
"Police Line" Alat Berat Pengeruk Bauksit Dibuka

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Anggota Polres Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau membuka 'police line" pada alat berat pengeruk bauksit di Sungai Carang, padahal baru dipasang sehari yang lalu.
"Kami kecewa dan tidak berdaya. Polisi ini di pihak siapa?" kata warga Sungai Carang Tanjungpinang, Nina, Sabtu.
Pemasangan "police line" pada satu unit alat berat dilakukan anggota polisi pada Jumat (22/3). Pemasangan garis polisi dilakukan setelah warga menghalangi truk yang membawa bauksit keluar dari Sungai Carang.
Warga pun sempat "perang mulut" dengan Heri, salah seorang warga yang diberi kepercayaan oleh penambang untuk mengurusi penambangan bauksit di Sungai Carang. Keributan itu menimbulkan reaksi dari polisi.
Saat itu warga merasa polisi berpihak kepadanya, meski merasa heran kenapa hanya satu unit alat berat yang diberi garis polisi. Warga berharap lahan yang digarap diberi "police line" agar tidak ada lagi penambangan bauksit.
Namun sekarang, warga merasa kecewa karena garis polisi dibuka kembali.
"Kami tidak mengerti kenapa garis polisi itu dibuka kembali," ungkapnya.
Warga memastikan kegiatan di Sungai Carang bukan sekadar pemotongan lahan, melainkan penambangan bauksit. Buktinya, bauksit itu sejak dua bulan lalu diangkut dengan truk menuju tongkang yang bersandar di Sungai Timun.
"Ini bukan pemerataan atau pemotongan lahan untuk jalan, tetapi penambangan bauksit. Jalan di Sungai Carang pun menjadi bergelombang," kata Ismail, warga Sungai Carang.
Warga bukan pertama kali melihat pertambangan bauksit di sekitar perumahannya. Kegiatan penambangan bauksit di atas lahan yang tidak memiliki izin kuasa pertambangan itu sudah pernah dilakukan PT Syahnur, PT Wahana dan PT Ridho.
Dinas Pertambangan Tanjungpinang hanya memberi surat peringatan agar tidak dilakukan penambangan di lokasi tersebut. Namun polisi yang sering hadir dalam setiap keributan yang terjadi antara warga dengan penambang, tidak melakukan tindakan hukum.
"Buktinya sampai sekarang masih terjadi penambangan. Kemarin, sebelum diberi garis polisi, puluhan truk bolak-balik membawa bauksit," ungkapnya.
Selain persoalan itu, warga juga mengeluhkan aktivitas pengerukan lahan di sekitar kuburan. Warga khawatir 12 kuburan runtuh akibat pengerukan bauksit di sekitar lahan yang hanya berukuran tujuh kali tujuh meter.
"Ini sudah sangat keterlaluan. Kami sudah mengadu ke berbagai pihak, tetapi tidak direspons," katanya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
