Logo Header Antaranews Kepri

Pemkab Lingga genjot produksi sagu sebagai bahan pangan lokal serbaguna

Kamis, 13 Agustus 2026 14:30 WIB
Image Print
Kepala Desa Panggak Laut, Lingga, Agung Yuda (kiri) bersama Direktur BUMDes Karya Mandiri Mawardi (tengah) dengan produk tepung sagu di rumah produksi di Lingga, Kepri (12/8/2026). (ANTARA/Angiela)

Batam (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri) menggenjot produksi sagu sebagai komoditas pangan lokal yang serbaguna, sekaligus sebagai sumber ekonomi masyarakat di tingkat desa.

Kepala Desa Panggak Laut, Lingga, Agung Yuda mengatakan pengolahan sagu di wilayahnya telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat.

“Untuk ‘kilang’ sagu ini hampir ada 20-an kilang di Desa Panggak Laut. Produksinya bisa 14 sampai 18 ton per bulan untuk satu kilang,” ujarnya saat dikonfirmasi di Batam, Kamis.

Menurutnya, potensi sagu di Lingga cukup besar karena tanaman tersebut tumbuh secara alami dan banyak ditemukan di sejumlah wilayah di kabupaten tersebut.

Selain Panggak Laut, produksi sagu juga terdapat di Desa Nerekeh, Musai dan Teluk, katanya.

Sagu yang dihasilkan masyarakat tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mulai dikembangkan menjadi berbagai produk pangan, seperti tepung, mi sagu, kue kering hingga bahan pangan pengganti beras.

Baca juga: Pemkab Natuna catat 53 gedung Kopdes Merah Putih dalam proses pembangunan

“Kalau tepung ada yang dikirim ke Batam, kemudian makanan kering dipasarkan di Lingga, Tanjungpinang maupun Batam. Ada juga yang dikirim ke Jambi. Di BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) itu tepungnya dikembangkan menjadi produk jadi oleh UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) lokal,” katanya.

Pengembangan komoditas tersebut turut memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Di desanya, ia mengatakan terdapat sekitar 500 penduduk dan sekitar 40 hingga 50 persen masyarakat di desanya terlibat dalam usaha pengolahan sagu, mulai dari penebangan hingga proses produksi di kilang.

Sementara itu, Direktur BUMDes Karya Mandiri Mawardi mengatakan pihaknya mengembangkan pengolahan sagu kotor menjadi sagu bersih yang kemudian dikeringkan dan dikemas.

“Proses pengeringan tergantung cuaca karena masih menggunakan cahaya matahari. Kalau panas, cepat kering,” katanya.

Tepung sagu tersebut dikemas dalam ukuran satu kilogram dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram. Namun, ukuran kemasan dapat disesuaikan dengan permintaan, mulai dari lima kilogram hingga 20 kilogram.

Baca juga: Kredit macet dana bergulir Batam terjaga pada 2,1 persen

“Sesuai pesanan, jadi kalau kemasannya mau yang lebih dari sekilo juga bisa. Banyak pelanggan kami di Batam dan Tanjungpinang, biasanya kami kirim kesana,” kata dia.

Mawardi mengatakan pengembangan usaha tersebut mendapat dukungan dari Bank Indonesia melalui program peningkatan mutu produksi sagu di Kabupaten Lingga pada 2023 lalu.

Dukungan yang diberikan mencakup modal, aset, peralatan produksi hingga mesin pengemasan.

“Mereka telah membantu untuk permodalan, alat produksi hingga mesin pengemasan. Alhamdulillah dukungannya luar biasa. Tanpa dukungan BI, ini tidak bisa kami teruskan karena kami membutuhkan bantuan modal,” ujarnya.

Baca juga: Bapanas tambah 1.733 penerima bantuan beras di Natuna



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026