
Kampanye pencegahan merokok perlu dimasifkan dalam kurikulum

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, kampanye pencegahan merokok perlu digalakkan melalui dunia pendidikan, seperti melalui edukasi tentang dampak merokok dalam kurikulum di SD dan SMP, guna mencegah adiksi dan kesakitan di masa depan.
"Datanya sangat jelas, jadi saya pikir umur 15-19 tahun itulah yang terpenting menurut saya. Kita mencegah ya. Kalau sudah merokok, sudah adiksi puluhan tahun untuk stop itu gak gampang," kata Benny di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan bahwa menurut berbagai penelitian, perokok memulai kebiasaannya saat SMP atau SMA. Benny menyebutkan bahwa saat orang berusia 14 tahunan, saat itulah orang mulai mencoba hal-hal baru di hidupnya, termasuk merokok.
Menurutnya, dengan mendidik anak sejak dini tentang bahaya merokok, maka akan lebih mudah bagi anak untuk menolak merokok ketika ditawarkan. Bahkan mungkin, katanya, anak-anak ini yang nantinya akan menegur orang tuanya agar berhenti merokok.
"Kita harus membuat kurikulum sehingga anak-anak tahu bahwa hipertensi itu bahaya, kerusakan ginjal, bahwa diabetesnya gak terkontrol itu merusak organ tubuh kita dalam sekian tahun. Merokok itu, dampak asap merokok itu menyebabkan pembuluh darah kita menjadi kaku," katanya.
Pihaknya bersyukur bahwa kini sudah ada terapi untuk menghentikan adiksi merokok, seperti Nicotine Replacement Therapy (NRT), namun pencegahan lebih baik daripada pengobatan.
Wamenkes pun menyoroti perlunya kolaborasi lintas sektor untuk menyelamatkan Indonesia dari bahaya merokok. Misalnya, selain dengan dunia pendidikan, perlunya tata ruang untuk membatasi rokok agar tidak dilakukan sembarangan di area terbuka.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kampanye pencegahan merokok perlu dimasifkan dalam kurikulum
Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor:
Ogen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
