
LIPI Sarankan Sawah Lingga Berkonsep Pertanaman Ganda

Hama tidak selalu harus dibasmi, lebih baik dikendalikan. Konsep pertanian terpadu perlu diterapkan pada petanian padi di Lingga
Lingga (Antara Kepri) - Pakar ilmu pertanian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Sarjiya Antonius menyarankan konsep pertanian sawah di Lingga menggunakan konsep pertanaman ganda (Multiple Cropping), guna menghindari gagal panen akibat serangan hama.
"Hama tidak selalu harus dibasmi, lebih baik dikendalikan. Konsep pertanian terpadu perlu diterapkan pada petanian padi di Lingga," kata dia yang dihubungi dari Lingga, Senin.
Menurutnya, serangan hama walang sangit dan belalang pada tanaman padi tahap lanjutan di sawah percontohan Desa Sungai Besar cukup wajar. Karena hamparan sawah tersebut baru dibuka dengan mengubah lahan yang sebulumnya hutan menjadi hamparan sawah.
Hal itu menyebabkan berbagai jenis binatang termasuk serangga kehilangan inangnya dan menyerang hamparan padi untuk mendapatkan makanan.
"Hutan ini yang awalnya heterogen atau multi kultur, tiba-tiba berubah jadi hamparan padi. Serangga yang tadinya hidup di hutan, berpindah dan bertumpu di tanaman yang single cropping ini," ungkapnya.
Untuk mengubah kondisi itu, menurut Anton, harus diterapkan konsep pengendalian secara terpadu, yang diajarkan dan dikembangkan oleh petani setempat.
"Petani Lingga belum memiliki banyak pengalaman. Butuh jam terbang untuk menjadi profesional. Konsep pengembangan pertanian berbasis lingkugan akan sangat baik jika diterapkan di Lingga," tuturnya.
Dia menyarankan, petani tidak mengandalkan bahan kimia terlebih dulu untuk mengatasi masalah hama pada lahan perawan yang dimiliki Lingga.
Beberapa cara lain layak dicoba untuk mengendalikan hama tanaman tersebut, salah satunya dengan sistem Mulitple Cropping.
Sistem Multiple Cropping yang ia maksud, adalah dengan membangun tanaman lain di dalam hamparan yang sama, sebagai pengalih perhatian hama dari tanaman padi tersebut. Hal seperti ini telah diterapkan diberbagai daerah penggiat pertanian organik.
"Sistem Multiple Cropping ini sifatnya heterogen. Jadi pada hamparan lahan ini ada tanaman padi, kemudian diselingi Kedelai, diselingi lagi tanaman Jagung dan sebagainya," terangnya.
Selain itu, pupuk organik hayati (POH) yang dikembangkan LIPI dan telah dibawa ke Lingga untuk diterapkan pada lahan-lahan pertanian di Lingga, akan sangat membantu tanaman terhindar dari resiko serangan hama.
Selain sebagai penambah nutrisi tanaman, kesuburan tanah dan tanaman, pupuk organik tersebut juga mampu memberikan efek jera kepada hama tanaman dan memperkecil resiko gagal panen.
Hanya saja, ia belum mengetahui apakah pupuk beserta mesin pembuat pupuk jenis POH itu telah dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah Kabupaten Lingga.
"Saya tidak tahu apakan sudah digunakan secara optimal. Kalau itu dioptimalkan, pupuk organik hayati itu juga mampu menurunkan resiko tanaman terserang hama," ujarnya.
Sementara pola pengendalian hama lainnya, dikatakan Anton, dengan cara trapping seperti yang diterapkan petani-petani di pulau Jawa.
"Bisa dengan cahaya lampu. Belalang atau beberapa jenis hama padi biasanya menyukai cahaya lampu. Ini sudah diterapkan petani Jawa. Kalau di situ (Sungai Besar) kan masih gelap, bisa jadi ini langkah efektif," terangnya.
Banyak upaya yang bisa dilakukan oleh petani Lingga guna menghindari tanaman terserang hama. Dan LIPI, tambahnya, sangat mendukung suksesnya pertanian di Kabupaten betanah perawan tersebut.
"Saya pikir harus ada tim khusus yang bisa mengawal kerjasama teknologi pertanian yang dimiliki LIPI ini. Mestinya pemerintah daerah melalui dinas terkait, meyediakan tenaga itu," tambahnya.
Terlepas dari hal tersebut, Anton mengaku dirinya cukup optimis Lingga mampu menjadi daerah pertanian organik kedepan. Hasil produksi yang menurun karena diserang hama padi itu, akan menjadi pengalaman yang baik bagi Lingga dalam memanajemen resiko kegagalan berikutnya. (Antara)
Editor: Evy R Syamsir
Pewarta : Ardhi
Editor:
Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2026
