
Pemprov: Potensi investasi di Kepri merata

Tanjungpinang (ANTARA) - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyebutkan potensi investasi di daerah itu kini merata di seluruh wilayah, tidak hanya terpusat di Batam, Bintan dan Karimun.
"Kami terus menawarkan potensi investasi di semua kabupaten/kota se-Kepri kepada investor dalam dan luar negeri, salah satunya melalui temu bisnis dengan pelaku usaha lokal dan Malaysia belum lama ini," kata Kepala DPMPTSP Kepri Hasfarizal Handra di Tanjungpinang, Senin.
Hasfarizal mengatakan selama ini investasi yang masuk ke Kepri masih didominasi wilayah Batam, Bintan dan Karimun atau dikenal sebagai BBK, khususnya di sektor industri pengolahan dan pariwisata.
Menurut dia, ketiga kawasan itu menjadi primadona investasi, karena memiliki keistimewaan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB).
Oleh karena itu, kata dia, DPMPTSP Kepri berupaya menggenjot pemerataan investasi agar semua wilayah di Kepri berkembang sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ia memaparkan beberapa potensi investasi unggulan yang bisa digarap oleh para pelaku usaha, antara lain di Natuna memiliki peluang investasi penyediaan air bersih untuk 1.000 sambungan rumah, kapal domestik dan internasional, hingga industri hilir perkebunan kelapa dengan jumlah produksi 500 ribu biji per tahun.
"Permintaan akan copra charcoal, virgin coconut, briket, handicraft masih sangat tinggi. Natuna juga dekat dengan jalur perdagangan internasional," ujar dia.
Kemudian, di Lingga mempunyai potensi pariwisata untuk dikembangkan pelaku usaha, salah satunya kawasan wisata di Pulau Katang.
Saat ini, kata dia, Pulau Katang tengah disiapkan menjadi second home luxury (rumah kedua yang mewah) dengan berbagai sarana premium.
"Demikian pula di Anambas, terkenal dengan potensi wisata bahari, salah satunya Pulau Bawah," kata Hasfarizal.
Lebih lanjut ia menyampaikan DPMPTSP Kepri juga terus mendorong perluasan investasi di Bintan, mulai dari pengembangan berbagai proyek pariwisata dan hospitality, meliputi resort, condotel, hotel berbintang, water park, hingga Green Bamboo Village sebagai destinasi wisata berkonsep alam dan berkelanjutan.
"Untuk di Bintan, fasilitas pendukung sudah tersedia seperti villa, restoran, jaringan utilitas, akses jalan, area pantai, dan mangrove," katanya menjelaskan.
Selanjutnya, ia mengatakan pengembangan investasi di Karimun yang meliputi penyimpanan dan pengilangan (refinery) minyak dan gas, lalu perikanan serta rantai dingin, operasi terminal dan pergudangan, energi baru dan terbarukan, perbaikan kapal dan struktur kelautan, jasa maritime, manufaktur dan pengolahan.
"Karimun memiliki lahan industri 120 hektar, lalu garis pantai 1.503 meter, kolam pelabuhan 950.000 m², hingga mampu melayani kapal 50.000 DWT," ujar dia.
Hasfarizal mengaku optimistis geliat investasi di Kepri terus meningkat seiring berbagai kemudahan perizinan yang diberikan kepada calon investor, salah satunya melalui pelayanan perizinan yang cepat dan mudah bagi investor, lewat sistem Online Single Submission (OSS).
Ia pun mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kondusivitas di lapangan supaya investor merasa aman dan nyaman berinvestasi di Kepri. Setiap investasi yang masuk, tentu berdampak pada penciptaan lapangan kerja baru dan pertumbuhan ekonomi lokal.
"Tugas kami (DPMPTSP) ialah mempermudah, memperlancar dan bertanggung jawab terhadap proses perizinan guna mendukung pelaku usaha berinvestasi di Kepri," kata Hasfarizal.
Ia turut memaparkan realisasi investasi Kepri tahun 2025 mencapai Rp64,68 triliun, terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp43,44 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp21,24 triliun.
Capaian investasi tahun lalu melampaui target daerah 136 persen maupun target Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 112 persen, yang menunjukkan kinerja investasi sangat baik di sepanjang 2025.
Pewarta : Ogen
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
