Logo Header Antaranews Kepri

Dinkes Kepri: Waspadai heat stroke akibat cuaca panas

Kamis, 27 Agustus 2026 16:58 WIB
Image Print
Plt Kepala Dinkes Provinsi Kepri M. Bisri. ANTARA/Ogen

Tanjungpinang (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengimbau warga untuk mewaspadai heat stroke atau meningkatnya suhu tubuh secara drastis akibat cuaca panas di tengah musim kemarau.

Plt Kepala Dinkes Kepri M. Bisri mengatakan heat stroke bisa memicu terjadinya gangguan sakit kepala, mual hingga muntah-muntah.

"Apabila mengalami gejala tersebut, segera minta bantuan ke puskesmas atau fasilitas layanan kesehatan terdekat," kata Bisri di Tanjungpinang, Kamis.

Oleh karena itu, Bisri mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika terik cuaca terlalu panas, dengan memperhatikan jam aman, yakni di bawah pukul 10.00 WIB.

Baca juga: Polres Natuna hadirkan kebutuhan pokok murah untuk warga Tapau

Bagi masyarakat yang punya porsi aktivitas di luar ruangan lebih dominan, disarankan menggunakan alat pelindung kepala, seperti topi atau payung supaya tubuh tak terpapar langsung sinar matahari.

Selain itu, masyarakat juga diminta memastikan asupan cairan tubuh terjaga dengan mengonsumsi air mineral minimal dua liter sampai tiga liter per hari guna mencegah dehidrasi di musim kemarau.

"Termasuk istirahat yang cukup, misalnya tidur siang juga sangat penting agar tubuh tetap sehat dan bugar," ujar Bisri.

Bisri turut mengingatkan cuaca kemarau saat ini juga berisiko memicu penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) akibat udara menjadi lebih kering, berdebu, dan polusi udara lebih mudah menyebar.

Baca juga: Polda Kepri tetapkan 5 tersangka pemberangkatan PMI nonprosedural

"Dari pantauan di lapangan, cukup banyak warga terdampak ISPA belakangan ini, makanya tetap jaga kesehatan tubuh, bila perlu memakai masker saat keluar rumah," ucap Bisri.

Sementara, Prakirawan BMKG Tanjungpinang Robbi A. Anugerah menyebut kondisi udara di Pulau Bintan dalam beberapa hari ke depan relatif kering dengan tiupan angin yang cukup kuat. Kondisi itu dapat menghambat pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan.

"Peluang hujan diperkirakan masih relatif rendah, sehingga cuaca cenderung lebih panas dan kering," kata Robbi.

Baca juga:
Memutus mata rantai diabetes melalui CKG

BP Batam petakan 133 titik prioritas penanganan banjir



Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026