Logo Header Antaranews Kepri

UMKM kerupuk olahan di Kepri manfaatkan KUR guna tambah modal

Senin, 6 Juli 2026 15:33 WIB
Image Print
Produk kemasan kerupuk olahan Kyria Rezeki di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri). ANTARA/Ogen

Tanjungpinang (ANTARA) - Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kerupuk olahan di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), turut memanfaatkan pinjaman kredit usaha rakyat (KUR) yang disediakan pemerintah guna menambah modal usaha.

Pemilik UMKM kerupuk olahan CV Kyria Rezeki Bonak Candra bercerita telah mengakses pinjaman KUR sebesar Rp500 juta demi menjaga kelangsungan usahanya, mulai dari pembiayaan operasional hingga penambahan alat-alat produksi.

"Pinjaman KUR sangat membantu sekali, karena bagaimana pun pelaku UMKM tetap butuh modal usaha, misalnya untuk membeli stok bahan baku produksi seperti ikan," kata Bonak di Tanjungpinang, Senin.

Menurut dia, akses KUR di perbankan saat ini relatif mudah ditambah bunga yang rendah, yaitu sebesar enam persen per tahun. Ia mendapatkan pinjaman KUR dari Bank Negara Indonesia (BNI).

Dengan pinjaman modal Rp500 juta, Bonak mengambil tenor pembayaran selama lima tahun, dengan angsuran sekitar Rp10 juta per bulan.

Baca juga: Pemkot Batam pastikan bansos tepat sasaran lewat aktivasi Perlinsos

Dia mengapresiasi pemerintah semakin mempermudah pelaku UMKM mengakses permodalan usaha melalui program KUR, apalagi usahanya yang dirintis sejak 1982 itu sudah makin berkembang, sehingga memang tidak mengalami kendala dalam mengajukan KUR.

Bonak mengingat kembali ketika merintis usaha lalu pertama kali mengajukan pinjaman modal usaha sebesar Rp250 juta ke perbankan (BRI) sebelum tahun 2010. Menurut dia, kala itu persyaratan pengajuan kredit di bank cukup sulit.

"Waktu itu saya harus menyertakan sertifikat rumah dan tanah sebagai jaminan modal usaha untuk bangun ruko atau tempat untuk jualan. Kalau sekarang, akses modal usaha semakin mudah melalui KUR," kata Bonak.

Kini, menurut Bonak, usahanya yang memproduksi aneka kerupuk kering hasil olahan ikan, udang, cumi-cumi dan gonggong (makanan laut) khas Tanjungpinang semakin berkembang.

Bonak membangun sentra produksi kerupuk di area seluas 8.000 meter per segi yang terletak di Jalan Merpati, Kecamatan Tanjungpinang Timur, terdiri dari rumah pribadi, bangunan tempat pengolahan kerupuk, gudang penyimpanan bahan baku hingga toko penjualan kerupuk kemasan.

Ia telah mempekerjakan 22 karyawan untuk memproduksi kerupuk kering, dengan estimasi produksi bahan mentah (sebelum jadi) mencapai 200 kilogram per hari.

Produk-produk kerupuk Kyria Rezeki dikemas menggunakan kantong plastik bening, dan ada pula kemasan yang memang didesain khusus untuk menarik pembeli.

"Kerupuk kami tersebar di warung kelontong, toko sampai swalayan," ujar dia.

Baca juga: Batam berkontribusi 26,5 persen tambahan investasi nasional

Selain pasar lokal, kerupuk produk Kyria Rezeki juga sudah menembus pasar ekspor Singapura secara rutin, tergantung permintaan dari negeri jiran. Pesanan biasanya meningkat pada saat perayaan Imlek, bisa mencapai ribuan bungkus atau pack dengan nominal mencapai ratusan juta rupiah.

Produk kerupuk olahan khas lokal Tanjungpinang itu dijual mulai Rp6.500 sampai Rp25.000 per bungkus.

Secara terpisah, Kepala Bank Indonesia (BI) Kepri Rony Widijarto mengatakan hingga April 2026, penyaluran kredit sektor UMKM di daerah itu sudah mencapai Rp17,07 triliun atau tumbuh 8,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Angka ini juga tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit UMKM secara nasional yang cenderung stagnan," ujar dia.

Lebih lanjut ia mengatakan capaian itu mencerminkan masih kuatnya aktivitas ekonomi di daerah sekaligus meningkatnya kepercayaan pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya.

Menurut dia, sektor perbankan masih mampu mendukung kebutuhan pembiayaan dunia usaha maupun masyarakat, sehingga roda perekonomian Kepri terus bergerak positif.

Karena itu, BI Kepri bersama pemerintah terus mengajak para UMKM di Kepri memanfaatkan fasilitas KUR sebagai solusi permodalan yang terjangkau.

"Pemerintah menjamin bunga KUR tetap stabil di angka enam persen per tahun, karena ditopang oleh subsidi tebal dari APBN," kata Rony.



Baca juga: Mendongkrak ekonomi pesisir di perbatasan lewat Kampung Nelayan



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026