
Pembalakan Hutan Ancam Persediaan Air Batam

Batam (Antara Kepri) - Badan Pengusahaan Batam menyatakan akan terus meningkatkan patroli guna memberantas pembalak liar yang telah mengakibatkan sebagian hutan menjadi gundul sehingga mengancam ketersediaan bahan baku air bersih bagi masyarakat.
"Hutan-hutan di Batam memiliki fungsi sebagai daerah serapan air sejumlah dam. Jika hutan-hutan yang pada umumnya berdekatan dengan dam dibabat, maka debit air akan cepat berkurang dan mengancam ketersediaan air bersih," kata Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Humas BP Batam, Dwi Djoko di Batam, Jumat.
Batam, kata dia, tidak memiliki sumber air baru, dan hanya mengandalkan air hujan yang ditampung di enam dam yang masing-masing dikelilingi hutan lindung sebagai wilayah serapan.
Namun, rata-rata pohon yang berukuran besar sudah dibalak sehingga wilayah serapan air rusak.
"Kalau terus dibiarkan akan sangat mengancam ketersediaan air di Batam. Maka, tidak bisa dibiarkan," kata dia.
Kawasan yang paling rusak akibat pembalakan, kata dia, ialah sekitar Dam Duriangkang yang memiliki persediaan air terbesar untuk kebutuhan masyarakat Batam.
"Secara keseluruhan ratusan hektare sudah rusak. Namun paling parah ialah kawasan hutan lindung Dam Duriangkang yang terus menerus dijarah," kata Djoko.
Sejak Kamis (14/8) hingga Jumat (15/8) puluhan petugas Direktorat Pengamanan BP Batam masih berusaha mengevakuasi temuan sekitar 400 kayu berbentuk balok dari pembalakan hutan Duriangkang yang belum dibawa pelaku.
Kayu-kayu tersebut ditemukan pada Senin (11/8), namun pelaku yang diperkirakan berjumlah 10 orang berhasil melarikan diri dari kejaran petugas.
Lokasi yang sulit dijangkau, membuat evakuasi mengalami kesulitan. Mobil truk yang hendak membawa kayu harus didorong dengan ekskavator agar bisa sampai ke lokasi yang berjarak sekitar dua kilometer dari jalan umum.
"Kerugian akibat pembalakan tersebut sudah miliaran rupiah. Belum lagi dampaknya terhadap ketersediaan air bersih di Batam," kata Djoko. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
