Logo Header Antaranews Kepri

Batam Pasok Sayur dari Bintan Kurangi Impor

Jumat, 30 Agustus 2013 17:00 WIB
Image Print

Batam (Antara Kepri) - Pasokan sayur dan kebutuhan pangan warga Kota Batam akan dipasok dari Bintan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor, kata Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Provinsi Kepri, Said Jafar.

"Bintan ada sayur, bisa dipasok ke Batam," kata Said Jafar di Batam, Jumat.

Meski produksi sayuran di Bintan belum terlalu besar, namun, ia mengatakan pemerintah akan terus berupaya agar produktifitas meningkat hingga bisa untuk memenuhi kebutuhan pasokan, terutama Batam.

Saat ini, kata dia, perkebunan di Bintan menghasilkan lebih dari 100 ton sayur per bulan, 80 ton di antaranya diekspor ke Singapura. Dengan angka itu dipastikan belum bisa memenuhi kebutuhan warga Batam yang mencapai 100 ton per bulan.

Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani meminta seluruh masyarakat mengurangi impor dan memperbanyak mengkonsumsi produk lokal.

"Kurangi impor, perbanyak beli dari Jabodetabek dan daerah lain di Indonesia. Cintailah produk dalam negeri," kata Gubernur menegaskan.

Ia meminta warga Kepri melepas ketergantungan impor.

Menurut dia, dengan begitu, daya beli masyarakat juga meningkat hingga menekan inflasi.

Senada dengan gubernur, anggota DPR RI daerah pemilihan Kepulauan Riau Harry Azhar Azis meminta warga Batam lebih banyak mengonsumsi produk logal agar tidak terlalu tergantung pada impor.

"Kembangkan industri domestik, tidak lagi mengimpor tapi pasokan dari daerah tetangga," kata Harry.

Menurut dia, hal itu lebih baik ketimbang Batam terus menerus tergantung pada impor. Apalagi kini, 80 persen kebutuhan pangan kota itu diimpor dari luar negeri.

Dengan menghentikan ketergantungan impor, maka diharapkan dapat menggairahkan produksi dalam negeri hingga mampu memenuhi kebutuhan sendiri.

Selain itu, menurut dia, konsumsi produk lokal harganya lebih murah ketimbang impor.

Pengusaha menghentikan impor pangan ke Batam akibat makin tingginya nilai dolar AS terhadap rupiah.

Importir Amat Tantoso mengatakan saat ini pangan yang dijual di pasaran merupakan sisa impor pekan sebelumnya dan akan segera habis bila pemerintah tidak melakukan tindakan segera.

"Ini tinggal menghabiskan stok saja," kata dia.

Ia mengatakan pengusaha sudah tidak mampu lagi membeli bahan pangan dari luar negeri karena nilai dolar semakin tinggi. Pada pertukaran antar bank, Kamis siang, nilai dolar menyentuh Rp11.500 dan dolar Singapura Rp8.970. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026