
"Sebagai pimpinan wajar memberikan pengarahan dan menyuruh anak buahnya. Saya heran kenapa saya dikatakan otoriter dan arogan," kata Yuraeni.
Yuraeni mengatakan aksi mogok ini baru terjadi sekali ini di sekolahnya.
Ia menduga hal ini terjadi karena ia pernah menegur seorang guru karena tidak masuk kerja beberapa hari tanpa ada pemberitahuan.
Ia mengaku hanya ingin menerapkan kedisiplinan di sekolah yang dipimpinnya.
Berbeda dengan Yuraeni, Ahmad mengatakan, "Guru-guru mengadu kepada kami bahwa kepala sekolah sering membentak. Bahkan infonya kepala sekolah pernah melempar barang ke guru kelas.
Ia mengatakan, guru-guru sudah sering mengadu ke komite sekolah mengenai perilaku kepala sekolah yang juga mereka nilai telah mengakibatkan hubungan antara guru tidak harmonis.
"Guru minta Dinas Pendidikan Kota Batam memindahkan kepala sekolah tersebut karena dinilai tidak bisa memimpin SDN 002," kata dia.
Wakil Wali Kota Batam Rudi yang mendatangi SD 002 langsung menuju ruang majelis guru dan mengumpulkan semua guru yang sedang mengajar.
Rudi berpendapat pemogokan mengajar ini diakibatkan kesalahpahaman antara pihak guru dengan kepala sekolah.
"Kurangnya komunikasi menyebabkan sering terjadi salah persepsi. Ini bukan masalah, dan tidak terjadi apa-apa. Hanya salah paham. Ini sudah selesai dan proses belajar mengajar tidak akan terganggu," kata dia.(*)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
