Logo Header Antaranews Kepri

Presiden dijadwalkan ke NTT hari ini, cek penanganan gempa

Rabu, 26 Agustus 2026 07:58 WIB
Image Print
Peluncuran program PLTS 100 GWp. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutan saat peluncuran dan groundbreaking program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp di kawasan Gilimanuk, Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026). Pembangunan PLTS 100 Gigawatt peak (GWp) yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun tersebut merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air, yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/YUANTARA FOTO/FIKRI YUSUF (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bertolak dari Bali menuju Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu pagi, untuk mengecek langsung kondisi pengungsi dan penanganan dampak gempa bumi di beberapa daerah NTT.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang mengikuti rangkaian kunjungan kerja Presiden di Bali dan NTT, menjelaskan Presiden akan melihat langsung kondisi masyarakat serta memastikan penanganan bencana maupun pemenuhan kebutuhan warga berjalan baik.

“Kunjungan ini juga menjadi bagian dari upaya memastikan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh unsur terkait berjalan efektif dalam menangani gempa di Pulau Flores, NTT,” kata Mensesneg Prasetyo di Denpasar, Bali, saat dihubungi dari Jakarta, Rabu pagi.

Pras—sapaan akrab Prasetyo— melanjutkan, Presiden Prabowo sejak hari pertama bencana, langsung memerintahkan penyaluran bantuan dilaksanakan cepat, terarah, dan merata di seluruh wilayah terdampak. Sejak 15 Agustus 2026 sampai dengan 24 Agustus 2026, sebanyak 204,22 ton sembako, 27,71 ton makanan siap saji, 10,29 ton air mineral, serta obat-obatan, tenda, selimut, matras, peralatan komunikasi, hingga dua unit rumah sakit (RS) lapangan telah disalurkan ke daerah-daerah terdampak bencana di Pulau Flores, NTT.

“Dukungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak juga terus diperkuat melalui pengerahan berbagai fasilitas kesehatan tanggap bencana. KRI Soeharso-990 milik TNI Angkatan Laut telah bersandar di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai, yang difungsikan sebagai RS lapangan, sementara RS Kapal Ksatria Airlangga telah berada di Teluk Nangalirang, Kabupaten Manggarai Timur, untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat,” ujar Pras.

Di tingkat daerah, Pras melanjutkan dua rumah sakit lapangan juga telah dioperasionalkan, masing-masing di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, untuk pelayanan operatif dengan 29 tindakan operasi telah dilakukan secara kumulatif, kemudian di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, untuk mendukung pelayanan kesehatan darurat dan tindakan operasi serta perawatan korban gempa.

Pras kemudian menekankan penanganan dampak bencana gempa NTT tidak akan berhenti pada masa tanggap darurat.

“Pemerintah akan memastikan proses pemulihan dilanjutkan secara bertahap, tidak hanya melalui rehabilitasi fasilitas dan layanan yang terdampak, tetapi juga rekonstruksi untuk membangun kembali infrastruktur dan kehidupan masyarakat secara lebih baik dan berkelanjutan,” kata Pras.

Terakhir, Pras menyatakan pemerintah terus bekerja agar masyarakat NTT yang terdampak tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi bencana.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat per hari ini jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 103 jiwa.

"Ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini catatan kami," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers terkait penanganan gempa di NTT yang diikuti secara daring dari Jakarta, Selasa.

Diketahui sebelumnya sejak gempa terjadi di NTT pada 15 Agustus 2026 hingga Senin (24/8) lalu, jumlah korban adalah sebanyak 100 jiwa. Data terkini menunjukkan bahwa 103 jiwa korban meninggal itu terdiri atas 41 korban jiwa di Kabupaten Manggarai, 34 korban di Manggarai Timur, 13 korban di Nagekeo, 6 korban di Sikka, 5 korban di Ngada, 3 korban di Ende, dan 1 korban di Manggarai Barat.

Berton lalu menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, tetangga, kerabat, serta seluruh masyarakat yang kehilangan anggota keluarga akibat bencana tersebut.

Berton kemudian menyampaikan bahwa berdasarkan jenis kelamin, korban meninggal dunia 45 persen laki-laki dan 55 persen perempuan. Kemudian berdasarkan kelompok usia, korban jiwa terdiri atas 45 persen lansia, 37 persen dewasa, 12 persen anak dan remaja, serta sisanya merupakan balita dan batita.

Berikutnya, Berton menyampaikan informasi terkait korban luka-luka. Sampai hari ini, BNPB mencatat terdapat sebanyak 1.666 orang yang mengalami luka.




Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dari Bali, Presiden akan bertolak ke NTT cek penanganan gempa



Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026