
Norwegia versus Senegal: Halland bersiap kian benamkan isu Epstein di Piala Dunia 2026

Jakarta (ANTARA) - Norwegia tengah dalam amukan krisis politik hebat akibat masalah yang melibatkan anggota kerajaan mereka.
Putri Makhkota Mette-Marit sedang tidak sehat. Lebih parah lagi, namanya disebut dalam arsip Jeffrey Epstein, predator seks yang menyeret pemimpin-pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sudah begitu, putra sang putri, yakni Pangeran Marius Borg Hoiby, sedang tersandung kasus pidana.
Tapi belakangan ini krisis tersebut tertutup oleh penampilan timnas sepak bola Norwegia, yang untuk pertama kali sejak Piala Dunia 1998 masuk kembali putaran final Piala Dunia.
Adalah pelatih Viking Stavanger, Morten Jensen, yang pertama menyampaikan klaim itu. Viking Stavanger adalah juara divisi utama liga sepak bola Norwegia.
Jensen mengatakan perjalanan indah Erling Haaland cs telah mempersatukan rakyat Norwegia, yang terbelah gara-gara krisis yang menimpa keluarga kerajaan itu.
Bagaimana tidak indah, perjalanan The Red, White and Blue memang membuat bangga seluruh negeri, termasuk lima hari lalu saat mengawali putaran final Piala Dunia 2026 dengan menerkam Irak 4-1.
Keberhasilan mereka telah mengalihkan perhatian 5,63 juta penduduk Norwegia dari masalah yang tengah menimpa anggota kerajaan mereka, walau mungkin untuk sejenak.
Korban pertama mereka dalam Piala Dunia 2026 adalah Irak.
Berikutnya, pada Selasa (23/6) pukul 07.00 WIB, mereka diuji oleh Senegal dalam pertandingan Grup I di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat.
Faktor Odegaard
Tak pelak lagi Senegal adalah ujian terbesar kedua Norwegia setelah Italia dalam babak kualifikasi.
Apalagi, Senegal pernah mengalahkan Norwegia dalam satu-satunya pertemuan di antara kedua tim, sebelum Piala Dunia 2026.
Ketika itu, pada Maret 2006, dalam laga persahabatan, Norwegia menyerah 0-2 akibat gol Moussa Ndiaye dan Babacar M’Baye Gueye.
Sama dengan Norwegia, barisan pemain yang tengah membela Senegal juga berasal dari generasi emas, yang empat tahun lalu mengantarkan Singa Teranga menjuarai Piala Afrika untuk pertama kalinya.
Sukses Senegal itu sendiri dibangun di atas filosofi bermain sepak bola yang menekankan disiplin, kekuatan fisik, dan transisi mematikan.
Sebaliknya sukses sepak bola Norwegia berpijak pada keyakinan bahwa sepak bola itu harus menyenangkan, yang dalam bahasa mereka disebut dengan idrettsglede.
Karena di bangun di atas kegembiraan itu, sepak bola Norwegia adalah sepak bola yang membebaskan tekanan, yang memungkinkan kreativitas, inisiatif, dan bakat individual berkembang, untuk kemudian menginspirasi dan menguatkan tim.
Representasi paling aktual untuk filosofi bermain semacam itu adalah Haaland dan Odegaard, yang selalu terlihat menikmati dan gembira atas peran yang diberikan pelatih kepada mereka.
Jika Haaland menjadi penghasil output terbaik dan terproduktif untuk sistem bermain Norwegia, maka Odegaard adalah mesin yang membuat sistem bermain The Lions bekerja efektif.
Odegaard adalah faktor terkuat yang membuat permainan Irak rusak berat, sehingga kebobolan empat kali, yang dua di antaranya dibuat oleh Haaland.
Senegal ubah skuad
Sebaliknya, kunci menaklukkan Senegal adalah jangan membiarkan mereka bebas bermanuver untuk menekan dan menciptakan peluang.
Norwegia harus mematikan trio lapangan tengah mereka --Pape Gueye, Idrissa Gueye dan Lamine Camara-- dengan permainan agresif seperti dilakukan Prancis pada babak kedua laga melawan Senegal itu.
Perubahan orientasi bermain lebih agresif yang diterapkan Prancis itu membuat Le Bleus mencetak tiga gol pada babak kedua. Sebaliknya, Senegal menjadi terpojok karena terus ditekan sehingga melupakan serangan.
Intinya, laga ini adalah jaminan untuk hadirnya pertarungan sengit di lini tengah. Siapa yang lebih superior di sini, maka dialah pemenangnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Norwegia vs Senegal: Kesuksesan Halland kian benamkan isu Epstein
Pewarta : Jafar M Sidik
Editor:
Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
