
Pemkab Natuna gencarkan kegiatan pasar murah jelang Idul Adha 2026

Natuna (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna, Provinsi Kepulauan Riau,gencarkan kegiatan pasar murah menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, guna menekan harga pangan di masyarakat.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperindagkopum) Natuna, Marwan Sjah Putra, di Natuna, Senin, mengatakan kegiatan terbaru digelar di Kecamatan Bunguran Timur Laut pada Senin pagi.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyediakan sejumlah kebutuhan pokok seperti beras kualitas medium, minyak goreng, tepung terigu, gula pasir, dan telur ayam.
“Kami sudah melaksanakan pasar murah di tiga lokasi, yakni Kecamatan Bunguran Tengah, Pulau Laut, dan Kecamatan Bunguran Timur Laut,” ucapnya.
Harga kebutuhan pokok yang dijual pun berada di bawah harga pasar. Beras medium misalnya, dijual hanya dengan harga Rp58.000 per lima kilogram, telur ayam dijual Rp50.000 per papan (30 butir), minyak goreng Rp15.000 per liter, gula pasir Rp12.000 per kilogram, dan tepung terigu Rp10.000 per kilogram.
Baca juga: Kejari Natuna kirim 15 tahanan ke Lapas Tanjungpinang, Batam
Menurut Marwan, pasar murah perlu digelar menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN), termasuk Idul Adha, karena harga bahan pangan biasanya mengalami kenaikan.
“Komoditas yang kami jual memang sedang mengalami kenaikan harga di pasaran, terutama minyak goreng. Kemasan berbahan plastik membuat harganya naik cukup tinggi,” ucapnya.
Ia menjelaskan, harga bahan pangan yang dijual di ketiga lokasi pasar murah tersebut sama. Perbedaan hanya terletak pada jumlah komoditas yang disediakan di masing-masing lokasi.
Khusus di Kecamatan Bunguran Timur Laut, pemerintah menyediakan 300 papan telur ayam, sedangkan tiga komoditas lainnya masing-masing sebanyak 250 kilogram.
Untuk komoditas seperti telur ayam, minyak goreng, gula pasir dan tepung terigu, bisa dijual dengan harga murah karena telah disubsidi Pemkab Natuna melalui APBD 2026. Sementara beras, dijual murah karena sudah disubsidi melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).
“Setiap pembelian dibatasi. Masing-masing warga hanya diperbolehkan membeli satu kemasan dari setiap komoditas,” katanya.
Baca juga: Pemkab Natuna: Plastik berbayar jadi solusi untuk tekan biaya pedagang
Pewarta : Muhamad Nurman
Editor:
Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
