Logo Header Antaranews Kepri

Kemarau 2026 berpotensi tak sekering saat El Nino 1997

Selasa, 4 Agustus 2026 15:35 WIB
Image Print
Petugas memantau perkembangan analisis anomali suhu muka laut melalui layar monitor di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal kuartal I 2027, sehingga berpotensi memicu musim kemarau yang lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/agr

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi musim kemarau 2026 berpotensi tidak sekering saat El Nino 1997, meskipun kondisi El Nino saat ini telah memasuki kategori kuat.

Pelaksana Harian Deputi Bidang Klimatologi BMKG sekaligus Direktur Perubahan Iklim Fachri Radjab di Jakarta, Selasa, mengatakan berdasarkan analisis perbandingan kondisi peluang hujan bulanan, musim kemarau 2026 secara umum diperkirakan tidak lebih kering dibandingkan periode El Nino 1997.

Meskipun demikian, BMKG mencatat sejumlah wilayah seperti Kalimantan, Papua, dan Jawa pada September-November 2026 berpotensi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan 1997.

Ia menjelaskan pada Agustus 2026 kondisi kemarau tidak menunjukkan peluang lebih kering dibandingkan 1997.

Namun, mulai September hingga November 2026 sejumlah wilayah memiliki probabilitas lebih kering cukup tinggi, antara lain sebagian besar Kalimantan dan Papua dengan peluang mencapai 80-90 persen, beberapa wilayah di Pulau Jawa pada Oktober, serta sejumlah daerah lain pada November.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus hingga September. Sekitar 54 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus, sementara sebagian wilayah lainnya akan mengalaminya pada September.

Selain membandingkan dengan El Nino 1997, BMKG juga melihat karakteristik El Nino 2026 dibandingkan sejumlah kejadian sebelumnya.

Fachri menyebut berdasarkan perbandingan dengan tiga kejadian El Nino dalam 15 tahun terakhir, yakni pada 2015, 2019, dan 2023, kondisi kemarau 2026 diperkirakan lebih mendekati pola El Nino 2023.

Fachri mengatakan meskipun kondisi kemarau 2026 diperkirakan tidak sekering El Nino 1997, pemerintah tetap perlu mewaspadai dampak lanjutan, salah satunya peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut dia, ketika kondisi lahan semakin kering, potensi munculnya titik panas atau hotspot juga meningkat.

Berdasarkan pemantauan BMKG hingga 2 Agustus 2026, tercatat sekitar 5.690 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BMKG prediksi kemarau 2026 berpotensi tidak sekering saat El Nino 1997



Pewarta :
Editor: Ogen
COPYRIGHT © ANTARA 2026