Logo Header Antaranews Kepri

11 Tahanan Narkoba Kabur, Didalangi Gembongkah?

Rabu, 17 Juli 2013 23:18 WIB
Image Print

SEBANYAK 11 tahanan kasus narkoba yang dititipkan Polresta Barelang dan Polda Kepri di Rumah Tahanan Baloi kabur, Rabu (17/7) pagi, apakah ada campur tangan gembong gembong narkoba di dalamnya?.

Pertanyaan itu tersirat dari pernyataan Wali Kota Batam, Rudi usai mengunjungi Rutan Baloi, Rabu. Ia meminta wartawan yang mewawancarainya menyimpulkan sendiri, mengapa dari 400 tahanan di Rutan Baloi, hanya 11 yang kabur, dan mengapa semuanya merupakan tahanan kasus narkoba.

Rudi, yang juga mantan polisi itu, enggan mengomentari lebih lanjut mengenai dugaannya. Ia menyerahkan semuanya pada aparat keamanan yang memiliki bukti dan ilmu dalam penyelidikan dan penyidikan.

"Biar Kapolda yang menjawab," kata dia singkat.

Namun, tidak hanya Wakil Wali Kota yang memiliki praduga itu. Wakil Ketua DPRD Kota Batam Ruslan Kasbulatof juga menduga ada campur tangan gembong narkoba dibalik kaburnya 11 tahanan Rutan Baloi.

"Mereka semua kasusnya narkoba, kesamaan itu yang membuat kita berpikir," kata dia.

Ruslan yang membidani masalah hukum itu meminta aparat kepolisian segera mengusut semua kemungkinan motif pelarian diri.

Jalur Narkoba

Masalah narkoba bukan hal yang baru di Batam. Berkali-kali Badan Narkotika Nasional merilis Batam sebagai pintu masuk utama jalur narkoba internasional ke Indonesia.

Kepala Badan Narkotika Nasional Anang Iskandar disela-sela Rapat Kerja Teknis Pelaksanaan Interdiksi Terpadu 2013 di Batam, April lalu mengungkap Batam adalah pintu masuk narkotika terbesar. Meski secara persentase menurut dia masih di bawah 50 persen.

"Narkoba mayoritas masuk lewat Batam, dari Malaysia ke Batam, dari Batam ke Jakarta," kata dia.

Tidak hanya menjadi jalur narkoba, pada 2007, polisi bersama BNN juga pernah mengungkap pabrik sabu-sabu yang waktu itu terbesar di Indonesia yang terletak di salah satu rumah toko di Batam.

Dengan landasan itu, tidak aneh jika akhirnya beberapa pihak menyambungkan jaringan narkoba dengan kaburnya 11 tahanan Rutan Baloi.

Sementara itu, di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Ruslan mengatakan kondisi Rutan sudah sangat sesak dan membuat penghuninya tidak nyaman. "Rutan sudah seperti penjara. Rutan melebihi kandang. Kalau hujan banjir. Wajar kalau penghuninya kabur," kata dia.

Penghuni Rutan sudah melebihi kapasitas. Rutan Baloi yang hanya mampu menampung 200 tahanan namun diisi sekitar 400 tahanan.

Hal itu juga diakui Kepala Rutan Baloi Batam, Anak Agung Gde Khrisna yang mengatakan seluruh tahanan yang kabur menghuni Blok A yang diisi 31 orang. Padahal kapasitasnya hanya untuk 11 orang.

"Pada ruangan khusus tahanan narkoba tersebut memang sangat over," kata dia.

Sementara meski belum memastikan motif kaburnya 11 tahanan, Kapolda Kepulauan Riau, Brigjen Pol Endjang Sudrajat juga mengakui penghuni Rutan Baloi melebihi kapasitas.

"Secara pasti kami belum mengetahui penyebab kaburnya 11 tahanan tersebut. Namun saat ini Rutan Baloi sudah over kapasitas," kata dia di Batam, Rabu.

Ia mengatakan kapasitas Rutan Baloi Batam 250 tahanan, namun saat ini penghuninya mencapai 468 orang.

Pukul Petugas

Sebelum kabur melalui ruang Kepala Rutan, Kapolda menyatakan tahanan kabur sempat membekap dan memukul seorang petugas. "Dua tahanan yang akan kabur mengetuk pintu, petugas tersebut membuka dan dibekap oleh dua tahanan yang kemudian diikuti kawan-kawannya untuk kabur," kata dia.

Ia mengatakan, petugas juga sempat dipukul sebelum akhirnya 11 dari 12 tahanan berhasil melarikan diri. "Petugas mengalami luka pada bagian wajah," kata dia.

Sayangnya, Andi, petugas dimaksud enggan memberikan keterangan kepada wartawan saat ditemui hendak ke rumah sakit.

Namun, meski mengalami pemukulan pada wajah, namun tidak nampak luka berat pada petugas. Hanya baju yang dikenakan nampak kotor dan pada bagian pundak terkoyak.

Saat ini petugas Polda Kepri masih terus melakukan pemeriksaan CCTV untuk mengetahui kronologis pelarian para tahanan.

Cari Tahanan

Selain mencari tahu kronologis pelarian, Polda Kepri juga mencari tahanan dan menutup pintu-pintu ke luar Batam, seperti Pelabuhan Beton Sekupang tempat berlabuhnya kapal Pelni, KM Kelud.

Polisi merazia seluruh angkutan umum yang membawa calon penumpang KM Kelud yang akan berlayar dari Batam ke Jakarta pada Rabu sore.

Penumpang angkutan umum yang akan menuju pelabuhan, diperiksa petugas satu per satu penumpang. Selain angkutan umum, polisi juga memeriksa mobil tertutup dan bak terbuka.

Sementara itu, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan menginstruksikan seluruh pengurus RT/RW membantu Polri melacak 11 tahanan yang Rabu pagi kabur dari Rutan Baloi.

"Camat dan lurah sudah diinstruksikan bersama RT/RW untuk membantu melacak tahanan yang kabur," kata Ahmad Dahlan.

Ia mengatakan pemerintah daerah turut prihatin atas kaburnya 11 tahanan Rutan Baloi Batam yang menyakiti petugas penjaga. Pemda akan turut membantu mengembalikan tahanan ke Rutan.

Pemerintah juga meminta masyarakat lebih waspada dan segera melapor jika ada orang yang mencurigakan. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026