Logo Header Antaranews Kepri

Batam Belum Miliki Data Daerah Rawan Bencana

Rabu, 24 Februari 2016 00:11 WIB
Image Print
BPBD umurnya masih satu tahun, masalah bencana sebelumnya ditangani lintas dinas. Sekarang kami sedang mengkoordinasikan mana-mana saja daerah yang rawan bencana

Batam (Antara Kepri) - Pemerintah Kota Batam Kepulauan Riau hingga kini belum memiliki data daerah rawan bencana, meskipun kerap tertimpa musibah puting beliung, angin kencang, banjir rob hingga longsor.

"BPBD umurnya masih satu tahun, masalah bencana sebelumnya ditangani lintas dinas. Sekarang kami sedang mengkoordinasikan mana-mana saja daerah yang rawan bencana," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batam, Raja Azman di Batam, Selasa.

Pemkot masih akan mengumpulkan data rawan bencana dari petugas kecamatan, kelurahan, Dinas Tata Kota dan aparatur pemerintah lainnya, demi keperluan siaga dan antisipasi bencana.

Kini BPBD baru mendata 24 titik rawan longsor di Pulau Utama.

Di Pulau Utama, kata dia, beberapa bencana yang rawan terjadi di antaranya angin kencang dan gelombang laut pasang, longsor dan banjir.

"Di pulau hinterland rawan abrasi," kata dia.

Selain menetapkan lokasi rawan bencana, BPBD juga akan memperhitungkan luas kerusakan yang bisa terjadi akibat bencana di tiap tempat, dampaknya pada masyarakat sejauh dan faktor lainnya.

"Jadi harus lengkap dan terukur semua. Seperti kemarin di Seraya itu, memang potensi longsor tapi belum diketahui volume kerusakan bisa sebesar apa kira-kira, terus dampaknya bagaimana," katanya.

Setelah data terkumpul, BPBD akan menyusun Buku Panduan Bencana untuk pelajar.

Mengenai rawan longsor di Seraya, ia mengatakan BPBD sudah memasang papan tanda bahaya, agar masyarakat hati-hati saat melintasi jalan di atas bukit itu.

"Untuk di Seraya sudah kami pasang tanda. Sedangkan untuk pembetulan jalan ditangani BP Kawasan Batam," katanya.

"Sebenarnya kami tidak memiliki dana, tapi kami optimalkan yang ada," katanya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026