Logo Header Antaranews Kepri

Kampung Penagi Cermin Perpaduan Laut China Selatan

Minggu, 21 Juli 2013 17:04 WIB
Image Print
Sebuah mushala berdampingan dengan kelenteng di Pulau Penagi, Natuna sebagai cerminan perpaduan budaya dan toleransi masyarakat. (antarakepri.com/Foto Evy R Syamsir)

SHALAT tarawih baru saja usai, namun suasana malam pada tujuh hari bulan Ramadhan 1434-H di Kampung Penagi, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau telah sepi.

Deretan rumah penduduk yang berjejer padat mengapit jalan dermaga di kampung tua itu sebagiannya gelap. Tidak terlihat warga berlalu lalang padahal hari masih belum terlalu larut.

Hanya terdengar suara alunan ayat suci Al Quran dari beberapa remaja yang sedang melanjutkan tadarus di Mushala Al Mukhoramah. Sedangkan, Klenteng Pu Tek Chi yang berada berdampingan dengan mushala juga terlihat sunyi, hanya ada seorang warga yang sedang
membakar dupa.

Itulah gambaran Kampung Penagi pada masa kini, padahal pada masa lalu, kampung di atas laut itu merupakan kampung pelabuhan yang amat ramai.

Jauh sebelum kemerdekaan RI, Pelabuhan Penagi merupakan pintu masuk ke pulau Bunguran dan kapal-kapal dagang yang melintas Laut China Selatan, pasti singgah ke Penagi sebelum menlanjutkan perjalanan ke kawasan lain.

Saking sibuknya aktivitas bongkar muat dan labuh jangkar di pelabuhan ini dari kapal-kapal dagang dan penumpang, menjadikan desa nelayan ini sebagai pusat dagang di perairan Laut China Selatan.

Penagi muncul menjadi perkampungan dagang yang lengkap banyak menyediakan berbagai kebutuhan hidup baik kedai yang menyediakan barang kelontong, kedai kain, kedai "runcit" (sembako), kedai kopi juga tempat hiburan malam.

Seiring waktu, perkampungan nelayan ini makin ramai tidak hanya dihuni orang Melayu sebagai suku asli Pulau Bunguran tetapi juga warga China yang datang dengan kapal "toa ko" (kapal besar) dari China daratan. Rombongan warga China ini ada yang menetap di Penagi ada juga melanjutkan perjalanan ke Sedanau dan Pulau Midai.

Ramainya Pelabuhan Penagi selain letaknya yang strategis memiliki alur laut yang dalam juga diapit Pulau Kemudi dan Pulau Jantai sehingga laut di perairan Penagi tenang.

Ombak musim Utara yang biasanya besar dan ditakuti kapal-kapal dagang dan penumpang, tidak pernah masuk ke pelabuhan Penagi.

Kemakmuran Penagi sebagai kawasan pelabuhan amat dirasakan masyarakat bahkan jejak kemakmuran itu hingga kini masih dapat terlihat dari rumah-rumah penduduk yang berada di kampung Penagi.

Walaupun rumah penduduk di Penagi berderet rapat, namun jika dilihat bahan dan bentuk rumah yang dibangun diatas laut dulunya tentulah bukan rumah nelayan biasa tetapi rumah para tauke atau saudagar-saudagar China.

"Dulu ekonomi masyarakat di Penagi sangat baik. Perdagangan lancar segalanya ada disini. Kapal dagang baik dari Singapura atau Malaysia singgah disini," ujar Ketua RW Penagi, Tio Seng Tong alias Radius (54).

Konon, katanya, asal kata kampungnya diambil dari kata penagih, karena penduduk kampung pelabuhan itu dulu amat senang menghisap candu, maklum sebagai kota dagang candu dijual bebas dan dulu masyarakat bebas menghisap madat.

"Makanya kampung kami ini dikenal sebagai kampung para penagih karena dimana-mana orang menghisap madat. Dan, seiring waktu jadi berubah pula nama kampung ini menjadi kampung Penagi," ujar Tong yang mengaku orang tuanya datang ke Penagi dari China daratan.

Dari cerita orang tuanya juga, kota pelabuhan yang tidak pernah sepi dari pagi hingga pagi itu, pernah di bom tentera Jepang pada tahun 1942.

Pengeboman tersebut membuat keadaan kacau balau dan banyak masyarakat yang pindah ke Sebala, yakni kampung seberang Penagi.

"Orang tua saya juga ikut mengungsi ke Sebala. Tahun 1949 saya lahir dan saat umur saya delapan tahun keluarga kami pindah lagi ke Penagi. Hingga sekarang dah tua begini saya masih menetap di Penagi," ungkap Tong dengan logat Melayu yang kental.

Menurut dia, sejak zamannya masih kecil hingga sekarang, air merupakan barang langka. Walaupun dulu Penagi ramai dan perkampungan yang sibuk namun air merupakan masalah utama karena kampung yang dibangun di atas laut itu tidak punya sumber air bersih.

Masa keemasan mendapatkan air bersih pada tahun 1950-an TNI Angkatan Udara mulai membangun pangkalan di Ranai dan mereka juga membangun saluran pipa air bersih yang ditampung dalam tangki untuk masyarakat Penagi.

Namun, nikmatnya mendapatkan air bersih tidak berlangsung lama hanya beberapa tahun, karena saluran air ditutup dan terpaksalah masyarakat mendapatkan air yang dijual per jerigen.

Bahkan, lanjut dia, pada era reformasi hingga otonomi sekarang janji pemerintah untuk menyalurkan air PDAM ke Penagi tidak pernah kunjung tiba.

Era reformasi yang akhirnya membentuk daerah-daerah di Indonesia memekarkan diri telah membuat perubahan bagi Penagi.

Ditinggalkan Tauke

Kampung yang dulunya ramai dan sibuk dengan aktivitas perdagangan akhirnya ditinggalkan warganya. Bahkan tauke-tauke kaya juga pindah dari Penagi.

"Umumnya mereka pindah ke Ranai. Dulu Natuna hanyalah kecamatan dan Ranai adalah ibukota kecamatan tapi kini telah menjadi ibukota kabupaten," ujar ayah lima anak itu.

Dalam masa otonomi sekarang Ranai makin ramai dan tumbuh sebagai pusat ekonomi dan perdagangan. Jarak Penagi dengan Ranai hanya lima kilometer yang dipisahkan lapangan terbang pangkalan TNI AU.

"Pindahnya penduduk Penagi ke Ranai bukan hanya karena Ranai ibukota kabupaten tapi juga faktor sulitnya air bersih di Penagi. Di Ranai fasilitas dah lengkap terutama air bersih yang mudah mengalir di rumah penduduk," ujarnya.

Kini, kampung tua dengan ratusan rumah panggung di atas air itu telah sunyi. Tidak ada lagi kedai kelontong, kedai kain, kedai runcit atau kedai kopi dan bongkat muat kapal dagang dan
penumpang. Yang ada hanya pemukiman warga.

Dibangunnya pelabuhan Selat Lampa yang semula bertujuan untuk menampung minyak Pertamina, juga ikut membuat sepi kampung Penagi. Kapal dagang dan kapal penumpang seperti Pelni pindah ke Pelabuhan Selat Lampa.

"Walau suasana Penagi dah berubah, namun hanya satu yang tidak pernah berubah yakni kerukunan masyarakatnya," tutur Tong bangga.

Ia menjelaskan, dari dulu masyarakat Melayu dan China di Penagi hidup rukun damai bahkan rumah ibadah juga berdampingan.

"Daerah sini orang China dan Islam berpadu. Saat Idulfitri dan Imlek kami saling mengunjungi. Bahkan bahasa Melayu dah menjadi bahasa kami begitu juga bahasa nenek moyang kami dulu banyak juga dipakai orang Melayu Penagi," kata Tong.

Ia menjelaskan, Kelenteng Pu Tek Chi dulu dibangun pada tahun 1943, setelah pengeboman Jepang. Pembangunan Kelenteng di daerah itu karena ada warga yang menemukan Toa Pe Kong (patung dewa) hanyut dilaut.

"Pe Kong itu mungkin dari kapal yang pecah dilaut lalu dibawa masyarakat ke darat dan dibangunlah kelenteng. Hingga sekarang Pe Kong masih ada di kelenteng," ujar suami dari Tan Siu Kiat itu mengingat sejarah awal berdirinya kelenteng dikampungnya.

Sedangkan, Surau Al Mukoramah dibangun pada tahun 1950 persis berada di samping kelenteng.

"Surau dan kelenteng ini simbol masyarakat kami. Sejak dulu dari kampung nelayan jadi kota pelabuhan dan kini menjadi kampung yang sunyi kami selalu hidup rukun. Perpaduan masyarakat kami dah sebati, tak dapat ditebas dengan pedang tajam sekalipun," ujar Tio
Seng Tong.

Apa yang diungkapkan lelaki paruh baya berperawakan kurus dengan logat Melayu kental itu juga disampaikan Sudir (23), seorang pemuda tempatan.

"Kampung kami ini walau kecil tapi pernah ramai. Pusat Natuna dulunya di sini dan kami disini walau berlainan suku tapi tak 'bercekau' (ribut). Kami hidup berdampingan dan toleransi," ujar
Sudir yang juga seorang pemuda Melayu.

Perpaduan antarsuku dan tempat ibadah yang saling berdekatan di Kampung Penagi, telah menjadi cermin toleransi antar warga tidak hanya di Kabupaten Natuna yang berjuluk Negeri di Gerbang Utara tapi juga secara keseluruhan di lintas Laut China Selatan. (Antara)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026