Logo Header Antaranews Kepri

Senator: Batam Perlu Tiru Pengelolaan Air Singapura

Senin, 3 Agustus 2015 18:48 WIB
Image Print
Air drainase dan selokan dialirkan ke dam untuk menjadi air baku. Seperti di Singapura, itu tidak ada air yang terbuang

Batam (Antara Kepri) - Anggota DPD Daerah Pemilihan Kepulauan Riau Haripinto menyatakan Badan Pengusahaan dan Pemerintah Kota Batam perlu meniru pengelolaan air Singapura yang memanfaatkan kembali air dari drainase sehingga tidak terjadi kekurangan air baku di kota itu.

"Air drainase dan selokan dialirkan ke dam untuk menjadi air baku. Seperti di Singapura, itu tidak ada air yang terbuang," kata Haripinto melalui sambungan telepon di Batam Kepri, Minggu.

Air yang mengalir di drainase umumnya berasal dari air hujan, sama dengan air dalam dam-dam di Batam sehingga kualitasnya pun tidak terlampau jauh berbeda.

Ketimbang air drainase dibiarkan mengalir ke laut, bercampur dengan air asin sehingga tidak dapat dikonsumsi, lebih baik dialirkan ke dam dan diolah menjadi air bersih.

Rencana itu akan lebih efisien dari pada mengolah air laut menjadi air tawar menggunakan mesin.

Ia mengatakan Badan Pengusahaan Batam sebagai pengelola air baku di Batam harus memikirkan rencana jangka panjang demi memastikan ketersediaan air bersih di kota itu. Apalagi Batam tidak memiliki mata air. Air bersih yang ada di pulau utama berasal dari dam tadah hujan.

Senator itu juga meminta BP Batam untuk menjaga hutan resapan air, mereboisasi hutan dan melakukan penertiban segala aktivitas di hutan lindung.

"Tahun depan, harus dibuat studi untuk normalisasi dam. Harus dilakukan pendalaman dam. Harus ada solusi dalam mengatasi ancaman kekeringan," kata dia.

Setelah normalisasi dam maka BP Kawasan diminta menambah dam, terutama di sekitar Pulau Rempang dan Pulau Galang.

"Dam baru di Relang perlu dibuat dan harus dijaga sebagai daerah resapan," kata Haripinto.

Sementara itu, untuk jangka panjang, ia mengusulkan memasok air dari Teluk Bintan di Pulau Bintan.

Menurut dia, ketersediaan air bersih di Teluk Bintan sangan banyak, bahkan, pada era Presiden Soeharto, pemerintah sempat berencana mengalirkan air Teluk Bintan ke Singapura.

"Kapasitasnya sangat besar, sama dengan Batam seluruhnya. Itu bisa disambungkan ke Batam lewat pipa," kata dia.

Sebelumnya, Corporate Communication Manager perusahaan air PT ATB, Enrico Ginting mengatakan ketersediaan air bersih terus berkurang seiring surutnya air di dam-dam di kota itu, bahkan satu dam di antaranya sudah tidak dapat dioperasikan lagi karena airnya terus surut.

"Kondisinya memang berkurang. Apalagi Dam Nongsa, sudah tidak dapat difungsikan lagi," kata.

Ketersediaan air bersih di Waduk Nongsa itu memang sudah surut sejak beberapa waktu lalu, dan sempat dihidup-matikan. Namun, kini sudah tidak dapat dioperasikan lagi. Serupa dengan Dam Nongsa, demikian pula dengan Dam Sei Harapan. Air di dam itu kian surut.

Bulan lalu, ATB sempat memperkirakan dam di utara Batam itu hanya bisa bertahan sekitar tiga bulan lagi, karena airnya terus berkurang.

"Itu berdasarkan bulan lalu dengan perkiraan tidak ada hujan. Kalau saat ini, kami belum memiliki data terakhir, karena hari ini hari pertama," kata Enrico. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026