Logo Header Antaranews Kepri

Diskan Batam salurkan bantuan 96 unit bioflok ke 24 kelompok budidaya ikan

Sabtu, 25 April 2026 11:26 WIB
Image Print
Unit bioflok yang disalurkan oleh Diskan Batam kepada kelompok budidaya ikan di Rempang Batam, Kepri. (ANTARA/HO-Diskan Batam)

Batam (ANTARA) - Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Perikanan (Diskan) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) melanjutkan program bantuan bioflok pada 2026 dengan total 96 unit yang akan disalurkan kepada 24 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan).

Kepala Diskan Kota Batam Yudi Admajianto mengatakan, bantuan tersebut akan diberikan kepada pokdakan yang dinilai memenuhi kriteria penerima.

“Untuk tahun 2026 direncanakan sebanyak 96 unit bioflok yang akan disalurkan kepada 24 kelompok pembudidaya ikan,” ujar Yudi saat dikonfirmasi di Batam, Sabtu.

Ia menjelaskan, dari total tersebut, sebanyak 24 unit bersumber dari rencana kerja (renja) dinas, sementara sisanya berasal dari usulan pokok pikiran (pokir).

Program ini merupakan kelanjutan dari tahun sebelumnya. Pada 2024, Dinas Perikanan menyalurkan 79 unit bioflok, kemudian meningkat menjadi 137 unit pada 2025.

Tercatat terdapat dua pokdakan yang sebelumnya telah menerima bantuan pada 2024 kembali mendapatkan bantuan pada tahun ini.

Baca juga: OJK Kepri manfaatkan perpustakaan untuk tingkatkan literasi keuangan bagi masyarakat

“Sebagian besar penerima merupakan kelompok baru, namun ada juga dua kelompok yang sebelumnya sudah menerima bantuan pada 2024. Kami tidak bisa memberi bantuan berturut-turut tapi bisa diajukan lagi untuk tahun berikutnya,” katanya.

Ia menambahkan, bantuan bioflok diprioritaskan bagi kelompok yang aktif dan memiliki kesiapan dalam menjalankan budidaya, baik dari sisi lahan, kelembagaan, maupun komitmen produksi.

Diskan Batam juga melakukan pengawasan secara berkala melalui tim bidang perikanan budidaya, mulai dari survei lokasi awal, proses penyaluran bantuan, hingga evaluasi hasil panen.

“Monitoring dilakukan secara berkala, mulai dari survei lokasi, saat penyaluran bantuan, hingga evaluasi hasil produksi,” ujarnya.

Selain itu, pembudidaya didorong untuk terus berproduksi secara berkelanjutan dengan memanfaatkan hasil panen untuk pembelian benih dan pakan pada siklus berikutnya.

“Saat ini, proses penyaluran bantuan masih dalam tahap verifikasi administrasi, survei lapangan, serta penentuan penyedia,” katanya.

Program bioflok dinilai menjadi solusi efektif bagi Batam yang memiliki keterbatasan lahan, karena mampu meningkatkan produktivitas budidaya ikan air tawar seperti lele dan nila di ruang terbatas.

“Dengan teknologi bioflok, produktivitas tetap tinggi meskipun lahan terbatas. Ini sangat sesuai dengan kondisi di Batam dan juga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi ikan lokal,” kata Yudi.


Baca juga: Pantau dapur SPPG di Batam, Komisi I DPR RI pastikan standar gizi terjaga



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026