
BP Batam bidik jadi hub kendaraan listrik Asia Tenggara

Batam, Kepri (ANTARA) - Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kepulauan Riau (Kepri), membidik kotanya menjadi hub kendaraan listrik di Asia Tenggara dengan membangun ekosistem industri, yang terintegrasi, mulai dari baterai, komponen, pusat logistik, hingga infrastruktur pengisian daya.
Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan kehadiran investasi perusahaan Vietnam yang bergerak di bidang teknologi menjadi peluang strategis yang harus dimanfaatkan lebih luas daripada sekadar menghadirkan pabrik kendaraan listrik.
"Yang ingin kita bangun bukan hanya industri kendaraan listrik, tetapi seluruh ekosistemnya. Mulai dari industri baterai, komponen, pusat logistik, data center, energi hijau, infrastruktur pengisian daya, hingga pusat riset dan inovasi. Nilai ekonomi terbesar lahir ketika seluruh sektor itu saling terhubung," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Sabtu.
Menurut Fary, arah pembangunan tersebut sejalan dengan transformasi BP Batam untuk memperkuat Batam sebagai kawasan investasi yang memberikan kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan pelayanan yang cepat.
Karena itu, BP Batam tidak hanya berfokus menarik investor baru, tetapi juga membangun Global Investment Ecosystem yang mengintegrasikan kepastian lahan, ketersediaan energi dan air, pelabuhan modern, Bandara Hang Nadim, kawasan industri, pusat data, konektivitas digital, sumber daya manusia unggul, serta tata kelola yang transparan dan responsif.
Dengan posisi strategis di jalur perdagangan internasional, didukung status free trade zone (FTZ), serta kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia, Batam dinilai memiliki peluang besar menjadi simpul investasi baru bagi perusahaan global, termasuk dari Vietnam.
Fary menjelaskan strategi tersebut diperkuat melalui kegiatan benchmarking delegasi BP Batam ke Vietnam.
Menurutnya, keberhasilan VinGroup menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara menunjukkan bahwa daya saing kawasan tidak lagi hanya ditentukan oleh luas kawasan industri atau besarnya insentif investasi, melainkan kemampuan membangun ekosistem yang saling terintegrasi.
"VinGroup tidak sekadar membangun proyek. Mereka membangun ekosistem. Ketika kawasan, industri, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan mobilitas saling terhubung, maka investasi akan terus menciptakan nilai baru," katanya.
Saat ini, melalui VinFast, VinGroup mulai mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia yang mencakup fasilitas produksi, jaringan distribusi, hingga infrastruktur pengisian daya.
Bersama V-GREEN dan para mitranya, VinFast menargetkan pembangunan sekitar 63.000 titik pengisian kendaraan listrik di Indonesia dengan nilai investasi sekitar 300 juta dolar AS, termasuk rencana pengembangannya di Batam.
Fary menegaskan benchmarking ke Vietnam bukan sekadar kunjungan pembelajaran, melainkan bagian dari strategi mempercepat transformasi Batam dari kawasan industri konvensional menjadi ekosistem investasi kelas dunia.
"Persaingan investasi global telah berubah. Investor tidak lagi hanya mencari lahan atau insentif, tetapi mencari ekosistem yang memberikan kepastian, kecepatan, keberlanjutan, dan peluang untuk terus berkembang. Itulah arah baru Batam," sebutnya.
Pewarta : Amandine Nadja
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
