Logo Header Antaranews Kepri

Pemkot Tanjungpinang tangani 518 kasus malaria hingga Juni 2026

Kamis, 25 Juni 2026 10:55 WIB
Image Print
Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Tanjungpinang Rustam (kiri) meninjau pemeriksaan kesehatan gratis di kantor Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) daerah setempat, Rabu (24/6/2026). ANTARA/Ogen

Tanjungpinang (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menangani 518 kasus malaria yang terjadi sepanjang Januari hingga Juni 2026.

"Penanganan dilakukan tidak hanya secara pasif, tetapi juga aktif melalui penemuan kasus di lapangan," kata Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Tanjungpinang Rustam, Rabu.

Ia menjelaskan petugas rutin melakukan survei demam, penemuan kasus, sekaligus edukasi kepada masyarakat agar segera berobat jika mengalami gejala demam, dan mengikuti pengobatan sampai tuntas.

Ia menjelaskan pengobatan malaria membutuhkan waktu cukup panjang atau sekitar 14 hari, sehingga kedisiplinan pasien menjadi kunci keberhasilan penyembuhan. Sebagian pasien malaria juga menjalani pengobatan di rumah sakit.

Baca juga: Pemkab Natuna perluas layanan internet ke 5 desa

Selain penanganan kasus, kata dia, upaya pencegahan malaria juga dilakukan melalui peningkatan kebersihan lingkungan serta intervensi di area yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, terutama kawasan rawa.

"Kami juga melakukan fogging (pengasapan) dua siklus untuk membunuh nyamuk dewasa," ujar dia.

Dari hasil pemantauan, lanjut dia, beberapa wilayah seperti Sebauk Darat dan Kampung Bebek sudah menunjukkan tren penurunan kasus, namun Sebauk Laut dan Senggarang Besar masih tercatat sebagai wilayah dengan angka kasus relatif tinggi.

Rustam mengingatkan wilayah yang sudah mengalami penurunan tetap berpotensi mengalami kemunculan kasus kembali jika pengobatan tidak tuntas dan kebersihan lingkungan tidak dijaga.

"Saat ini, tercatat sekitar 58 titik rawa kecil yang menjadi fokus pengendalian sebagai tempat perindukan nyamuk," ujarnya.

Lurah Senggarang Edi Susanto menjelaskan terdapat enam lokasi sebaran malaria di wilayah itu dengan tingkat paparan yang berbeda-beda di tiap lokasi.

Dia memaparkan Tanjung Sebauk Darat, dari 122 kepala keluarga (KK), sebanyak 109 KK tercatat terinfeksi, Kampung Bebek mencatat 15 KK, Senggarang Darat 17 KK, Senggarang Besar 16 KK, dan Tanjung Sebauk Laut 88 KK.

Baca juga: Polisi usut kasus penganiayaan anak di Batam

"Sejumlah wilayah seperti Tanjung Sebauk Darat, Kampung Bebek, dan Senggarang Darat sudah mulai aman, namun Senggarang Besar dan Tanjung Sebauk Laut masih belum landai," ujarnya.

Ia menambahkan pemerintah bersama dinas kesehatan, pemadam kebakaran, relawan, serta RT dan RW telah melakukan intervensi lingkungan, termasuk penaburan obat di sejumlah lokasi genangan bekas tambang.


Baca juga: Imigrasi catat kunjungan wisman ke Batam melonjak pada Mei



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026