
Pola Rekrutmen ISIS Melalui Pendekatan Ekonomi

Strategi perekrutan anggota ISIS tidak selalu sama. Pola perekrutan anggota ISIS di Indonesia melalui pemberian gaji yang jauh lebih besar
Tanjungpinang (Antara Kepri) - Pola perekrutan anggota baru dalam jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia melalui pendekatan ekonomi, kata Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjend Hamidin.
"Strategi perekrutan anggota ISIS tidak selalu sama. Pola perekrutan anggota ISIS di Indonesia melalui pemberian gaji yang jauh lebih besar," ujarnya saat memberi materi dalam dialog pencegahan terorisme di Asrama Haji Tanjungpinang, Jumat.
BNPT berhasil mengungkap calon anggota dijanjikan mendapat gaji sebesar Rp52 juta jika bergabung dengan ISIS di Indonesia. Jika membawa keluarga, maka ISIS akan membayar gaji mencapai Rp100 juta.
"Ini pendekatan ekonomi, dan dimotivasi dengan pendekatan agama," ujarnya.
Dia menjelaskan baru-baru ini ISIS berhasil merekrut seorang warga di Jawa Barat. Orang tersebut sudah menjual rumah, tanah dan aset lainnya untuk bergabung dengan ISIS di Irak.
Bahkan orang itu juga membawa anaknya yang masih berusia 5 tahun ke Irak. Namun setelah beberapa hari di Irak, orang tersebut beserta anaknya ditangkap.
"Untung saja dipulangkan ke Indonesia. Orang itu kini kesulitan ekonomi," ucapnya.
Sementara pola perekrutan ISIS di negara maju melalui pendekatan "heroisme". Perekrut memberi doktrin agar orang-orang yang direkrut menjadi pahlawan.
"Ada juga perekrutan dengan cara murni karena ibadah. Pemahaman agama yang salah membuat orang-orang yang terperdaya mengikutinya," katanya.
Hamidin menjelaskan ISIS juga melakukan propaganda melalui media sosial. Saat ini ada sekitar 9.800 website yang berhubungan dengan terorisme.
Jumlah website ini mengalami peningkatan yang tinggi dalam 12 tahun terakhir. Karena itu, para pengguna internet harus berhati-hati dalam menggunakan internet.
"Usia yang rentan mengikuti paham itu 21-30 tahun, tamat SMA 63 persen. Itu hasil penelitian para ahli," katanya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : Niko Panama
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
