Logo Header Antaranews Kepri

Pemko Tanjungpinang targetkan tiap kelurahan punya anak asuh stunting

Kamis, 28 Mei 2026 16:44 WIB
Image Print
Kepala Dinkes Kota Tanjungpinang, Kepri, Rustam mendampingi Wamendukbangga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka meninjau layanan KB di Puskesmas Batu X, Senin (25/5/2026). ANTARA/Ogen

Tanjungpinang (ANTARA) - Pemeringah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) menargetkan setiap kelurahan memiliki minimal satu anak asuh dari keluarga berisiko stunting pada 2026 melalui program gerakan orang tua asuh cegah stunting (GENTING).

Kepala Dinas Kesehatan Tanjungpinang Rustam mengatakan program orangtua asuh menjadi salah satu langkah percepatan penurunan stunting dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.

"Bantuan yang diberikan dapat berupa dukungan nutrisi secara berkelanjutan, salah satunya pemberian telur selama tiga sampai enam bulan guna membantu pemenuhan gizi keluarga," kata Rustam di Tanjungpinang, Kamis.

Selain itu, Rustam juga mengajak seluruh camat dan lurah turut menjadi orangtua asuh bagi anak-anak di wilayah masing-masing.

Dukungan serupa juga diharapkan dari perguruan tinggi, akademisi kesehatan, Baznas, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, baik melalui bantuan nutrisi maupun nonnutrisi.

"Melalui kolaborasi lintas sektor ini diharapkan upaya pencegahan dan penanganan stunting di Tanjungpinang dapat berjalan lebih terpadu dan berkelanjutan," ucapnya.

Lanjut Rustam menyebutkan sebanyak 300 anak balita di Tanjungpinang tercatat masih mengalami stunting sepanjang tahun 2025. Data tersebut berdasarkan hasil pendataan langsung di berbagai posyandu.

Menurutnya kasus stunting di Tanjungpinang relatif rendah atau sekitar 2,9 persen, jauh di bawah rata-rata nasional sekitar 19 persen.

Ia menyampaikan Dinkes Tanjungpinang terus meningkatkan upaya pencegahan stunting, di antaranya melalui pendekatan siklus 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Dia menjelaskan HPK merupakan fase krusial dalam mencegah anak stunting, yang dimulai dari pemeriksaan kesehatan dan gizi calon pengantin guna memastikan kondisi tubuh optimal sebelum memasuki masa kehamilan.

Selanjutnya, pemeriksaan ibu hamil minimal enam kali selama masa kehamilan. Pada fase ini, ibu hamil juga mendapatkan asupan gizi dari program makan bergizi gratis (MBG) untuk meningkatkan gizi ibu serta bayi dalam kandungan.

"Setelah bayi lahir, pertumbuhan dan perkembangannya turut dipantau melalui Posyandu untuk mencegah stunting," ungkapnya

Rustam menambahkan kasus stunting tidak hanya dipicu masalah kesehatan, namun juga dipengaruhi faktor nonkesehatan seperti akses air bersih, sanitasi, lingkungan tempat tinggal layak, dan ketersediaan jamban sehat.

Faktor nonkesehatan ini sangat penting dalam menunjang pencegahan stunting, termasuk ketersediaan pangan keluarga dan pola pengasuhan orangtua.

"Penanganan stunting jadi tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya dinkes," demikian Rustam.



Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026